
"Eh, sorry, sorry, Yo," Rana segera berjongkok, hendak membantu Dio berdiri.
"Biar gue aja," ucap Arka, langsung saja mengangkat Dio ke ranjang.
Rana mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O. Ini karena cowok jutek ini memang kuat, atau memang Dio yang kayak kapas? Sebesar apa pun tubuhnya, beratnya akan tetap sangat ringan.
"Dio? Lo gak papa, kan?" Rana berdiri dan menghampiri Dio yang sudah berbaring di ranjang ruangan itu.
Arka memalingkan wajah. Dadanya agak naik turun terengah-engah, tapi ia coba terlihat sebiasa mungkin. Mana mungkin ia membiarkan cewek menyebalkan memandangnya sebagai cowok yang lemah.
Bukannya menjawab, Dio malah menatap kagum pada Arka. "Wahh," ucapnya lirih. Sejak kapan Arka punya kekuatan super seperti sumo begini?
"Wah kenapa, Yo?" telinga Rana ternyata cukup jeli juga.
Dio hendak membuka mulut, tapi Arka langsung menatap tajam padanya, membuat ia mengkeret seketika.
"Waaaaah, wah banget ternyata lo sekolah disini juga. Kok gue baru liat sih?" Dio pintar-pintar mencari akal. Dari pada ia nanti dikuliti oleh Arka, mending ia ngeles saja.
"Oooh, gitu. Iya, soalnya gue baru masuk hari ini," kata Rana kemudian meringis, menertawakan dirinya yang bisa-bisanya sangat takut pada jarum sekecil itu. Benar-benar memalukan, untung Raja tak menertawakan.
"Eh, terus kalian kok kayaknya udah kenal? Emang udah kenal, ya?" tanya Dio menatap Arka dan Rana secara bergantian.
"Enggak!" jawab Arka dan Rana serempak. Yang satunya malu, tak mau mengingat kejadian di hari itu dan yang satunya tak suka jika ada yang tahu bahwa mereka pernah bertemu, apalagi sampai berboncengan dan mengantar pulang cewek menyebalkan itu.
"Ooo ... kalau gitu, sekarang adalah saatnya buat kalian kenalan." Tangan kanannya tiba-tiba meraih tangan mungil Rana, sedang tangan kirinya tanpa sungkan juga meraih tangan kanan Arka.
"Rana, kenalin ini Arka, Arka Airlangga. Arka, kenalin ini Rana." Dio mrenges kemudian mengaitkan Tangan Arka dan Rana sehingga bertautan.
Arka tertegun, tapi tak melawan atau pun menarik tangannya. Ia sendiri, ia sendiri tak tahu kenapa ia begini.
Kepala Rana agak mengadah, menatap lurus pria jakung di hadapannya. Tatapan pria itu dingin, namun terlihat kesepian. Terlihat kuat dan tajam, tapi juga lemah dan perlu kekuatan. Rindu, kesepian, juga kesedihan. Semuanya menjadi satu, dibalik tatapannya yang dingin dan penuh kekuasaan itu.
"Ekhm," dehem Dio menyedekapkan tangannya. Kenapa posisinya jadi seperti obat nyamuk begini? Perasaan, waktu dia berkenalan dengan Rana, cewek itu hanya sebatas bertukar senyum saja. Tidak sampai bertatap-tatapan lama begini? Dasar, seperti film ftv saja!
__ADS_1
"Eh," Rana segera menarik tangannya. Sial!! Tiba-tiba wajah Daniel langsung melayang saja di otaknya. Kenapa ia jadi merasa bersalah begini? Ini kan, kenalan biasa. Hanya kenalan! Tidak lebih, juga tidak kurang!
Arka segera memasukkan tangannya ke saku. Ditatap lama begitu, membuat ia hampir salah tingkah. Untung saja ia pandai mengatur ekspresi, cukup memalingkan wajah dan bersikap biasa saja. Masa iya, ia salting hanya gara-gara-gara cewek seaneh ini.
"Lo kok disini, Yo? Lagi sakit? Sakit apa?" tanya Rana sembari mendaratkan dirinya di kursi sebelah ranjang.
"Hehehe, Gue sakit perut Ra. Biasa, gara-gara kebanyakan makan."
