
Arka menyamarkan suara langkahnya. Dugaannya ternyata benar, Rana ada di sini. Duduk sendiri memeluk lutut dan menyembuhkan kepalanya. Bersandar di pagar rooftop dengan punggung bergetar karena isakan tangis.
Arka menghentikan langkahnya. Rahangnya semakin mengatup rapat. Ia kemudian memejamkan kedua matanya, berusaha menetralkan gejolak emosi yang nyaris membunuhnya. Sekarang, daripada mencari pelaku dari pembulian ini, keadaan Rana adalah yang terpenting baginya. Paling penting di atas segalanya.
"Ra," ucap cowok itu setelah membuka matanya.
Rana yang tadinya merasa sendiri terkejut mendengar suara Arka yang tiba-tiba ada di sini. Ia segera menghapus air matanya dan berdiri dari duduknya dengan kedua tangan di belakang sebab berusaha menyembunyikan kertas ulangan bahasa Indonesia miliknya. Nilai itu terlampau memalukan untuk dilihat oleh Arka.
Arka melangkahkan kakinya maju. Merasa hatinya seolah teriris sebab melihat keadaan Rana yang semenyedihkan ini.
Rana yang sejujurnya ingin sendiri, justru sedikit demi sedikit mundur tak ingin Arka melihat semua bukti dari kebodohan otaknya. Tapi kakinya terhenti sebab sudah menyentuh sisi pagar rooftop.
"Gak papa, Ra. Semuanya bakal baik-baik aja," ucap Arka, was-was sekali kalau tiba-tiba Rana nekad melakukan hal-hal yang dapat membahayakan keselamatannya. Namun, dengan langkah perlahan, cowok itu tetap berjalan mendekati Rana.
"Ka," Rana menatap Arka dengan mata berkaca-kaca. "Gak ada yang baik-baik aja disini. Gue, gue gak baik-baik aja," ungkapnya tanpa warna pada wajahnya.
Rana mulai terisak. "Harus banget ya, gue diperlakuin kayak gini? Siapa sih yang pengen bodoh?! Lo gak bakal ngerti rasanya jadi gue, Ka. Lo pinter. Gak bakal ada yang ngeremehin lo atau banding-bandingin lo. Sedangkan gue? Gue udah berusaha buat nyamain kemampuan gue kayak temen-temen gue. Tapi gue gak bisa. Gak ada yang percaya kalo gue bisa, termasuk diri gue sendiri."
__ADS_1
"Gue percaya, Ra. Gue percaya kalo lo bisa. Dan lo juga harus percaya kalo di dunia ini gak ada hal yang mustahil," ucap Arka, berhasil berada tepat di hadapan Rana.
Rana menggeleng-gelengkan kepala samar, menatap cowok jakung di hadapannya. "Gue gak bakal bisa, Ka. Gue udah terlanjur nyerah sama semua angka yang harus gue capai. Lo bisa bilang gitu, karena lo gak tau serendah apa nilai-nilai gue sela ...."
"Sstt ..." Arka tiba-tiba mendekap tubuh Rana. Menghentikan kalimat gadis itu.
Kedua netra Rana langsung membulat. Merasakan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Bibirnya tak sanggup berkata apa-apa. Mendengar detak jantung Arka yang sama cepatnya.
"Gak papa. It's okay, nilai itu cuma sebuah angka." Arka mengelus-elus rambut Rana berusaha menenangkan.
"Cuma sebuah angka yang bisa ngebuat hidup Rana hancur maksud Arka?" tanya Rana menengadah pada cowok jakung yang tengah menyekapnya. Seketika luluh oleh dekapan cowok itu.
"... Semua orang punya kelebihannya masing-masing. Kita nggak bisa menilai kehebatan ikan berdasarkan setinggi apa dia bisa memanjat. Kita nggak bisa menilai kehebatan seekor kelinci berdasarkan seberapa lincahnya ia berenang. Dan kita juga nggak bisa menilai kehebatan seekor monyet dari seberapa tingginya ia terbang. Kenapa? Karena mereka punya keahliannya masing-masing. Jadi kenapa mereka harus menghina lo kalo bakat dan kemampuan lo emang bukan di bidang akademik?" tanya cowok itu mengembangkan senyum di bibirnya, berusaha agar senyum juga terbit di bibir Rana.
