The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Mama Muda Cerewet


__ADS_3

Kamar Rana_20.00


Rana mengucek-ucek matanya pelan. Seharian ini ia sudah menamatkan Drakor yang direkomendasikan oleh teman-teman sesama pecinta Drakor yang dikenalnya.


Agak membuat mata panas dan perih sebenarnya, tapi filmya terlalu seru, sayang walau hanya untuk ditinggal makan ataupun tidur sedikit saja. Lagipula kalau tak menonton drakor ia mau ngapain? Tidur seharian? Gak, gak, gak! Ia tak mau pipinya bertambah tembem dan nanti akan terlihat seperti kue bakpau. Mau chat-chat-an? Ahh! Entah mengapa grupnya kini agak sepi dari biasanya. Mungkin, Nada sedang sibuk belajar, Vira sedang banyak job, dan Rena ... entahlah, padahal biasanya Rena lah yang selalu menemaninya bercuit-cuit dalam grup kalau misal Vira sedang sibuk dengan piaraan kesukaannya.


Dan eh, cewek itu baru sadar. Belakangan ini kok Daniel tidak pernah menghubunginya ya, padahal biasanya rajin sekali spam chat, bawel sekali kalau telfonnya tak diangkat, tak bosan-bosannya mengajak jalan; makan malam; dan nonton bioskop.


Tapi lihat sekarang, satu chat pun tak ada. Masa iya Daniel ngambek? Ah, enggak lah. Niel mana pernah marah. Terihat cemberut atau bad mood saat bersamanya saja tak pernah. Apalagi sampai ngambek dan tak mau berkirim pesan begini. Mustahil rasanya. Atau jangan-jangan ... kuota Niel abis ya ....


Rana segera mengecek WA, dan Wah, banyak sekali notif dari aplikasi itu. chat dari nomor tak dikenal sampai bertumpuk tak keruan, membuat nama Daniel entah sudah tenggelam dimana.


Rana mengerucutkan bibirnya. Repot sekali jika ia harus meladeni orang-orang ini. Bisa-bisa chat dari Daniel akan tenggelam lagi nanti. Jemarinya kemudian dengan gesit mengarsipkan semua nomor tak dikenal yang mengirimkan pesan padanya.


Bukannya sombong, ia hanya sedang sibuk dan tak sempat jika harus merespon chat orang-orang yang sebegitu banyaknya seperti ini. Daniel saja yang pacarnya sering ia kacangin, apalagi mereka.


Setelahnya akhirnya ia membuka beranda chat dari Daniel, tapi kok, tiba-tiba ada tulisan "Anda telah memblokir Nomor ini" ? Loh, sejak kapan ia memblokir nomor Daniel?!


Buru-buru Rana membatalkan pemblokiran itu. Pantas saja belakangan ini Daniel tak Mengubunginya. Tapi, siapa yang melakukan hal ini? Atau jangan-jangan ... ada setan yang merasuki raganya, kemudian iseng-iseng memblokir cowoknya itu. Ah, entahlah! Mungkin juga ini kerjaan si Dhira. Bocah itu kalau sudah marah, bisa melakukan hal-hal apa saja sesuka hatinya.


Rana mengetik pesn pada Daniel, walau sayangnya cowok itu sudah offline. Jadi yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berbaring menatap Hp-nya lama. Berharap centang satu berubah menjadi centang dua, dan kemudian berubah warna menjadi biru.


Lamaa ... ia menunggu, tapi tak kunjung ada balasan. Jangankan balasan, centang dua pun tidak.


"Ra!"

__ADS_1


Rana mengalihkan perhatian dari ponselnya. "Mami?" ucapnya, melihat maminya yang tiba-tiba sudah berada di kamarnya.


"Temenin Mami yuk! Ketemu temen lama Mami," ucap Puspa sembari membenahkan antingnya di depan cermin.


...💕...


Jess ... jess ... jess ...


Bau parfum khas cowok seketika menguar di ruang itu. Si pemakai menatap dirinya dari cermin sekilas, kemudian segera keluar kamar. Sangat malas sebenarnya, tapi ia selalu enggan menolak permintaan ayahnya. Termasuk permintaan izin ayahnya untuk menikah lagi dua tahun lalu.


Saat itu sebenarnya ia tak mau memberi izin, bahkan hati kecilnya sangat menentang permintaan itu, tapi mau bagaimana lagi? Ayahnya itu sudah terlanjur kena pelet gadis muda yang menjadi aktris bintang iklan di perusahaannya.


Tapi ternyata itu hanya permulaan ketidaknyamanan dalam hidupnya. Lihatlah sekarang, ayahnya bahkan tak ragu menyuruhnya mengantar istri mudanya itu. Benar-benar merepotkan, kenapa tak pakai supir saja? Ini kan malam minggu. Iya sih, ia akui ia memang jomblo. Tapi jomblo juga tentu ingin malam minggunya jadi menyenangkan.


