The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Cium boleh?


__ADS_3

"Janji ya, Ra?" Arka mengingatkan cewek itu lagi. "Janji, jangan pernah jadiin Raja pilihan setelah aku." Mata cowok itu mengisyaratkan permintaan. Permintaan yang benar-benar penting dalam hidupnya.


Rana terdiam sejenak. "Kamu juga janji, jangan pernah ninggalin aku," mohon Rana, terlihat dari sorot matanya.


"Janji. Dan semoga takdir gak ngebuat kita terpaksa mengingkari." Kedua remaja itu mengaitkan jemari kelingkingnya lagi.


Hening.


"Ka, kan ceritanya kita mau nonton drakor, tadi," ucap Rana baru teringat dengan drakor yang semenjak tadi diputar tanpa ada yang menghiraukan. Malah sibuk bikin adegan sendiri. Yah ... ini konsekuensinya juga.


"Jadi nonton drakor-nya?" tanya Arka dibuat lemas seketika.


"Iya dong, Ka. Liat ke laptop-nya sana! Tadi dari mana coba?" Rana sibuk mencari pada adegan mana terakhir kali ia memperhatikan drakor-nya, sedang Arka terpaksa memiringkan tubuhnya dan menatap layar itu dengan tatapan membunuh. Kalau bukan karena Rana, pasti ia akan membanting benda itu sekarang juga. Apa kata teman-temannya, kalau tahu dia nonton film beginian.


Rana menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Tersenyum senang menikmati drakor yang tengah ditontonnya bersama Arka. Layar laptop tengah menampilkan wajah tampan aktor kesukaannya.


"Kamu suka nonton beginian, Ra?" tanya Arka masih belum menikmati tontonan di hadapannya.


"Ini namanya drakor, Arka ...." benah Rana.


"Iya, drakor. Kok suka sih? Gantengan juga aku," ucap Arka kelewat tak suka dengan film yang ditontonnya walau ia tetap menontonnya. Tentunya ya dengan terpaksa.


"Dih, Arka kepedean deh ...," cibir Rana mencibikkan bibir atasnya.


"Buktinya kamu sampai tergila-gila sama aku." Ujung mata Arka melirik Rana dengan sudut bibir terangkat sebelah jelas sekali.


"Iya, terserah kamu deh ... aku mau nonton cogan versi Korea aja." Rana hanya geleng-geleng kepala sembari fokus pada drakor-nya.


Arka menghela napas malas, kemudian menyaksikan layar laptop sial*n itu lagi. Bola matanya seketika dibuat melebar saat melihat tampilan wajah pemain cewek pada film itu.

__ADS_1


"Buset ... cantik banget, nj*r ...," bisiknya pada diri sendiri.


Mata Rana seketika melotot, sebab bisikan Arka terlalu jelas untuk tak dihiraukan oleh indra pendengarnya.


"Aw! Aw! Sakit, Ra," ringis cowok itu saat merasakan lengannya dicubit mati-matian oleh Rana. "Argh ... sakit, Ra," mohonnya sekali lagi.


Rana melepas cubitannya dengan wajah cemberut. "Dasar cowok! Paling gak bisa deh ya, liat cewek cantik dikit," gerutunya, dalam hati menyesal mengajak Arka nonton drakor.


"Nggak, nggak, Raa ..." Arka menarik tangan Rana ke pipinya lagi. "Dari mana-mana juga tetep cantikan kamu, kok," ucapnya cowok itu dengan senyum tersungging penuh di wajahnya.


"Udah, gak usaha gombal. Sana, lanjutin cuci matanya." Rana masih memasang wajah tertekuknya. ".... Lanjutin liat cewek cantiknya." Ah, lihatlah, sekarang ia bahkan terlihat seperti seorang istri yang sedang menceramahi suaminya. Benar-benar tak bisa menahan diri.


Acara nonton drakor pun tetap berlanjut. Arka hanya senyam-senyum sendiri menanggapi omelan Rana. Omelan cemburu yang selalu ia suka, andai Rana mau menampakkannya.


"Ini gimana ceritanya sih,Ra? Gak paham-paham aku. Bagusan juga catatan hati seorang kuli," sela Arka setelah beberapa menit mencoba menikmati.


