
"Gue bingung, Nil," ucap seorang cowok duduk di sebuah gang kecil dengan sebatang rokok tersalut di jemarinya.
"Ya udah, lo samperin aja Nada ke rumahnya," timpal Daniel setelah menghisap dalam cerutunya.
"Orang tuanya kan udah tau gara-gara gue Nada jadi kena masalah ini. Gue... gue takut." Arsya bersandar. Memejamkan matanya bimbang.
"Jangan jadi bajingan, Sya. Lo harus tanggung jawab. Gak mungkin Nada bisa ngadepin masalah ini sendiri," ucap cowok itu memberi wejangan. Selagi Nada masih punya rasa, hubungan ini masih bisa dipertahankan. Tentu, tentu tak seperti hubungannya dengan Rana.
"Bukan cuma itu masalahnya, Nil. Nada... kayak pengen udahan aja sama gue," terang Arsya kemudian.
"Udah!" Daniel membuang putung rokoknya. "Sekarang lo pilih, mau tetep berjuang atau jadi pecundang?"
Sembari mengendarai motornya laju cowok itu terngiang-ngiang obrolannya dengan Daniel barusan. Ya, benar kata Daniel. Lagipula, ia tentu tak mau hubungannya dengan Nada akan kandas di tengah jalan hanya karena masalah ini.
Tok tok tok!
Setelah kebimbangan yang cukup lama akhirnya Arsya mengetuk pintu itu juga. Tangannya terasa dingin. Terus saja bercucuran keringat.
Kreek....
Pintu terbuka. Memunculkan seorang wanita berparas keibuan yang tentunya sangat familiar baginya. Wajah wanita itu ... terlihat sekali habis menangis.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Buk," Arsya memberanikan diri.
"Waalaikumsalam. Mau apa kamu datang kemari?" respon Bu Ratih 190° berbeda dari beliau yang biasanya ramah kepada biasa saja.
"Saya mau ketemu Nada, Buk," kata cowok itu to the point.
Rasanya, Ratih ingin segera mengusir anak laki-laki ini pergi jauh dari rumahnya. Tapi kemudian Ratih menghela napas. Berusaha meredam emosi sembari menimbang keputusan yang tepat.
"Baik. Silakan kamu tunggu di luar," ucap ibu Nada pada akhirnya. Menghadirkan sedikit kelegaan di rongga hati Arsya.
Usai kepergian Bu Ratih untuk memanggil Nada, Arsya kini duduk di salah satu bangku panjang pada teras rumah gadis itu. Tempat dimana biasanya di situlah para pelanggan menikmati jajanan mereka.
Semenit ...
Tiga menit ...
Akhirnya gadis itu datang juga. Berjalan tertunduk menghampiri Arsya yang memandanginya dengan tatapan mengiba harap-harap cemas. Lalu duduk di samping cowok itu.
"Nada, aku minta maaf karena ini semua salah aku. Tapi aku gak mau hubungan ...."
"Aku mau kita putus, Sya," potong Nada tanpa memandang wajah cowok di sampingnya.
__ADS_1
"Tapi, Nad." Arsya segera meraih kedua tangan Nada.
"Udah, Sya, cukup sampe di sini aja." Nada menoleh pada Arsya dan menarik tangannya.
"Tapi aku bisa pastiin ini gak bekal terulang lagi, Nad. Aku janji. Aku janji gak bakal ngajak kamu ngelakuin yang macem-macem lagi." Arsya sudah benar-benar di ujung kekalutan. Sudah berapa lama ia memendam perasaan pada Nada. Tentu ia tak rela jika hubungan ini akan sampai di sini saja.
"Udah, kita putus." Nada berdiri dari duduknya.
"Kalau kamu emang masih cinta sama aku, tolong jangan muncul di depan aku lagi," ungkap gadis itu sebelum kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Arsya yang hanya bisa terpaku. Sangat terpukul dengan ucapan barusan.
...💕...
Fikiran Rana sedang kemana-mana. Sama sekali tak bisa fokus dengan Drakor yang sedang ditontonnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia semakin tidak tenang. Berdasarkan chat yang ia baca tadi pagi, itu artinya sekarang Arka sedang menemui cewek sialan itu. Iya, tentu ia yakin sekali bahwa nomor itu adalah nomor si Alea bocil!!
Huh .... Rana menghela napas panjang. Ingin sedikit masa bodoh dengan Arka, tapi mengapa keadaan ini begitu memaksanya untuk menghubungi cowok itu.
"Ahh! Oke deh, ngomongnya sesingkat mungkin aja."
Setelah pertengkaran batin yang cukup lama akhirnya cewek itu menekan ikon call pada nomor milik Arka.
Tut tuuut tuuut.... Berdering.
__ADS_1
Tut tuuut tuuut.... Berdering.