
Sekembalinya Rana ke kelas, cewek itu tak langsung mengumpulkan tugasnya yang telah dikerjakan oleh Arka.
Ya, tugas miliknya benar-benar dikerjakan sepenuhnya oleh Arka menggunakan pensil 2B mini yang ia bawa. Awalnya, cowok itu bilang ingin mengajari sembari mengerjakan alih-alih langsung menulis jawaban. Tapi Rana menolak. Alasannya? Apalagi kalau bukan bad mood karena cemburu. Tapi tentu ia tak bilang begitu.
"Ra, lo udah selesai?" tanya Vira sedikit berbisik.
Rana yang sedang berusaha meredam cemburu tapi masih mendengar pertanyaan Vira, hanya menganggukkan kepala singkat tanpa menoleh pada Vira.
Vira yang tak terbiasa mendapat jawaban sesingkat itu dari Rana hanya bisa geleng-geleng kepala heran sembari mengintip kertas yang terhampar di depan Rana. Dasar si Ngatiyem! Izinnya ke toilet padahal minta contekan ke Ayang.
Tak berselang lama Nada yang semendari tadi sengaja sekali mengosongkan bangkunya kini sudah kembali ke samping Rana dengan membawa semua rahasia ia dan Arsya. Ujung mata cewek itu melirik Rana. Tapi percuma saja, sebab Rana sama sekali tak punya waktu sedetik pun untuk mempedulikan sekelilingnya. Cewek itu sedang cemberut entah melamunkan apa.
Pelajaran berakhir. Semua tugas segera terkumpul ke meja sang Guru Biologi. Rana juga mengumpulkan tugasnya. Dan benar saja dugaannya, tak ada kecurigaan yang menggagalkan rencana penuh sialnya hari ini.
__ADS_1
"Ra, gila! Gosip panas membahana nih, Ra!" seru Vira sembari menatap layar ponselnya dengan mata membola.
"Hm?" Rana menoleh, tapi kemudian matanya terpaku juga oleh wajah cantik seorang gadis yang terpajang di layar ponsel milik Vira, di beranda chat Grup Persatuan Ratu Gosip se-SMA Tunas Bangsa (PRGSTB).
"Nama, Alea Andriana Atmadja. Pindahan kelas 10 IPA 2, dari Bandung," jelas Vira merangkum semua biodata yang sudah terketik rapi pada layar ponselnya.
Rana mengepalkan kedua tangannya sebal. Dalam hati ia terus mengutuk gadis pendatang baru itu.
Gue sumpahin ya, tu cewek abis ini makan bakso terus baksonya tiba-tiba mencelat pas dia gigit!
Di antara semua oceh-ocehan Vira, Rana hanya bisa menstabilkan napasnya yang kian detik kian terasa sesak saja.
"Gila! Anj*r, Ra! Kenapa nih, tiba-tiba pada bahas Arka juga? Apa?! Kok tiba-tiba ada foto Arka sama Alea?"
__ADS_1
Karena sudah tak tahan, Rana rencananya akan menggebrak meja dan marah-marah melampiaskan emosinya, tapi kemudian hidungnya mengendus bau harum yang tak asing. Bau harum yang selalu ia sukai.
"Lagi gosipin apa, Vir? Kayaknya seru banget."
Vira yang masih seru mengoceh menyalurkan gosip pada Rana, langsung menutup bibir begitu indra pendengarannya mengenali suara berat itu.
"Eh, e-nggak, Ka," jawabnya jelas sekali mengkeret oleh tatapan menyelidiki Arka.
"Ra, ke kantin, yok!" Arka beralih pada Rana, walau merasa kini entah mengapa semua cewek seolah menatapnya tak seperti biasanya.
Rana memalingkan wajahnya. Ingin sekali ia menjambak-jambak rambut Arka dan mengatakan keadaan hatinya yang sedang di ujung api cemburu.
"Raa ...." Arka duduk di meja gadis itu. Mengabaikan semua tatapan yang terfokus padanya. Tangannya kemudian menyentuh pipi Rana dan perlahan mengalihkan wajah gadis itu hingga menatap kepadanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalo ada salah, ya?" ucapnya kemudian.