
Bel pulang berbunyi. Seorang guru berjalan keluar dari kelas itu setelah akhirnya mengakhiri proses belajar mengajar.
Dalam keadaan suntuk karena sudah terlanjur mengantuk, satu persatu murid di kelas itu beranjak dari tempat duduknya setelah lantas membereskan buku di atas mejanya.
Vira memasukkan bukunya ke dalam tas sekaligus juga hendak mengambil ponsel multi talent nya, tapi kemudian pandangannya terhenti pada paras tampan seorang cowok yang sudah bersandar di ambang pintu kelasnya. Huft.... Bibir Vira mengerucut.
"Ra, doi lo udah siap jadi supir tuh," ucapnya pada akhirnya, walau dengan perasaan teramat malas. Beginilah nasib jomblo ngenezz.
"Arka!" Segera saja Rana beranjak dari duduknya dan menghampiri Arka, tersenyum girang sekali.
"Gue anter pulang," ucap cowok itu tersenyum, masih dalam posisi berdiri menyandar di ambang pintu. Membuat kedua remaja itu menjadi pusat pandangan oleh murid-murid yang tersisa di kelas itu. Bagaimana tidak? Arka yang terkenal dengan julukannya sebagai preman dingin yang anti cewek cantik, kini justru menyumbangkan senyumnya secara cuma-cuma pada Rana, pendatang baru yang terkenal karena kecantikannya.
"Mau, kan?" tanya cowok itu lagi.
"Iya." Rana memperlihatkan prengesannya yang justru membuatnya terlihat lebih cantik.
"Pamit dulu ama mereka." Dagu Arka memberi isyarat menunjuk ketiga teman Rana.
"Rey, Vir, Nad, gue duluan, ya!" teriaknya lengkap dengan lambaian tangan tanpa tanggung-tanggung.
"Yo! Cabut duluan gue." Tak lupa pula Arka juga berpamitan pada Dio.
Dio hanya mengangguk malas. Niat betul Arka memanas-manasinya. Huft... jomblo bisa apa?
"Yok, Ra!" ucap Arka seraya meraih tangan Rana dan menggenggamnya. Kemudian melangkahkan kaki tak peduli betul dengan tatapan semua penghuni kelas. Sedang Rana, sudah dapat dipastikan lengkungan manis sukses terukir di bibir mungil gadis itu.
Sesampai di parkiran, lagi-lagi kedua remaja itu menjadi pusat perhatian dari siswa dan siswi yang tengah berada di parkiran, tak terkecuali seorang cowok berkaca mata hitam yang baru saja masuk dan menutup pintu mobil sport-nya.
"Mulai sekarang, gue yang anter-jemput lo sekolah ya, Ra?" ucap cowok itu seraya merangkul bahu Rana, namun dengan pandangan terus menatap seorang cowok penuh kemenangan. Seolah menegaskan bahwa Rana sudah resmi menjadi miliknya.
Rana tertawa kecil. "Yey!" Girang sekali melompat dengan kedua tangan diangkat ke atas, kemudian berlari riang menuju motor Arka. Saking semangatnya, cewek itu sampai mendahului si empunya.
Arka hanya bisa menggeleng-geleng kepala tersenyum melihat tingkah Rana yang mau tidak mau harus ia akui, cewek mungil itu memang hiperaktif. Dan sekarang, barulah ia menyadari bahwa cewek pecicilan ternyata menggemaskan juga.
"Arka, let's go!" teriak cewek itu dengan konyolnya sudah nangkring duluan di atas motor KLX Arka. Padahal, motor itu masih terjebak di antara jajaran motor lainnya.
__ADS_1
Arka yang diteriaki, masih dengan senyum mengembang melangkah menghampiri cewek itu. "Ra, kalau lo nangkring gini di atas motor gue, terus gimana gue ngeluarin motornya?" ucap cowok itu setelah menghampiri Rana. Berdiri di samping motor KLX kesayangannya.
Rana justru menatap cowok itu dengan mata lebarnya. "Arka gak kuat?" tanyanya polos sekali.
"Hhh ... bukannya gak kuat ...." Arka menyugar rambutnya tersenyum. "Entar kalo lo jatuh ...."
"Iya deh, Rana turun. Hehehe."
"Hhh ..." Dan akhirnya, dengan dibantu Arka, cewek mungil nan pecicilan itu pun turun dari motor.
Di sebelah sana, Raja hanya bisa meremas kemudinya sebagai pelampiasan. Sejak kapan Arka hobi sekali mengumbar kemesraan begini?.
"Eh, Raja?" Dan entah bagaimana konsepnya, Rana justru menyapa Raja terang-terangan sekali. Baru menyadari keberadaan cowok itu yang sebenarnya sudah semendari tadi.
