
Arka sedang duduk di kursi sofa ruang tamu bersama Erlan kala seorang wanita mendatanginya dan membawakan secangkir kopi dengan kepulan asap di atasnya. Cowok itu meliriknya sejenak sebelum kembali fokus dengan bocah di pangkuannya. Ternyata bukan hanya ada Ingga di sini. Wanita di restoran tadi ternyata tinggal di rumah ini.
"Silakan, Den," ucap wanita berkisar umur 30-an itu.
"Iya. Oh ya, Mbak, boleh titip Erlan sebentar gak?" tanya Arka, berdiri dari duduknya sebab yakin perempuan itu tak akan menolak permintaannya.
Perempuan itu mengangguk, kemudian menerima bayi itu ramah sebab ia sudah terbiasa menimang Erlan.
Seperginya perempuan itu dari hadapannya, cowok itu segera memeriksa ponselnya. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Rana, juga pesan yang tak ingin ia baca sebab ia tahu itu akan membuatnya semakin merasa bersalah.
Maafin gue, Ra. Mulai detik ini, mungkin gue udah bukan Arka yang lo kenal, gumam cowok itu, dalam satu gerakan jari memblokir kontak Rana seolah cewek itu adalah pengganggu baginya. Padahal, di satu sisi, gerakan itu juga menggores hatinya. Menimbulkan kesakitan yang ia sendiri tak bisa menghapusnya.
"Ka," ucap seorang wanita mendatangi Arka dengan beberapa pakaian di tangannya. "Mandi dan ganti baju dulu. Di lemari masih ada baju-baju papa, yang ini kayaknya pas di kamu," lanjut Ingga dengan lengkungan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Arka menoleh pada cewek itu, tapi baru saja ia hendak merespon, ponselnya menampilkan nama Daniel sebagai seseorang yang menghubunginya.
"Halo?" Arka menjawab telfon itu tanpa ragu.
"Gue tungguin lo di lapangan deket sekolah gue. Jangan cemen, kita tanding satu lawan satu."
Arka masih diam berusaha mencerna ucapan Daniel. Tapi baru saja ia mau menanggapi, telfon itu sudah dimatikan duluan oleh Daniel.
"Siapa, Ka?" tanya Ingga, duduk di samping Arka. Bersamaan dengan itu, Arka justru bangkit dari duduknya. "Mau ke mana?" tanya Ingga lagi, menengadah pada cowok jakung itu.
Ingga turut berdiri dari duduknya, kemudian menyusul langkah Arka ikut tergesa. "Masih hujan loh, Ka!" ujarnya berusaha menahan Arka untuk tetap bersamanya.
Arka mengenakan jaketnya dan naik ke motornya. Cowok itu kemudian mengenakan helmnya tanpa menghiraukan Ingga yang masih mencoba membujuknya untuk tetap di rumah itu.
__ADS_1
Dengan satu kali gas, cowok itu sudah melaju kencang meninggalkan Ingga dan rumah kayu berkelas tinggi itu.
"Arka!" teriak Ingga berlomba dengan gemuruh air hujan yang menyamarkan suaranya. Tapi cewek itu kemudian tersenyum puas, seolah mengatakan pada dunia bahwa ialah pemenangnya.
...💕...
Seperginya Daniel dari rumahnya, Rana tak langsung masuk ke dalam dan membenamkan dirinya dengan selimut tebal untuk menghilangkan kedinginan. Cewek itu memilih duduk di tepi teras rumahnya. Memeluk lutut sembari menangis tersedu-sedu. Punggungnya naik-turun tanpa henti. Ia terus menangis, walau tetesan air mata itu justru semakin perih ketika membasahi pipinya.
"Arka ... Arka udah tau Rana gak punya siapa-siapa si sekolah, kenapa Arka ninggalin Ranaa?" tanyanya di antara isak tangisnya, walau ia tahu ia tak akan memperoleh jawaban saat ini juga.
"Siapa cewek itu? Harusnya malam ini jadi malam paling bahagia buat Rana. Kenapa malah kayak gini ... Arka sendiri yang udah janji, kenapa Arka sejahat ini?" Rana membenamkan dirinya dalam kesedihan. Ia tak pernah tahu, dari hari-hari menyesakkan kemarin, ternyata masih ada hari lagi di mana ia merasa lebih hancur. Luka ini adalah luka terbaik. Luka terbaik dari orang terbaik.
Kreek ..., pintu rumah itu terbuka, membuat Rana menengok ke belakang guna melihat siapa yang datang. Seorang wanita berwajah ayu tengah menatapnya dengan tanda tanya dan wajah khawatir.
__ADS_1
"Rana?"
"Mami .... Arka ninggalin Rana, Mami....!!" Dan tangis Rana semakin meledak.