The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tohokan Sempurna


__ADS_3

"Rame banget madingnya, Vir. Ada gosip baru, ya?" tanya Rana.


"Emm ... iya kali, Ra. Gue malah gak tau nih." Vira mengeluarkan ponselnya."Semalem soalnya gue ngelembur demi kemajuan peternakan buaya jantan gue. Hehe." Ia kemudian membuka grup PRGSTB-nya.


Rana ikut mepet ke Vira. Mengintip isi grup yang tentu tak mencantumkan dirinya itu.


"Ra?" Netra Vira seketika dibuat membola. Keadaan sudah separah ini, kenapa ia sampai tak tahu?


Rana ikut membulatkan mata. Sembari menutup mulut dengan tangan tak menyangka.


"Kita harus ke rumah Rena, Ra," ucap Vira memutuskan.


"Telpon Nada dulu, Vir. Kita ke sana bareng-bareng," usul Rana bersamaan dengan datangnya Arka dan Dio dari belakang mereka.


Vira melaksanakan usulan Rana. Menghubungi Nada melalui ponselnya.


Panggilan Ditolak


Rana dan Vira saling memandang, kemudian menggeleng pelan.


"Ada apa, Ra?" tanya Arka mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Ka, Yo, kita ke rumah Rena sekarang."


...💕...


"Rame banget, Vir," ucap Rana sesampainya mereka tepat di depan gerbang rumah Rena yang kini sudah dibuka selebar mungkin. Menampilkan jajaran kendaraan yang diparkirkan sembarang di halaman yang luas. Sepertinya, di dalam, ayahnya Rena sedang berusaha mengklarifikasi permasalahan itu.


"Tunggu aja ato gimana nih, Ra?" ucap Vira turun dari motor Dio.


Rana ikut turun dari motor Arka. "Gue telpon aja dulu deh," ucap cewek itu kemudian, seraya mengeluarkan ponselnya.


"Diangkat," terangnya setelah Rena mengangkat panggilannya.


"Rey? Kita udah di rumah lo ini."


"Sama siapa aja?" Rena akhirnya bersuara juga, walau dengan suara seraknya.


"Vira, Arka, sama Dio," jawab Rana setelah melirik orang-orang di sekitarnya.


"Sama Vira aja. Lewat samping. Langsung aja ke taman belakang."


"Oke."

__ADS_1


Rana mematikan saluran telponnya kemudian berkata. "Ka, Yo, kalian tunggu sini dulu, ya."


"Bisa, Ra?" tanya Vira antusias.


Rana manggut-manggut. Kemudian, kedua remaja gadis itu segera berjalan menuju tempat yang dipinta Rena. Melewati jalur yang jarang dilewati orang-orang. Untung saja, mereka sudah sering menjelajahi rumah megah ini.


Sesampainya mereka di taman belakang, ternyata Rena sudah berada di sana. Berdiri memunggungi mereka dengan kepala tertunduk. Memandangi air kolam yang jernih dan tenang. Jauh dari definisi keadaannya saat ini.


"Rey," panggil Rana pelan, setelah ia dan Vira memberhentikan langkah mereka tepat di belakang sahabat mereka itu. Sedang Vira yang biasanya heboh, kini malah tak bersuara. Entah mengapa, tapi ia merasa gelisah.


"Gue gak nyangka, Ra, ternyata di persahabatan kita yang udah bertahun-tahun ini ada satu orang penghianat," ujar Rena sarkastis, tanpa membalikkan badan.


"Maksud lo, Rey?" tanya Rana tak paham. Langsung beralih ke samping Rena dan menyentuh pundak cewek itu.


Sedangkan Vira, gadis itu spontan menutup mulutnya rapat. Benar saja tertohok oleh perkataan sindiran Rena. Jangan-jangan, dia pernah keceplosan mengenai masalah keluarga Rena kepada rekan-rekan gosipnya.


Tanpa memberikan jawaban Rena lantas membalikkan badan menatap Vira. Penuh tuduhan yang sudah pasti meyakinkan.


"Vir, gue mikirnya mulut lo gak bakal seember itu," ucap Rena langsung saja. Tak perlu memberi isyarat-isyarat lagi. "Naumy yang bilang. Elo kan, yang nyeritain berantaknya keluarga gue ke dia?!"


Bibir Vira seketika terasa kelu. "Gu-gue...."

__ADS_1


__ADS_2