
"Kayaknya lo udah betah banget disini deh, Nad. Gue jadi nyesel, harusnya pintunya gak perlu gue dobrak tadi," ucap Arsya menoleh pada cewek di sampingnya. "Kasian pintunya, kan rusak jadinya," ucapnya lagi, mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang sudah terlanjur bernasib naas.
"Arsyaa ... siapa sih, yang betah di dalam sini? Sendirian, gelap lagi," ucap Nada sembari menghapus air matanya yang nyaris mengering. Kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis.
"Ya buktinya, lo malah duduk lagi. Oooh ... gue punya ide, atau kita nginep aja di sini? Kita berdua ... bakal gelap-gelapan di sini sampe pagi," ucap Arsya, memberi kedipan nakal pada Nada.
"Arsya!" Nada membuang napas kasar. "Udah ah, aku udah lemes tau gak? Dari tadi teriak, nangis, tapi gak ada yang denger," sungut Nada memberengut.
" Ya udah. Gue telpon temen gue dulu, ya. Mau minta tolong," ucap Arsya, menekan tombol call pada nomor seseorang.
"Halo, Bo? Minta tolong dong, lo pinjemin kunci gerbang sekolah sama Pak Uus. Bilang, Nada abis kekunci di dalam perpus," terang Arsya langsung ke intinya pada seorang cowok cungkring yang entah sedang berada dimana.
Tuut..., setelah permintaan tolongnya disetujui oleh Kibo, Arsya tak ragu mengakhiri telfonnya. Beralih lagi memfokuskan pandangannya pada Nada.
"Loh, Sya? Terus tadi kamu masuknya gimana?" tanya Nada.
"Huh ... gue capek, Nad. Abis manjat pager yang begitu tingginya," ucap Arsya, sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Nada.
Nada meneguk salivanya pelan, memandangi wajah Arsya dari atas, tanpa diketahui cowok itu. Merasakan tubuhnya membeku beberapa saat.
Dredd ....
Ponsel Arsya bergetar.
Raden Mas Kibo
Beres...
OTW!
"Yok, Nad! Kibo udah mau ke sini. Kita langsung nungguin dia di gerbang aja." Arsya menegakkan kepalanya, kemudian beralih berjongkok membelakangi Nada. "Naik, Nad," titahnya tanpa basa-basi.
"Tadi katanya capek."
"Udah, naik aja. Udah ilang capeknya."
"Kok bisa?"
__ADS_1
"Kan udah berduaan sama lo," ucap Arsya, memberi prengesan pada cewek di belakangnya.
"Dasar!" Satu pukulan tangan langsung saja melipir ke punggung Arsya.
"Udah, naik aja. Lo capek, kan? Lemes? Kalo lo maksain jalan sendiri, entar lo pingsan, pasti makin barabe jadinya. Gue tuh cuma bawa motor, Nad, bukan mobil. Ya kali gue nyuruh Kibo megangin elo. Jadi kayak cabe-cabean kita," jelas Arsya kemudian terkekeh.
"Ya udah deh, " ucap Nada kemudian menuruti perintah Arsya, naik ke punggung cowok itu.
"Nah gini kan enak. Sekali-kali lah, Nad, kayak pilem-pilem romantis gitu," ucap Arsya setelah berdiri dari posisi jongkok nya, mulai melangkahkan kaki keluar dari ruang perpustakaan.
"Sya," panggil Nada di tengah perjalanan menuju gerbang SMA Tunas Bangsa.
"Hm...."
"Kok kamu bisa tau kalo aku di sini?" tanyanya lirih, namun terdengar jelas.
"Emm ... tadi pas pulang sekolah gue nanyain lo ke Rena. Dia bilang, lo di perpustakaan. Tapi dia nyuruh gue pulang aja. Ya gue pulang, deh. Tapi terus ... tiba-tiba si Vira nelfon gue tadi, nanyain lo dimana. Dan gue punya firasat lo pasti di sini. Emang ... kok bisa sih, lo di perpustakaan sampe selarut ini?" tanya Arsya kemudian, yakin sekali bahwa ini adalah jebakan seseorang.
"Tadi pas pulang sekolah, katanya Bu Irma nyuruh aku buat bersih-bersih perpus."
"Bella."