"Iya, itu. Di rumah Bibi sering nonton itu," jelas Arka. Setelahnya, keduanya diam lagi, menikmati lebih tepatnya. Terutama bagi Arka, terpaksa menikmati.


"Aaa!!" pekik Rana tinggi. Meremas pipi Arka yang semendari tadi jadi kudapan tangannya. Alasannya? Apalagi kalau bukan baper setengah mati.


"Aw, Ra, sakit!" Arka meringis kesakitan. Pasti, sekarang ia tampak menyedihkan sekali. Kegantengannya bisa berkurang 50%.


"He ... he ... he ... baper, Ka." Rana melepas remasannya. Meringis tanpa dosa, kemudian mengelus pipi Arka lagi. "Sakit, ya?"


"Pindah ke sini aja, kuku kamu kayak cakar harimau." Arka memindahkan tangan Rana ke rambutnya. Meminta gadis itu menelisik atau mengelus-elus rambutnya.


Acara menonton drakor berlanjut lagi. Sampai pada suatu adegan yang ... membuat Rana menelan ludah susah payah tanpa berani melirik cowok yang masih setia menaruh kepala pada pangkuannya. Tangannya tiba-tiba jadi dingin, berkeringat tanpa sebab. Masalahnya, di rumah hanya ada dirinya dan Arka.


Arka terpaku pada layar di hadapannya. Sebuah tampilan dua remaja yang saling berbagi ciuman, membuat suatu sisi dalam dirinya terusik. Jemarinya kemudian menekan salah satu tombol pada benda itu. Membuat video yang sedang diputar terjeda. Ia meluruskan tidurnya. Melirik wajah Rana yang pucat tak terkira.

__ADS_1


"Kamu takut, Ra?" tanya cowok itu dengan senyum tercetak di bibirnya. Dalam hati menertawakan Rana yang suka nonton beginian, tapi gelagapan saat menghadapi kenyataan.


Rana menundukkan kepala. Membalas tatapan Arka. "Ta-takut kenapa?" tanyanya tak bisa menyembunyikan kekalapan.


"Drakor-nya bagus, Ra. Jadi pengen praktek, deh." Arka tersenyum jahil.


"P-praktek apa?" Rana semakin gugup.


"Cium boleh?" tanya Arka tanpa berbasa-basi lagi


Bibir Rana mengatup rapat, menatap Arka dengan manik matanya yang membola. Hanya sejenak, sebab gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya. Munafik jika ia menolak, sebab ia selalu berharap bahwa Arka adalah frist kiss-nya.


Senyum Arka lantas semakin mengembang. Tangan cowok itu kemudian mengelus rambut pada kepala gadis itu. Dengan tangan sebelahnya lagi bertumpu pada meja, cowok dengan rahang tegas itu mengangkat setengah badannya mendekati wajah Rana.


Rana menutup matanya rapat. Sumpah, sekarang jantungnya seperti hendak berlari dari tempat asalnya. Meletup-letup mengakibatkan kegugupan yang tak terkira.


Arka menghentikan pergerakannya tepat 5 Cm. di depan wajah Rana. Ia suka posisi ini. Senyumnya merekah jahil, kemudian mengecup pucuk hidung Rana cepat dan kembali pada posisinya yang tidur di pangkuan Rana.


Manik mata Rana langsung terbuka ketika merasakan sesuatu yang lembut mendarat cepat pada permukaan pucuk hidungnya. Gua beneran dicium? Kok gak kerasa, ya?


"Sekarang yang itu dulu, biar surprise. Besok yang bawah, ya?" tanya Arka, tersenyum puas sekali melihat wajah Rana yang merah padam.


Di ambang pintu ruang keluarga, Dhira berdiri terpaku dengan mata melebar dan mulut menganga. Adegan apa ini? Sungguh tak layak untuk disaksikan oleh anak di bawah umur sepertinya. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepala cepat, lantas melangkah samar menuju pintu masuk rumahnya lagi; dengan bodoh menekan bel rumahnya sendiri.


"Kak Rana! Dhira pulang!"


Mendengarkan teriakan itu Arka langsung bangkit dari posisinya, sedang Rana langsung gelagapan menata rambutnya yang sama sekali tak berantakan.


"Iya, Dhiraa!!" teriak Rana melirik Arka yang sudah berada di ujung sofa panjang yang mereka duduki. Seketika menjaga jarak aman.

__ADS_1


__ADS_2