
"Rey? Kenapa, Rey?"
"Eh, nggak, kok." Rena mengalihkan perhatiannya lagi pada Andra. Lagipula, cowok itu hanya berdiri di sana sejenak, bertukar pandang dengannya selama kurang lebih 3 detik, kemudian berlalu begitu saja. Seolah tak sadar sudah membuat gadis yang bertukar pandang dengannya ini nyaris kehilangan kesetabilan detak jantung.
"Ya udah, yuk!" ajak Andra lagi, masih mengulurkan tangannya di depan Rena.
"Yuk!" tanpa fikir panjang lagi, Rena segera menyambut uluran tangan itu dan berdiri dari duduknya. Tapi setelah itu, ketika ia hendak melepaskan tangannya dari tangan Andra, cowok itu justru menahannya, kemudian mengisi sela-sela jemarinya dengan jari-jemari cowok itu.
"Lo gak punya cowok kan, Rey?" tanya Andra nyaris membuat Rena terjingkat tak menyangka.
"E-nggak." Entah mengapa, Rena ingin menarik tangannya, tapi ia justru dibuat terpaku oleh tatap mata cowok itu.
"Ya udah, yuk!" ajaknya selanjutnya.
Kedua remaja itu berjalan bergandengan menuju parkiran. Hanya bergandengan. Keduanya sama sekali tak menyuarakan sepatah kata pun. Dan yang ada dalam fikiran Rena saat ini adalah, ia bingung. Bingung mengartikan perlakuan Andra padanya.
sesampai di parkiran, Rena spontan menghembuskan napas lega. Menyadari parkiran benar-benar sepi. Menyisakan motor Andra yang terparkir sendiri.
__ADS_1
"Rey, kalau nanti malem bisa, kan?" tanya Andra tiba-tiba, setengah menghentikan Rana tepat di depan gerbang megah rumah cewek itu.
Rena yang baru saja turun dari motor, lagi-lagi dibuat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Andra dari bibirnya.
"Emm ... kalau besok malem aja gimana, Ndra? Gua agak ... kecapekan," ucapnya sedikit canggung.
Andra menarik kedua sudut bibirnya tersenyum. "Gak papa. Yang penting jadi, kan?"
💕
Bagaimana caranya ia bisa menjawab semua persoalan kehidupan ini? Dari satu sampai sepuluh, jangankan bisa menjawab, mengerti arah pembahasan soalnya saja ia tidak. Untung saja, Arkanya sangat sayang padanya. Jadi selalu sabar menjadi guru privatnya. Hehe.
"Bu, saya sudah selesai mengerjakan soalnya. Kalau saya izin ke toilet, boleh gak, Bu?" ucap cewek pendiam itu memecah keheningan. Menarik semua perhatian terpusat padanya.
"Boleh saja, Nada. Silakan kumpul tugas kamu dan kamu sudah diizinkan keluar dari kelas."
Usai mendengar persetujuan itu Nada segera berdiri dari duduknya untuk mengumpulkan kertas di tangannya. Tapi, tiba-tiba cewek di sebelahnya menahan pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Nad, gue temenin, ya?" pinta Rana memasang wajah memelas, sebab ia punya rencana untuk segera menemui Arka dan meminta bantuan cowok itu untuk kertas menyebalkan di hadapannya.
"Eh, emm ... kayaknya aku sendirian aja deh, Ra," jawab Nada terlihat sedikit menimbang-nimbang.
Rana menghela napas. "Ya udah deh," ucapnya penuh keputusasaan, sembari melepaskan tangannya yang sebelumnya menahan tangan Nada.
1 menit ....
2 menit ....
3 menit ....
Kertas di hadapan cewek itu masih belum tersentuh juga. Diliriknya Rena dan Vira yang tengah khusyuk sekali mengerjakan soal mereka. Sepertinya, ia benar-benar harus meminta bantuan Arka.
"Aw! Duh ...." Dengan menggerang seolah sedang kesakitan, cewek itu memulai aksi sandiwaranya. Tak cuma itu, kedua tangannya juga mengurut-urut perutnya. Khusyuk sekali mempraktekkan seseorang yang sedang sakit perut.
"Ra! Lo kenapa, Ra?!" Vira buru-buru mengalihkan semua perhatiannya pada cewek itu. Begitu pula dengan semua orang yang ada di kelas.
__ADS_1