Arsya membuang napas kasar. Sepertinya Bella benar-benar mencari mati. "Ya udah, besok kita periksa CCTV aja. Gue curiga lo emang dijebak."
"He em." Dibelakangnya, Nada hanya mengangguk-angguk lemas, menyandarkan kepalanya pada punggung cowok itu.
"Sya! Cepetan! Nyokap gue udah nelpon terus, nyuruh gue pulang!" teriak Kibo dari arah gerbang.
"Yoi!" balas Arsya berteriak pula, walau tanpa mempercepat langkahnya sebab sebenarnya jarak mereka tak terlampau jauh. Kibo saja yang alay.
Nada hanya menghela napas semakin lemas. Pasti bapak dan ibuknya juga sedang mengkhawatirkannya.
"Ya udah ya, gue cabut duluan," ucap Kibo setelah mengunci kembali pintu gerbang, kemudian menyalakan kendaraan beroda dua miliknya.
"Duh, Nad, kayaknya lo harus diet lagi deh. Keliatannya kurus, eh ternyata berat juga," ucap Arsya setelah menurunkan Nada hingga berdiri tepat di sampingnya.
"Tuh kan ... tadi kan aku udah bilang, kalau capek ya gak usah," sungut Nada memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Hehehe, enggak kok. Apa sih yang enggak buat lo, Nad?" ucap Arsya sembari menaiki motornya, sejurus kemudian mengenakan helmnya.
Nada hanya menghela napas. "Terserah kamu, deh," ucapnya kemudian.
"Hhh ... nih, pake." Arsya menyodorkan helm pada Nada, yang tak butuh waktu lama segera diterima dan dikenakan oleh cewek itu.
"Yuk!" ucap Nada setelah naik ke motor Arsya.
"Ayuuuuk!" seru Arsya menyalakan motornya, kemudian meraih kedua tangan Nada yang terparkir di atas kedua lutut cewek itu, dan melingkarkannya ke pinggangnya.
Dibelakang, Nada hanya tersenyum simpul, kemudian merekatkan pegangannya pada cowok di hadapannya.
Motor terus melaju. Tanpa kata, kedua remaja itu menikmati waktu bersama. Mengembangkan senyum dan merasakan debar jantung yang sama.
"Eh, kok tiba-tiba hujan ya, Nad," ucap Arsya, sebab merasakan guyuran air yang datang secara tiba-tiba.
"Iya, ya," timpal Nada, berlindung di balik punggung Arsya.
"Berhenti dulu aja, ya. Gue gak mau lo sakit," ucap Arsya kemudian membelokkan motornya pada sebuah pos di pinggir jalan.
Setelah memarkirkan motornya di depan pos, Arsya dan Nada segera segera turun dan berteduh di bawah pos. Duduk bersampingan memandangi rintik hujan yang rasanya semakin deras saja.
"Dingin, Nad?" ucap Arsya sembari melepas jaketnya dan mengenakannya pada punggung Nada.
Nada hanya tertunduk dan mengangguk. Kedua tangannya merekatkan jaket Arsya guna menghangatkan tubuhnya. Berdua saja dengan Arsya di jam selarut ini tentu saja membuatnya sedikit was-was. Bagaimana pun juga, cowok itu terkenal sekali dengan kebebalannya di sekolah.
Walau jujur ... ada rasa nyaman yang tiba-tiba menyeludup di hati kecilnya.
"Nad," panggil Arsya menoleh pada cewek di sampingnya.
Nada yang dipanggil, menoleh membalas panggilan Arsya. Merasakan raut dan tatapan Arsya yang tak seperti biasanya. Membuat debar jantungnya semakin menjadi-jadi.
"Gue suka sama lo dari kita SMP," ungkap Arsya pada akhirnya.
"Hhh ... Arsya! Jangan becanda soal beginian." Nada bangkit dari duduknya, mengalihkan pandangannya dari Arsya. Ia sendiri tak tahu mengapa ia bersikap begini. Entah karena ingin menghindari, atau takut jika dirinya hanya akan menjadi permainan bagi Arsya.
"Nad ...." Arsya berdiri dari duduknya, kemudian beralih berdiri di hadapan Nada. ".... Gue serius, dan gue gak pernah seserius ini," ucapnya, menatap mata cewek di hadapannya dalam, kemudian kedua tangannya menyentuh kedua bahu Nada.
__ADS_1