
"Gimana, Ka, keadaan lo?" tanya Daniel sudah berada di sebelah ranjang Arka. Sedang yang diajak bicaranya malah melengkungkan bibirnya tanpa jawaban langsung. Tersenyum tulus walau ia jarang melakukannya.
"Thank's, ya," ucap Arka, tak disangka-sangka justru menyodorkan tangan kanannya. Menawarkan sebuah pertemanan pada Daniel. Sebab ia tahu, seseorang seperti Daniel tak layak untuk dijadikan sebagai seorang musuh.
Daniel tersenyum menanggapi, kemudian tanpa pertimbangan lagi segera menyambut uluran tangan Arka dengan akrab.
"Gue titip Rana," ucap Daniel kemudian.
Arka tersenyum tipis. "Gak perlu dititipin juga, gue bakal jagain, kok," ucapnya kemudian.
"Kayaknya songong itu emang bawaan lo dari lahir, ya," ucap Daniel kemudian tertawa, begitu pula dengan cowok yang diajak bicaranya.
...💕...
__ADS_1
Hampir terlihat seperti iring-iringan calon mempelai pengantin. Mobil itu melaju diikuti rombongan di belakangnya. Bedanya, kali ini yang mengiring adalah anak-anak geng motor yang tengah mengawal ketua mereka di dalam mobil itu.
Sedang di dalam mobil ....
"Aduuuh ... papa kamu ini bener-bener deh ... anaknya masuk rumah sakit malah tetep sibuk aja. Sampai sekarang belum pulang kerja," celoteh Sarah yang duduk di samping supirnya. Sesekali menoleh ke belakang memastikan keadaan Arka.
Di belakang, Arka hanya melemparkan pandangannya ke jendela. Seperti biasa, malas mendengarkan istri ayahnya yang cerewet sekali ini. Andai ia boleh berkata, ia akan mengatakan pada wanita itu bahwa ocehannya justru membuat keadaannya semakin tidak baik-baik saja.
Di sebelah Arka, Rana mengamati cowok itu. Benar kata tante Sarah, Arka belum bisa menerima kehadiran wanita itu sebagai ibunya. Dan cukup dengan mengetahuinya, itu sudah membuat Rana bisa merasakan kepedihan tante Sarah.
"Ya pokoknya sibuk banget, Ra. Paling-paling yaa. .. full di rumahnya cuma hari minggu."
Obrolan demi obrolan pun berlalu. Kedua perempuan itu menciptakan suasana di dalam mobil yang tanpa hening. Sampai akhirnya, mereka telah sampai di kediaman keluarga Rangga Airlangga.
__ADS_1
"Eh, kalian semua mampir dulu, yuk! Perasaan, dari dulu gak ada tuh, temen Arka yang main ke rumah. Yaa ... paling-paling cuma Rana. Itu pun Tante yang maksa," tawar Sarah setelah turun dari mobil. Rana yang merasa disebut-sebut, jadi garuk-garuk leher malu sendiri.
"Kapan-kapan aja, Tan. Udah malem soalnya. Takut ganggu," ucap Arsya ngeles. Rasanya merinding membayangkan jika mereka nantinya akan bertemu dengan ayahnya Arka. Melihat Arka yang bonyok-bonyok setelah membuat masalah saja, sudah cukup membuatnya ngeri. Ia tak perlu merasakannya bukan? Bapaknya saja tak segalak itu.
"Loh ... ya gak ngerepotin lah. Apanya yang repot coba? Paling-paling nanti kalian cuma Tante kasih minum air putih," gurau Sarah kemudian tertawa.
Arka hanya bisa memalingkan wajah.
Di sebelah Arka, Rana ikut tersenyum.
"Duh, gimana ya, Tan. Soalnya kita takut aja kalo entar dicariin sama orang tua," ucap Arsya pintar sekali mencari alasan lain.
"Oh ... gitu, ya?" ucap Sarah lemas. "Ya udah, deh. Tapi lain kali mampir ke rumah, ya?"
__ADS_1
"Siap, Tante! Ya udah, mari, Tan," ucap Arsya kemudian berlalu dengan kendaraan roda duanya, diikuti pula oleh teman-temannya yang lain.
"Ra, kamu di sini dulu, ya. Nanti Tante telfon mami kamu," ucap Sarah beralih lagi pada Rana.