The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Free Class


__ADS_3

Rana kemudian melangkah menuju tempat duduknya dan duduk di sana. Ditahannya rasa sesak yang ada. Ia ingin terlihat biasa-biasa saja, walau mungkin mulai detik ini hari-harinya di sekolah akan terasa sangat menyakitkan luar biasa. Memutus persahabatan yang sudah dibangun sejak lama.


"Horeee!!" teriak Dio mengagetkan seisi kelas. Cowok gembul itu berdiri dari tempatnya dengan wajah antusias penuh semangat 45.


"Guru-guru pada rapat, hari ini kita jam kosong! Horee!!" umumnya heboh sekali. Menimbulkan seruan ria tertular juga pada semua penghuni kelas kecuali tiga orang di sana tentu saja.


"Ayo semuanya! Kita ke kantin sama-sama. Hari ini Vira yang traktir!" serunya lagi. Mengalahkan toa masjid agung sekali pun.


Plak!


Satu buku paket seketika melayang mengenai wajahnya, diiringi gelak tawa dari seisi kelas.

__ADS_1


Vira kemudian menelungkupkan wajah pada meja, malas. Tau begini, ia seharusnya tak perlu berangkat sekolah. Udah gegara abis nangis jadi make up-nya lama, di sekolah ternyata gak ada pelajaran. Cape deh ....


Nada yang juga turut mendengar kabar itu lantas berdiri dari duduknya. Bersama yang lainnya cewek itu melangkah keluar kelas. Ia tidak ada tujuan ke kantin. Mungkin ia akan ke perpustakaan setelah ini. Setidaknya, ia tidak ingin berdekatan dengan Rana.


Dio dan yang lainnya sudah berbondong-bondong keluar kelas, menyisakan dua remaja gadis yang duduk terpisah di dalamnya.


Di dalam posisinya yang menelungkupkan wajah, dalam diam, Vira terus menatapi punggung Rana perih. Pelupuk matanya mulai mengeluarkan manik-manik kristal bening. Rasanya, ia ingin menampar Rana sekeras-kerasnya, mengatakan bahwa prasangka nya itu benar-benar salah. Ingin sekali ia memeluk dan mengguncang-guncangkan bahu gadis itu agar ia sadar, bahwa ia sudah salah karena mempercayai tuduhan Rena yang tanpa bukti.


Oh iya, mana Nada?


Rana kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan dengan langkah cepat gadis itu segera keluar dari kelas. Huh, dari mana saja ia? Harusnya sedari tadi ia sudah menayangkan Nada perihal keputusannya yang mengakhiri hubungan dengan Arsya.

__ADS_1


Rana sudah mencari ke kantin, tapi ternyata Nada tidak ada di sana. Kini, dengan langkah kecilnya, gadis itu terburu-buru sampai setengah berlari menuju tempat yang pernah dikatakan Nada sebagai tempat ternyaman-nya; perpustakaan sekolah.


Sesampai di perpustakaan, Rana langsung menyisir ruang penuh lemari buku itu. Karena tak kunjung menemukan, Rana akhirnya melangkahkan kakinya sedikit berlarian. Perpustakaan sedang penuh. Mungkin, masih banyak siswa-siswi SMA Tunas Bangsa yang lebih memilih belajar di perpustakaan pada saat jam kosong dari pada hanya berleha-leha di kantin sekolah.


"Rana!" tegur penjaga perpustakaan.


Rana langsung menghentikan langkahnya. Tersenyum kikuk pada wanita berumur 35-an tahun itu.


"Yang lain sedang belajar. Kamu ingat, dilarang ribut," kata wanita itu menekankan. "Lagipula, tumben kamu ke sini. Biasanya tidak pernah," ujar wanita itu lagi.


"He ... he ... he ...." Rana menanggapi ledekan itu dengan cengiran kuda.

__ADS_1


"Mbak Sinar liat Nada, gak?" tanya Rana pada akhirnya. Malu bertanya sesat di jalan. Daripada muterin perpustakaan yang nyaris seperti labirin, lebih baik ia meminta wahyu saja pada Mbak Sinar. Penjaga perpustakaan yang katanya gak pernah lihat dia, tak anehnya tau jelas namanya. Eh, tapi dia juga kok tau nama mbaknya? Kan, gak pernah kenalan.


__ADS_2