"Eh. Hai, Ra!" Raja balas menyapa, melepas kaca mata hitamnya seraya mengembangkan senyum ramahnya.
"Loh, temen-temen lo di mana, Ja? Tumben sendirian aja." Rana mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat parkir.
"Udah duluan tadi. Lagian, mereka bawa motor sendiri kok."
"Yok, Ra!" ajak Arka tiba-tiba sudah berada di samping Rana. Memberhentikan motornya dengan tatapan lurus ke depan. Enggan melihat wajah seorang cowok yang diajak bicara oleh Rana.
"Oh, iya." Rana segera menaiki motor Arka lengkap dengan senyum cerianya, serta tak lupa pula berpegangan pada jaket jins milik Arka.
Arka yang suasana hatinya masih belum stabil, tanpa kata melingkarkan kedua tangan Rana pada pinggangnya. Membuat cewek di belakangnya menahan kedua sudut bibirnya agar tak sontak terangkat dan berbuah ending senyam-senyum sendiri bak orang gila yang salah tingkah.
"Daah, Raja!!" Rana melambaikan tangannya pada Raja. Dan kemudian ...
Brumm! Arka melajukan motornya pergi dari hadapan Raja.
Seraya menatap kepergian Rana dan Arka, Raja memasang kaca mata hitamnya kembali. Rahangnya mengatup sebab menahan rasa cemburu.
"Jangan deket-deket sama Raja." Suara berat cowok itu berlomba dengan deru motornya sendiri, juga deru motor di sekelilingnya.
"Ha?" Bagi Rana, suara Arka barusan tak ada bedanya dengan suara semut berbisik.
__ADS_1
"Jangan deket-deket sama Raja!"
"Apa?" Masih tak ada bedanya. Hanya meningkat beberapa frekuensi saja.
"Jangan deket-deket sama Raja!!" teriak Arka sekali lagi.
"Hahaha,,," Dan dengan bodohnya, Rana malah tertawa. Fix, dia tak mendengar apa-apa.
Huft ... Arka hanya bisa menghela napas malas. Mau diulang berapa kali pun, Rana tak akan mendengar. Yang ada cewek itu justru akan ketawa lagi dengan wajah tak paham.
...💕...
"Assalamu'alaikum!" suara salam cowok itu seketika menarik perhatian seisi kelas yang masih menyisakan setengah dari murid-murid di kelas 11 IPA 1.
"Komlam!" jawab Dio masih setia di pojok sana, ketus sekali dengan bibir mengerucut. Apes betul ia hari ini. Tadi Arka yang pamer doi, sekarang ditambah Arsya lagi. Terus dia kapan? Entar kalo Yakjuj dan Makjuj udah dateng?
Tak menanggapi jawaban Dio yang ketus. Dengan prengesan lebar, Arsya berjalan menuju tempat duduk Nada. Cewek itu sudah beranjak dari duduknya sejak kedatangan Arsya barusan.
"Kirain masih mau latihan basket lagi," ucap cewek itu menampilkan senyuman termanisnya.
"Ya enggak lah, kan aku mau nganterin kamu pulang dulu." Cup.... Tak sungkan-sungkan cowok itu menyentuh pucuk kepala Nada dan mengecup pucuk kepalanya.
"Ciee... ciee...." Sorak-sorai langsung saja meledak di kelas itu. Demi apa? Si cewek pendiam yang hobinya bawa buku kemana-mana, kini sedang bucin minta ampun dengan si cowok resek nan berandal.
"Arsya!" Satu pukulan langsung saja hinggap di pundak Arsya. Tapi cewek itu masih menampilkan senyumannya, tak lupa dengan pipi yang merah padam.
"Ya udah. Yok, kita pulang!" Arsya merangkul pundak gadis itu. Membawanya berjalan keluar kelas. Juga tak lupa melambaikan tangannya pada si Dio yang terlihat mengenaskan sekali.
Huft ... Suasana masih ramai membicarakan kejadian barusan. Vira hanya bisa menghela napas berusaha tegar. Diliriknya tempat Rena. Ternyata temannya itu juga sudah pergi entah kemana.
Dan disinilah ia, menatap layar ponselnya jengah. Dimana semua piaraannya? Kenapa off semua? Kalau lagi gak dibutuhin aja, nongol semua. Lah kalau gini, tau deh pada kemana.
Disandarkannya kepalanya di meja. Kira-kira kapan ya, kisah cinta gue ber-ending bahagia?
"Vir." Seorang cowok duduk di sebelah Vira.
__ADS_1
"Hm ...," jawab Vira, tanpa menoleh dapat mengenali suara cowok itu.