The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Rana Takut ....


__ADS_3

Jauh sekali mereka berlari mencari. Dan sampailah mereka di gang-gang sempit yang kumuh dan sepi. Keduanya berdiri di depan sebuah bangunan tua yang mencurigakan. Tanpa ragu apalagi takut, kedua remaja SMA itu segera melangkah masuk bermodalkan sebuah keyakinan bahwa Rana ada di dalamnya.


Semakin masuk ke dalam, sayup-sayup terdengar pantulan suara tawa pria yang tampaknya tak hanya berjumlah hitungan jari. Juga suara gesekan lantai dan alas kaki yang terdengar jelas akibat sunyinya bangunan tua ini.


Rahang Arka mengatup rapat. Pastilah gudang tua ini bukan gudang biasa. Melainkan markas yang sengaja dibuat tersembunyi.


"Hahaha,,," Suara tawa itu menggema lagi. "Buka lakbannya! Gua mau puas-puasin liat cantiknya ni bocah."


Mampus! Dugaan mereka sepertinya tak meleset.


Dan benar saja. Setelah masuk lebih dalam, mereka mendapati sekerumpulan lelaki berpenampilan liar, juga Rana yang duduk di kursi tak sadarkan diri dengan seorang lelaki yang berdiri tegap di sampingnya sebagai bawahan dari seseorang lagi yang berusan memerintah.


"Siap, Bos." Lelaki itu kemudian membuka lakban yang sebelumnya direkatkan ke mulut Rana rapat sekali.

__ADS_1


Rana mengerjap-ngerjapkan matanya. Bau apa ini? Hidungnya berkedut-kedut, asing dengan bau kumuh yang memenuhi udara. Dan barulah ketika cewek itu membuka mata, ia kaget bukan kepalang mendapati dirinya yang sudah terikat rapat dengan kursi yang didudukinya, serta belasan pria yang menatapinya dengan senyuman janggal hingga rasanya ia hendak ditelanjangi.


Kedua tangan Rana yang diikat bergetar hebat. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia sendirian, ketakutan, bersama gerombolan pria yang entah hendak berbuat apa padanya. Dimana Arka dan Daniel?


Rana menggeleng cepat. Jangan-jangan, ini hanya mimpi buruk gara-gara ia lupa baca doa sebelum tidur.


Tapi sepertinya dugaannya salah, sebab tak mungkin mimpi terasa senyata ini. Seingatnya, tadi ia sedang bermain pancing-pancingan dan tiba-tiba tergoda sekali ingin membeli sesunduk permen gulali.


"Wow .... Hai, cantik! Gimana tidurnya? Udah selesai?" ucap si ketua kelompok setelah puas memandangi wajah Rana.


"Nil ..." Dibalik tiang yang besar, Daniel yang tidak tak tahan lagi hendak melangkah maju, tapi Arka langsung menahan tangannya. "... Jangan dulu," titahnya berbisik, membuat Daniel menurut walau tak rela. Kembali bersembunyi di balik tiang tua nan kokoh.


"Bro, lo pada cepet ke sini. Rana diculik. Jangan lupa bawa polisi," ucapnya pelan namun jelas. Mengirim voice note pada teman-temannya. Tak lupa pula lokscreen tempat gedung itu berada.

__ADS_1


"Ka, lo gak mau nunggu sampe mereka dateng, kan?" bisik Daniel bertanya.


"Gue alihin perhatian mereka, lo yang bawa Rana pergi."


"Ka, lo yakin bisa sendiri?"


"Lo ngeremehin gue?" Arka menoleh pada Daniel. Rahangnya sudah terlanjur mengatup rapat. Ia tak bisa berdiam diri melihat Rana dalam bahaya.


"Jangan takut," ucap si ketua kelompok, melangkah maju mendekati Rana yang sudah disesakkan oleh rasa takut. Ia tak sanggup berteriak apalagi memberontak.


"Di sini kamu aman." Pria itu menyentuh pipi Rana dengan jemari kekarnya, menyusuri bentuk wajah yang terlihat sempurna sekali di matanya. "Kamu gak bakal diapa-apain. Tugas kamu cuma satu, jadi cewek penurut yang imut."


Rana berusaha menjauhkan wajahnya dari pria itu. Sial sekali nasibnya. Daripada diperlakukan begini, lebih baik ia mati saja. Tanpa kata, dua bulir air bening lantas lolos dari pelupuk matanya. Arka! Daniel! Kalian dimana?! Rana takut..., jeritnya tanpa suara.

__ADS_1


Bugh!


__ADS_2