The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Kenapa Masih Sakit?


__ADS_3

Napas gadis itu sedikit tak keruan. Kakinya yang jenjang terus melangkah kecil, semakin cepat, kemudian berlari. Ia diburu waktu. Di atas sana, mungkin Marsha sudah membongkar semuanya. Dan yang bisa ia lakukan adalah mencegah Arka mempercayainya. Selama ini mungkin Arka hanya boneka baginya, tapi kehilangan tetaplah kehilangan. Kemana lagi ia bersandar? Dunianya mungkin bukan Arka, tapi Arka harus ada di dunianya.


"Arka!" panggilnya tepat setelah langkahnya sukses mengakhiri pijakan demi pijakan anak tangga yang rasanya lebih panjang dari biasanya.


Benar saja, ada dua orang di sana. Dan informasi yang didapatkannya tidaklah salah. Cowok itu membalikkan badan ke arahnya, menatapnya tanpa air muka. Dingin, lebih dingin daripada biasanya.


"Arka?" gumamnya sedikit gentar dan bergetar. Tapi kemudian, kedua tangannya mengepal.Ia tak semudah itu dikalahkan. Langkahnya lantas ia lanjutkan dengan tegas ke arah cewek yang bersama Arka.


Prak!


Marsha menyentuh pipi kirinya. Terlalu terkejut hingga tak sempat menangkis. Belum sempat ia membalas, Arka sudah mendahuluinya.


"Ingga!" bentaknya menarik pergelangan tangan Ingga kasar. Berusaha sekeras mungkin untuk tak melayangkan tamparan yang setimpal pada cewek itu. "Rabies ya lo?!" hingga akhirnya seruan itulah yang keluar setelah ia melepaskan tangan Ingga, sama kasarnya seperti saat ia menariknya. Persetan dengan didikan ayahnya!


"Ngoceh apa aja lo sama Arka?!" Tapi Ingga justru tak acuh pada kemarahan Arka. Agresif menyerang Marsha dengan telunjuknya yang menuding-nuding merasa paling berkuasa sendiri. "Lo tuh gak tau di..."


Prak!!

__ADS_1


Belum sempat Ingga menyelesaikan cercaannya, bibirnya sudah duluan dibungkam oleh tamparan dari gadis di hadapannya. Ia menyentuh pipinya, merasakan perih yang menjalar di sana.


"Kenapa? Lo kira gue takut sama lo? Mau tampar lagi? Hah?" suara Marsha menggema, saking kerasnya. Seolah ada luapan api disetiap nafasnya. Penuh emosi.


"Sadar ya, lo yang gak tau diri! Kasian banget ya Arka, bisa aja nerima lo yang udah gak suci lagi, mana pake bohong segala lagi. Najisss!!" cecar Marsha dengan mata sinis, sudut bibirnya tertarik ke bawah, seolah menunjukkan perempuan didepannya ini tak layak ia ajak bicara.


"Jaga ya omo ..."


"Ingga, Stop!" Arka menyela dengan suara yang lebih tinggi dari dua gadis itu. Telinganya kini lebih panas daripada biasanya saat ia mendengarkan ocehan Ingga sebelumnya.


Ingga menoleh pada Arka. Mencari setitik rasa kasihan yang biasanya selalu Arka sisihkan melalui mata dingin cowok itu.


"Arka!" Ingga menyusul cowok itu. Menyejajarkan langkahnya, berusaha merubah apa yang sudah terlanjur dipercayai Arka.


Sedangkan di sana, Marsha masih berdiri dengan rambut setengah berantakannya. Mengalihkan pandangannya ke arah langit biru di siang ini. Sedikit tersenyum, tapi juga gentar.


Semoga prasangka gue gak akan terjadi, Ra

__ADS_1


...****************...


"Ka maafin gue, Ka," aku Ingga setelah sepanjang anak tangga terus membujuk Arka untuk tidak percaya tapi sama sekali tak direspon cowok itu. Jangankan mendengarkan, menoleh padanya saja tidak.


"Maaf lo bilang?" Arka akhirnya menghentikan langkahnya pada salah satu anak tangga. Matanya menyipit, lebih tajam dari biasanya.


"Gara-gara lo gue kehilangan Rana! Lo tau, apa aja yang gue korbanin demi nolongin lo?! Gue kehilangan Rana, kepercayaan temen-temen gue, didikan bokap gue. Lo kira itu setimpal sama apa yang udah lo lakuin sama gue, hah?!" Wajah cowok itu memerah. Seolah ada bom yang hendak meledak di dalam dadanya, ia sudah tak kuasa menahan emosinya.


"Gue minta maaf, Ka. Gue gak mau kehilangan lo juga...," Ingga menyentuh lengan Arka. Suaranya mulai serak. Ada genangan air mata di sana.


"Simpan air mata lo buat diri sendiri. Lo udah hancurin kepercayaan gue, ing." Cowok itu hendak melepaskan kedua tangan Ingga dari lengannya, tapi kemudian ia terhenti oleh suara orang yang dikenalnya


"Arka mana ya, Ra. Tadi padahal katanya cuma ke ...."


Arka mematung. Terlalu terkejut mendapati keberadaan Mamanya dan Rana di sana. Ada sesuatu yang hendak ia luapkan, tapi semua itu seolah hanya ****** beliung besar yang menimpa ulu hatinya. Bibirnya tak dapat bicara, pun wajahnya yang justru menampakkan ekspresi tertangkap basah tanpa daya.


Rana juga berhenti di tempatnya. Pupilnya menatap pupil mata Arka cukup lama, tapi kemudian beralih pada tangan Ingga yang mengambil alih lengan Arka dengan entengnya. Harusnya tidak, tapi nyatanya ia masih merasakannya. Isi perutnya seolah ingin bergolak keluar. Begitu pula udara di dadanya yang seolah tak punya ruang. Kenapa masih sakit? Arka sudah bukan dunianya bukan?

__ADS_1


Sarah menggeleng sekilas pada Arka. Masih kecewa tentunya. Ibu Arka itu kemudian merangkul pundak Rana. "Ayo, Ra. Tante antar kamu pulang ya, sayang."


__ADS_2