
"Ra, kamu gak papa, kan?" tanya Arka khawatir, setelah terburu-buru berlari menghampiri Rana yang terjatuh.
Tak ada jawaban. Dengan posisi terduduk Rana menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Malu abis! Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri atas semua kebodohan ini. Dasar Rana goblog! Ngapain juga lo pake acara jatoh segala, an**r!!
"Ra, are you okay?" tanya Arka lagi. Tapi kemudian tanpa menunggu jawaban, cowok itu segera menggendong Rana. Dengan langkah panjang membawa Rana ke UKS. Meninggalkan seorang cewek murid baru yang menatap kepergian dirinya dengan tanda tanya besar.
Sesampainya di UKS, Arka segera membaringkan Rana di ranjang ruangan itu. Sedang Rana yang sudah terlampau malu, masih menutupi wajahnya rapat.
Anj*r! Siapa sih, tuh cewek?! Gua sumpahin tuh cewek abis ini jatoh terus kepalanya kejedok lantai biar sekalian amnesia terus ngelupain kegantengan Arka!
"Ra?" panggil Arka sembari menyentuh kedua tangan Rana yang menutupi wajahnya. Dengan perlahan, ia mencoba mengalihkannya dari wajah Rana.
Rana masih sama sekali tak memberi jawaban. Ia juga sebal dengan Arka. Kenapa juga coba, dia ngobrol-ngobrol sama cewek lain di belakang gue? Dia pikir gue gak bakal tau apa?! Dumelnya dalam hati. Tapi kemudian ....
Cup....
Satu kecupan singkat mendarat di kening cewek itu. Kecupan yang sukses menghentikan omelannya dalam hati. Juga sukses melemaskan tangannya untuk kemudian dialihkan dari wajahnya oleh Arka.
"Kamu gak papa kan, Ra?" Dengan posisi yang amat dekat dengan wajah Rana cowok itu melayangkan pertanyaannya.
__ADS_1
Sedetik, dua detik, tiga detik, pipi Rana merona. Tapi kemudian, cewek itu segera memalingkan wajahnya.
"Cuma keseleo dikit," jawabnya sedikit ketus tak seperti biasanya.
"Ya udah, aku urut-urut sedikit, ya," ucap Arka kemudian mengambil minyak urut dan mulai mengerjakan hal yang cukup ia kuasai sebab dulunya ia dan teman-temannya sering melakukan pendakian. Jadi masalah urut-mengurut kaki keseleo, tentu bukan masalah besar.
"Sakit gak, Ra?" tanya cowok itu masih mengurut-urut kaki Rana.
Rana tak memberi jawaban apa-apa. Gadis itu masih memalingkan wajahnya dari sosok Arka. Wajahnya cemberut menatap pintu UKS yang terbuka lebar menampilkan koridor sekolah yang tentunya sedang sepi sebab ini masih dalam jam pelajaran.
Arka hanya bisa menghela napas dengan sikap tak acuh Rana. Ia asing dengan sikap Rana yang seperti ini, tapi ia sungguh tak merasa telah berbuat salah secuil pun. Ia benar-benar bingung harus bagaimana.
Tok tok tok!
Napas Rana serasa tertahan. Emosinya seketika naik ke ubun-ubun. Di ambang pintu UKS, kini cewek itu berdiri sendiri dan tanpa sungkan menampilkan senyum sok cantiknya lagi.
"Kak Arka, emm ... Alea mau ngasih ...."
"Oh, iya, Alea." Arka berdiri dari duduknya. Tanpa pikir panjang segera menghampiri gadis yang disebutnya sebagai Alea itu. Ia benar-benar tak tahu, bahwa gadis yang sedang bersamanya sedari tadi kini sudah terlanjur dibakar api cemburu.
__ADS_1
"Oke. Entar gue telpon."
Usai menyelesaikan obrolan singkatnya dengan Alea, Arka kemudian menghampiri Rana dan hendak mengurut kaki cewek itu lagi.
"Udah," ketus Rana bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mengalihkan posisi kakinya yang baru saja disentuh oleh Arka.
"Ra ...."
"Aku mau langsung ke kelas," ucap Rana lagi, dalam posisi sudah berdiri di samping ranjang UKS.
"Tapi, Ra ...." Arka ikut berdiri dari duduknya.
Sama sekali tak mengacuhkan Arka. Rana melangkahkan kakinya menuju pintu UKS. Kalau ia sudah kehilangan kewarasannya, mungkin habis ini ia akan mendatangi cewek bernama Alea itu dan menjambak habis kepalanya hingga botak. Tapi yah ... ia masih waras.
"Ra!" panggil Arka lagi, menyusul langkah Rana.
Tiba-tiba Rana menghentikan langkahnya. Bukan. Bukan karena ia seketika luluh oleh Arka yang sedang mengimbangi langkahnya. Melainkan karena dia baru saja teringat oleh alasan kenapa ia mencari Arka sebelumnya.
"Ra, are you okay?" tanya cowok itu setelah meraih tangan kanan Rana.
__ADS_1
Rana menoleh pada cowok itu. Ia hanya menatap mata Arka dalam diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Andai ia cowok, ia pastikan detik ini juga akan menembak Arka agar cowok itu tak akan macam-macam lagi dengan cewek lain.
"Ka, kerjain tugas biologi Rana, ya," dan akhirnya hanya kalimat itulah yang bisa ia keluarkan dari bibirnya.