
Arka diam seribu bahasa. Diberi pertanyaan seperti itu, tentu ia tak bisa menjawabnya. Cowok itu kemudian memalingkan wajahnya, melanjutkan langkah menuju kelasnya. Kedua tangannya mengepal, teringat bagaimana Raja meraih tangan Rana dengan tanpa dosanya. Dasar keparat!
"Arka!" panggil Ingga, setengah berlari mengejar langkah Arka. Lagi-lagi, senyum penuh kemenangan terbit di bibirnya.
Arka berhenti tepat di depan kelasnya. Cowok itu kemudian menolehkan kepala pada Ingga. Ia menyipitkan matanya.
Setelah lebih dari satu tahun berlalu sejak cewek itu pergi dari hidupnya, entah mengapa, Ingga terasa berbeda. Kadang, dalam diamnya ia sering bertanya-tanya: Ingga yang berubah, atau perasaannya yang sudah tak sama?
"Kamu gak nganterin aku ke kelas baru aku?" tanya Ingga setelah sampai di hadapan Arka. Napasnya sedikit tak beraturan. Langkah Arka terlalu panjang.
Arka tak langsung menjawab. Cowok itu menoleh pada isi kelasnya. Dan seketika, semua pandangan yang sejak tadi mengintip pergerakannya, beralih sok sibuk dengan kegiatan mereka. Kecuali ... Kibo dan teman-temannya.
"Dianterin Mala aja, ya?" kata Arka, melirik pada Mala yang duduk di ujung sana.
Ingga mengarahkan pandangan pada cewek yang dimaksudkan Arka. "Nggak, Arka ...," jawabnya penuh penekanan.
Arka terdiam sejenak. "Oke," jawabnya kemudian. Kakinya lalu melangkah menuju kelas Rana. Sedang Ingga segera memeluk lengannya. Menempel terus, dan tak akan melepasnya begitu saja.
"Halo semuanya!" sapa Ingga tersenyum sempurna. Berdiri di ambang pintu kelas 11 IPA 1, bersama Arka di sampingnya.
__ADS_1
Sontak saja, sapaan itu menyedot perhatian semua orang kepada mereka. Dan sedetik kemudian, kepala mereka menoleh ke arah Rana. Bagaimana respon gadis itu setelahnya?
Rana abai dengan semua pandangan orang padanya. Manik matanya hanya tertuju pada satu titik; mata elang Arka. Kemudian, mata itu beralih pada lengan Arka yang dipeluk, seolah itu adalah miliknya. Padahal ... sebelumnya, lengan itu adalah lengan yang selalu merengkuhnya. Rengkuhan yang selalu menjadi tempat pulangnya.
Di ambang pintu, Arka geming bagai patung tanpa nyawa. Tatap matanya tajam dan tegas, tapi lubang dalam hatinya hampa. Semakin menganga.
"Hai, gue pindahan di kelas ini." Ingga memulai perkenalannya. Dengan langkah penuh keyakinan memasuki kelas itu, tanpa membawa Arka bersamanya. ".... Ingga Anggia Husein. Panggil aja Ingga. Mungkin di antara kalian ... ada yang udah tau nama gue sebelumnya," ucapnya penuh percaya diri. Berdiri elegan di hadapan semua orang. Menatap mereka satu per satu tanpa terkecuali.
Rana menundukkan kepalanya. Tak mau terlalu lama memandang Arka, terlebih lagi memandang cewek yang hanya terpaut beberapa meter saja dari hadapannya.
Dio memalingkan wajahnya. Ia heran, kenapa cewek seperti ini dulunya pernah begitu dekat dengan circle mereka.
"Hai!" Ingga menyodorkan tangannya pada cewek di hadapannya.
"Iya, elo. Siapa nama lo?"
Arka maju selangkah dari tempatnya, tapi ia tak melanjutkan lebih jauh lagi. Ada kekhawatiran yang ia coba tutupi. Apa lagi yang diinginkan Ingga?
Rana menatap cewek itu sejenak, kemudian berdiri dari duduknya. Ia memang rapuh, tapi dibalik itu semua ia tahu, ia harus menjadi kuat. Setidaknya, itu yang ingin ia perlihatkan pada Arka.
__ADS_1
"Rana," ujarnya, menyambut uluran tangan Ingga tanpa senyum di wajahnya.
Ingga tersenyum. Melirik tangan mereka yang saling menautkan. "Hai, Rana," ucapnya, menarik tangannya. Lalu berucap ....
"Ini tempat gue dulu. Bisa kan, lo pindah dari tempat duduk gue ini?"
Pertanyaan itu sontak saja membuat semua orang menatap Ingga tak suka.
Vira mengernyit, tapi ia tak mau berucap sebab tak ingin terlihat membela Rana.
Rena menolehkan kepalanya setelah dari tadi hanya sibuk dengan ponselnya. Apa-apaan cewek ini. Baru datang sudah sok berkuasa sekali.
Nada memalingkan wajahnya dan menghembuskan napasnya malas. Baru kali ini ia melihat ada murid baru yang berlaku seperti ini.
Rana mengernyit. Penuh tanda tanya. "Pindah ke mana?" tanya gadis itu. Masih seorang Rana yang polos.
"Ya ke mana aja. Yang penting ... bukan di sini," ucap Ingga penuh penekanan.
Rana menelan ludahnya. Gadis itu menoleh pada Arka. "Oke," jawabnya, kemudian melangkah pergi. Menuju seorang Arka yang geming di ambang pintu kelasnya.
__ADS_1
"Boleh bicara sebentar ..., Ka?" ucapnya setelah sampai di depan cowok itu. Mendongak, menatap Arka dengan mata memohonnya.
Ka, sekali aja. Gue butuh penjelasan, .... supaya hati gua gak ragu buat ngebenci lo. Beri gue alasan, ... buat bener-bener ngelupain elo.