
Malam telah tiba. Detik ini ia sudah benar-benar menepati janjinya setelah ajakan cowok di hadapannya yang sudah sekian lama. Acara makan malam yang cukup istimewa sebab biasanya Andra hanya akan mengajaknya mampir ke warung pecel lele atau mie ayam di pinggir jalan kala mereka sedang bekerja sama mempersiapkan kelancaran acara lomba persahabatan di hari lalu.
Ya, kali ini Andra mengajaknya ke tempat yang lebih mewah. Walau tentu tak semewah tempat-tempat pada acara makan malam yang biasanya dipilih oleh keluarganya. Lagipula, kalau saja Andra melakukan hal itu, bukankah itu sangat berlebihan? Toh, ini hanya sebagai ungkapan terimakasih dari ketua OSIS itu.
"Gimana, Rey? Enak, gak? Gue sampe rela-rela lho, bongkar celengan demi ngajak lo diner di sini," gurau Andra luwes seperti biasanya. Sejak tadi sudut bibir cowok itu terangkat terus. Terlihat sangat menikmati momen mereka kali ini.
"Eh, yang bener lo? Dih, Andra, gue jadi ngerasa bersalah tau!" gerutu Rena tentu sudah tak judes bila bersama cowok ini. Dibuat sibuk kesana-kemari oleh rencana mereka berdua, mana mungkin ia bisa betah memasang wajah dingin sedang cowok itu tak pernah pelit selalu menyunggingkan senyuman lengkap dengan kedua cekungan di pipinya.
"Dih, bener lho, Rey. Pokoknya lo harus tanggung jawab kalo abis ini lo bikin ati gue kecewa," ucap cowok itu santai sekali, kemudian menjejalkan sepotong daging kecil ke dalam mulutnya.
"Eh?" Rena seketika dibuat tergeming oleh ucapan Andra. "Kecewa kenapa, Ndra?" tanya cewek itu sedikit was-was.
Masalahnya, akhir-akhir ini Andra seperti sedang memperlakukannya secara berbeda. Berbeda dalam artian spesial. Bukannya ia kegeeran, tapi rasanya memang seperti itu.
"Gue mau nembak lo," jawab Andra setelah sukses mengunyah habis daging di mulutnya.
"Hahaha,,," Dalam keadaan seperti ini, yang bisa dilakukan Rena adalah tertawa lepas. Berusaha sebisa mungkin meyakinkan dirinya bahwa ucapan Andra barusan adalah candaan belaka.
"Gua serius, Rey." Andra menyentuh punggung tangan Rena dengan telapak tangannya. Menatap mata gadis itu lekat. "Lo mau kan, jadi pacar gue?"
__ADS_1
Rena sontak menghentikan tawa dustanya. Ia balas menatap Andra. "Tapi gue belum siap, Ndra," jawabnya tak mungkin lagi berdusta.
"Kapanpun lo siap, gue bakal tetep nunggu. Tapi, please, setelah ini jangan jauhi gue."
...💕...
"Mi, Rana pamit, ya," ucap Rana setelah menuruni anak tangga dari kamarnya, langsung mencium tangan maminya.
"Loh, nggak sarapan dulu?" tanya mami masih menggamit tangan cewek itu.
"Nggak, Mi. Rana udah kenyang," jawab Rana lemas. Sebenarnya, ini hanyalah upayanya untuk sementara waktu menghindari Arka. Kalau ia berangkat sekolah lebih awal, setidaknya ia bisa diantar pak Budi saja.
"Ha? Kenyang? Setau Mami, dari tadi malem kamu belum makan. Kamu makan apa?" Puspa jelas menyangkal jawaban anaknya.
"Rana lagi diet, Mamii ... Rana pengen punya body langsing dan seksi kayak model-model yang ada di Tv," dalih Rana walau terdengar lemas sekali.
"Ih, Rana bisa aja ... Model yang ada di Tv kan tinggi ya, Ra. Kamu yakin bisa kayak mereka?"
"Mamiii ... udah ah, Mi," ucap Rana kemudian berlalu saja malas sekali menanggapi maminya yang tumben-tumbenan cerewet sekali.
__ADS_1
Kreek .... Dengan malas, gadis itu membuka pintu rumahnya.
Dan kini, ia dibuat lebih lemas lagi sebab dari sini ia sudah bisa melihat Arka yang sedang berbincang-bincang dengan Pak Budi. Duduk berdua di pos penjaga. Huh, malang sekali nasibnya. Padahal demi menghindari cowok itu ia tadi sampai rela-rela bangun lebih pagi.
"Lho, itu Non Rana, Mas," tunjuk pak Budi mendapati anak majikannya yang baru saja membuka pintu rumah.
"Oh, iya, Pak. Kalo gitu saya langsung ke sana aja," ucap Arka kemudian segera masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai kendaraan ber-roda empat itu menuju depan teras rumah Rana.
"Paagi, Raa ..," sapa cowok itu setelah keluar mobil dan terburu membukakan pintu untuk Rana.
Rana menghela napas panjang. Harusnya ia baper, jika saja kepalanya kejedot dan amnesia hingga melupakan kejadian kemarin, dimana Arka menjauh sekali darinya hanya untuk mengangkat telfon dari nomor tak dikenal itu. Tapi tidak, ia tentu masih mengingat dengan jelas mengenai hal itu.
"Pagi juga," jawab Rana pada akhirnya. Masih dengan wajah tak bergairah-nya.
"Tumben pake mobil," ucap gadis itu setelah mobil Arka baru saja keluar dari area pelataran rumahnya.
"Iya. Biar kamu gak kepanasan," kata Arka sembari menyetir mobilnya. Ujung matanya sedikit melirik pada wajah Rana. Sepertinya gadis itu masih dalam mood yang buruk.
Kira-kira kapan ya, Rana selesai mens-nya?
__ADS_1
Rana tak mengatakan apa-apa lagi. Dalam diamnya, matanya terus memandangi ponsel Arka yang tergeletak begitu saja di hadapannya. Benar-benar menggoda untuk diselidiki.
"Ka," panggilnya sudah tak mampu menahan rasa penasaran lagi.