"Hhh, makanya kalau mau makan banyak lo harus ngajak-ngajak gue. Elo sih, makan-makan gak ngajak gue. Kan kena karma jadinya," canda Rana akrab seolah Dio adalah temannya sejak lama. Padahal, ini baru kali kedua mereka berjumpa.
"Hahaha, bisa aja lo Ra, gimana gue mau ngajak lo? Gue kan belum punya kontak lo," ucap Dio kemudian terkekeh. Lumayanlah, bisa untuk dipamerkan kepada teman-teman se-gank-nya. Gendut-gendut begini, ia cukup menggemaskan hingga bisa menarik perhatian si cantik Rana.
"Iya juga ya. Mana Hp lo, Yo?" Rana tanpa ragu mengadahkan tangan.
Sigap, Dio langsung menyerahkan ponselnya. Ternyata tak semua cewek cantik jual mahal. Lihatlah Rana, seru dan tak pilah-pilih terhadap teman.
"Udah," ucap Rana sembari menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Oh, iya. Duh! Gue jadi kelupaan." Rana menyentuh keningnya. "Gue kan, mau bersih-beraih UKS," katanya lagi, bangkit dari duduknya.
"Kenapa? Kok bisa?"
"Lambat dateng gue, Yo, hehehe."
"Hhh, Ya udah, gue bantuin deh. Udah sembuh, gue."
Arka memutar bola mata jengah. Baru pertama masuk sekolah bisa-bisanya berangkat terlambat. Benar-benar cewek yang ceroboh.
...💕...
"Mana Rana? Belum selesai, dia?" tanya Rena setelah ia, Vira, dan Nada berkumpul di depan mading sekolah. Tempat yang telah mereka sepakati sebelumnya.
"Belum kali. Dari tadi gue disini gak liat dia," ucap Vira mengangkat bahu sekilas.
__ADS_1
"Kita susul ke UKS," ucap Rena yang langsung disetujui oleh kedua temannya.
Sampai di UKS, Vira segera mengetuk pintu ruangan itu.
"Yuuhuuuu!! Ra! Lo masih disini?!"
Tanpa menunggu jawaban, Vira langsung saja membuka pintu ruangan itu.
Kreek, pintu terbuka.
Vira terkejut.
Rana meringis.
Tapi bukan karena prengesan Rana Vira terkejut, melainkan karena teman mungilnya itu diapit oleh dua cowok. Satunya Dio, dan satunya lagi ... Arka. Jangan-kangan, dugaannya benar, Rana dan Arka memang memiliki hubungan. Hus! gak, gak, gak mungkin Rana setega itu sama Daniel. Kalau emang udah gak ada rasa, kenapa gak minta putus aja?
"Hehehe, maap. Ini baruu aja, gue selesai bersih-bersih."
"Ra, kok bisa lo ...."
"Cabut, Yo!" potong Arka kemudian melangkah pergi. Entah apa yang dipikirkan oleh adik-adik kelasnya itu, ia tak peduli. Yang penting ia bisa segera menjauh dari si cewek aneh menyebalkan. Berada disekitar cewek itu membuat ia tak bisa melupakan kesialan di hari itu. Bayangan bercak darah itu, keterlambatannya ke sekolah, dan ... sentuhan telapak tangan cewek itu. Ah! Sial! Kenapa ingatan itu masih tak bisa hilang.
"Eh, gue cabut Ra, Baay!" Dio segera menyusul Arka. Harus agak berlari karena Arka sudah jauh melangkah. Mentang-mentang tinggi! Tega sekali pada orang pendek begini. Langkahnya yang pendek-pendek, mana bisa mengimbangi langkah Arka yang panjang.
"Thanks ya, Yo!" teriak Rana melambai-lambaikan tangan ke arah Dio. Padahal, cowok itu sudah tak menoleh lagi ke arahnya.
"Kita langsung ke kelas aja."
"Iya, dari pada nanti kena hukum lagi," ucap Nada, setuju dengan perkataan Rena.
Keempat gadis itu pun berjalan bersama menuju ruang kelas mereka, kelas MIPA XA.
"Itu tadi gimana ceritanya, Ra? kok bisa Ada Arka sama Dio disana?" tanya Vira tak bisa menahan rasa penasarannya.
__ADS_1