Rana yang sejujurnya tidak paham dengan perkataan Arka, sebab melihat cowok itu tersenyum, akhirnya menampilkan senyumnya juga, membuang kertas yang ia genggam semendari tadi kemudian segera memeluk tubuh Arka lagi, menyandarkan kepala pada dada cowok itu dan diam-diam mencuri dengar debaran jantung yang bergetar di sana.
Senyum Arka semakin mengembang. Kedua tangannya juga memeluk tubuh Rana yang terlampau mungil bagi dirinya yang punya tinggi badan di atas rata-rata.
__ADS_1
"Emm ... jadi maksud Arka ...." Masih dalam posisi yang sama, cewek itu memecahkan kesunyian yang menenangkan di antara mereka. Ia kemudian menghela napas lemas. "Maaf, tapi Rana gak ngerti."
"Hhh,,," Bukannya merasa kecewa karena kata motifasinya tak kunjung dimengerti Rana, Arka justru mengacak-acak pucuk kepala cewek itu gemas. Sedang yang rambutnya diacak-acak hanya mengadahkan kepala dan menampilkan prengesannya, tanpa melepas kedua tangannya yang sudah terlanjur betah memeluk tubuh Arka.
"Maksud gue, Ra," Arka hendak mencoba menjelaskan. ".... Kita nggak bisa menilai kehebatan ikan cuma berdasarkan setinggi apa ikan bisa manjat, karena ikan emang gak bisa manjat. Kita juga nggak bisa menilai kehebatan kelinci berdasarkan seberapa lincah kelinci berenang, karena kelinci emang gak bisa renang. Begitu juga dengan seekor monyet yang nggak mungkin bisa terbang. Tapi kita sebagai mahluk hidup harus percaya, bahwa Tuhan menciptakan mahluknya dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing," dengan sabar, cowok itu menjelaskan semuanya secara perlahan pada Rana.
"Ikan emang gak bisa manjat, tapi dia bisa berenang sejauh apapun dia suka. Kelinci emang gak bisa berenang, tapi dia bisa melompat dengan lincah, dan monyet? Ya kali monyet terbang. Tapi semua orang pasti tau, siapa ahli panjat-memanjat yang paling hebat."
Senyum Rana semakin mengembang. Arka yang biasanya irit bicara kini dengan fasihnya mengucapkan rentetan kata nasihat padanya. Dan anehnya, ia merasa dispesialkan oleh perlakuan seperti ini.
"Dan lo, Ra ..." Arka menatap mata Rana dalam. ".... Mungkin lo emang gak pinter dalam pelajaran sekolah. Tapi gue tau, lo punya bakat masak yang layak diacungi jempol. Ra, mungkin semua orang bisa masak, tapi gak semua orang bisa meracik rasa dengan tepat. Dan gue juga baru tau, ternyata lo juga pinter gambar." Arka menghentikan ucapannya. "Makasih, Ra, atas gambaran lo kemaren. Lo ngingetin gue sama Almarhumah nyokap gue," ucapnya kemudian.
"Rana menyandarkan kembali kepalanya pada dada bidang Arka. " Iya, Arka juga jangan sedih terus. Rana pengen liat senyum Arka setiap hari," ucap gadis itu jujur sekaligus polos.
Arka hanya tersenyum menanggapi ucapan Rana. Dalam hati berjanji untuk mengabulkan permintaan gadis itu.
"Arka, apelnya udah selesai apa belum, ya?" tanya Rana. Masih betah sekali dengan posisinya. Entah sudah berapa menit yang ia lewatkan bersama Arka dengan posisi sedekat ini.
__ADS_1
"Eh, emm ... kayaknya udah selesai dari tadi deh, Ra," jawab Arka, melepas tubuh Rana dari dekapannya, kemudian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Baru sadar seintim apa posisinya dengan Rana barusan. Terlampau lama dan terlampau dekat. Seperti sepasang pasutri yang sedang berbulan madu.