The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Persidangan Peretak


__ADS_3

"Nada, kami benar-benar kecewa atas tindakan kamu yang baru kami ketahui ini," ucap Pak Kusma membuka persidangan kedua remaja di hadapannya ini, sedang para guru lain juga duduk rapi di tempat mereka masing-masing. Sama-sama menatap Nada penuh hina dan cela. Selama ini selalu dibangga-banggakan, tapi ternyata berani berbuat seperti itu di belakang.


Nada yang semendari tadi tertunduk kini memberanikan diri menegakkan kepalanya, seolah bertanya pada Pak Kusma, saya salah apa, Pak?


"Maaf, Pak, sebelumnya. Tapi kita salah apa, ya? Kita sama sekali gak ngerti kenapa kita dipanggil ke sini," tukas Arsya yang tak terima pacarnya disudutkan begini.


"Salah apa kamu bilang? Kamu pikir, cium-ciuman di belakang aula pertemuan itu hal yang wajar?!" tanya Pak Kusma langsung dibuat naik tensi. Dengan Arsya berani mempertanyakan hal demikian, itu artinya bocah bebal itu memang tak punya rasa takut apalagi sopan santun.


Nada langsung tertegun oleh bentakan Pak Kusma. Mana mungkin ia lupa akan hal itu.


Arsya melirik Nada. Saat ini, nama baik gadis itu benar-benar sedang dipertaruhkan. Boleh saja semua orang mengatakan ia bangsat, bajingan anak rusak, atau bahkan hasil didikan keluarga broken home. Tapi untuk Nada, ia benar-benar tak akan membiarkan cewek itu dicemooh oleh seorang pun.


"Bapak jangan ngomong sembarangan, dong! Mana mungkin saya sama Nada ngelakuin begituan, Pak! Mana mungkin, seorang Nada yang...."


Bruak!


Sangking emosinya, Pak Kusma sampai menggertak Arsya dengan membuang kasar ponsel ke meja tepat di hadapan cowok itu.


"Kamu perlu bukti apa lagi?!" bentak Pak Kusma menunjuk layar ponsel yang menampilkan adegan mesra kedua remaja di hadapannya.

__ADS_1


Nada yang sudah tahu tak akan bisa lari dari masalah ini hanya bisa menundukkan kepala semakin dalam. Ia ingin menangis. Sekarang ini pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Sahabatnya sendiri.


"Bagaimana, Nada, kamu mengakui bahwa cewek itu adalah kamu?" Pak Kusma menuntut jawaban demi kepastian.


"I-iya, Pak," jawab Nada benar-benar kelu.


"Arsya?"


"Ini semua salah saya, Pak!" Arsya langsung berdiri dari duduknya dan segera berlutut.


"Saya yang maksa Nada, Pak. Tolong jangan hukum Nada. Hukum saya saja," pinta cowok itu kemudian. 190° berbeda dari dirinya yang biasanya memberontak.


"Tidak ada yang akan dihukum. Karena kami sungguh mempertimbangkan posisi Nada yang memakai berprestasi. Jadi, kami memutuskan untuk memanggil orang tua kalian saja," jelang Pak Kusma.


"Kamu murid yang berprestasi di sekolah ini, Nada. Masalah ini akan jadi rahasia kita bersama. Kalau saja semua orang tahu murid teladan saja bisa melakukan hal itu, mereka pasti akan berfikir, 'Kenapa kita tidak?' Lagi pula, keputusan kami sudah bulat," terang Pak Kusma memutuskan.


"Pak Ikram, panggilkan Bu Ratih!"


"Tapi, Pak...," Nada dan Arsya mengiba.

__ADS_1


"Tidak ada bantahan lagi! Arsya, setelah ini pihak sekolah akan mengirim surat panggilan untuk orang tua kamu."


Nada dan Arsya seketika menundukkan kepalanya kembali. Wajah mereka pucat pasi. Telapak tangan mereka pun sudah terlanjur keringat dingin tak keruan. Detik-detik ini, rasanya seperti detik-detik menunggu eksekusi mati.


"Assalamu'alaikum," ucap seorang wanita dengan paras keibuannya. Wajahnya terlihat sedang bertanya-tanya. Berdiri di ambang pintu seperti ragu untuk melangkah maju.


"Waalaikumsalam," jawab jajaran orang dewasa berbalut seragam dinas dengan wajah iba mereka. Selama ini Bu Ratih telah mendidik anaknya dengan baik. Hanya karena mengenal cinta, anak lugunya berubah seketika.


"Silakan masuk, Bu Ratih. Nada, Arsya, kalian bisa tunggu di luar dulu," suruh Pak Kusma menimbang; daripada keadaan jadi lebih keruh oleh Arsya yang memang selalu menjadi pemberontak.


Nada menegakkan kepalanya. Sebelum berdiri, ia sempatkan menatapi wajah guru-gurunya satu per satu. Mereka semua ... pasti sudah sangat kecewa padanya.


Arsya dan Nada kemudian berdiri dengan kepala tertunduk. Keduanya berjalan beriringan menuju pintu di mana Bu Ratih, ibu Nada, masih berdiri di sana.


"Ada apa, Nad?" Wanita itu menyentuh lengan Nada. Bertanya lirih pada gadis yang merupakan darah dagingnya itu.


Di antara semua kegugupan dan ketakutannya, Nada hanya bisa menggeleng kepala pelan tanpa berani menatap mata ibunya.


Usai keluar dari ruangan guru, tanpa tahu jelas apa yang dibicarakan di dalam, kedua remaja itu kini duduk bersebelahan pada kursi panjang di depan ruang guru.

__ADS_1


Hening menguasai mereka. Mana tahu, permasalahan seperti ini akan menimpa mereka setelah kejadian di hari lalu.


Arsya yang amat merasa bersalah hanya bisa memandangi wajah Nada. Bingung harus berbuat apa. Kalau tahu akan jadi seperti ini, mana mungkin ia berani mengajari Nada berbuat hal itu. Dan cerobohnya lagi, kenapa pula mereka melakukannya di area sekolah?


__ADS_2