Ahh! Sekarang daftar orang yang membuat mood-nya seketika memburuk bertambah satu. Rana Puspakarina. Setiap melihat gadis itu, ia langsung teringat dengan istri muda ayahnya. Benar-benar dua orang yang sama, sama-sama merepotkan.


Arka tetap fokus mengemudikan mobil, padahal seorang wanita di sebelahnya sejak tadi tak berhenti bicara. Ia hanya diam, sama sekali tak merespon semua ocehan wanita itu. Huh, sudah merepotkan, tak bisa berhenti bicara pula. Padahal sudah tak dianggap sejak tadi.


"Ka, mama gak sabar deh, pengen cepet-cepet ketemu temen mama. Udah lama banget soalnya. Aneh sih, padahal kita satu kota, tapi dari dulu gak pernah ada janji mau ketemuan gini. Mama mau ngajak, takut dianya sibuk. Terus juga, mama denger- denger suaminya galak. Hmm ... pengacara sih. Tapi untuung aja, Papamu gak galak gitu ...."


"Oh ya, temen Mama itu juga cerita, katanya punya anak seumuran kamu, Ka. Mama udah liat fotonya sih, anaknya cantik, mirip banget sama mamanya. Dulu, mama pernah ketemu sama dia. Tapi itu dulu, dianya masih kecil banget. Suka rewel, terus gak bisa diem. Apalagi kalo di tempat umum. Hmm ... mama jadi kasian sama temen mama itu, padahal pas jadi penyanyi karirnya bagus. Tapi sayang, dia harus nikah muda karena udah terlanjur dijodohin sama keluarganya ...."


"Eh, aduh! Mama kok jadi bicara ngalor-ngidul ya, Ka. Gini nih, kalu udah terlanjur semangat banget."


Arka hanya mendengus pelan, untung kupingnya cukup kebal dengan segala gangguan suara yang ada, sudah terbiasa. Padahal sudah tau kalau bicaranya sudah ngalor ngidul tak keruan, tapi kalau menurut prediksinya, pasti dalam hitungan tiga detik tante Sarah akan mengoceh lagi.

__ADS_1


"Hmm ... pokoknya nanti kamu harus kenalan deh, sama anaknya tante Puspa, siapa tahu bisa jadi temen," ucap Sarah riang. Walau ia tahu Arka masih bersikap tak acuh padanya, ia tetap pantang mundur.


Arka memang bukan anak kandungnya, tapi ia adalah anak satu-satunya. Dua tahun usia pernikahan, ia belum bisa memberikan apa-apa pada Mas Rangga. Dulu memang pernah diberi kesempatan menjadi calon ibu, tapi ia gagal. Dokter bilang rahimnya lemah. Berbagai macam cara sudah ia dan mas Rangga coba, tapi sampai sekarang belum diberi rezeki juga.


"Sampe." Arka memberhentikan mobilnya di depan sebuah kafe yang cukup ramai pengunjung. Di dalam ramai, diluarnya pun demikian.


"Kalau gitu mama masuk dulu ya, Ka, nanti kalau mau pesan apa-apa, tinggal chat mama aja," ucap Sarah setelah turun dari mobil.


Arka masih tak menanggapi, ia segera mengemudikan mobilnya ke tempat parkir. Huh! Sepertinya ia harus segera membeli sumpal telinga betulan demi menjaga daya tahan gendang telinganya. Mendengar ocehan tante Sarah, bahkan lebih membuat pening dari pada mengerjakan ujian kelulusan.


Arka kemudian turun dari mobilnya. Tante Sarah sudah masuk, mau bertemu dengan temannya yang namanya entah siapa itu, ia tak begitu peduli. Yang penting sekarang, ia cukup menunggu perempuan itu bosan dan pulang. Tak perlu mendengar ocehannya lagi, walau hanya untuk sementara.


Arka bersandar di mobilnya, sembari mengedarkan pandangan mengamati ramainya orang berlalu lalang. Hmm ... sepertinya urusan menunggu tante Sarah juga bukan persoalan mudah. Pasti akan sangat lama. Huh, orang itu betah sekali mengobrol panjang lebar. Dan ya, ia juga butuh kopi. Menikmati secangkir kopi sendirian, tak apalah, daripada mati kebosanan menunggu urusan kaum wanita kelar.


Tak butuh waktu lama, Arka segera melangkahkan kaki menuju pintu depan kafe yang berbahan kaca yang transparan itu. Desain kafenya cukup bagus juga, cocok untuk segala umur. Remaja dan dewasa berada di tempat yang sama, walau kebanyakan yang dewasa memilih menikmati secangkir kopi di dalam kafe, dan yang remaja lebih suka di area depan kafe sebab lebih santai dan terbuka.


Sampai di meja kasir, Arka segera menyebutkan pesanannya. sembari menunggu ia juga melihat-lihat desain arsitektur kafe pilihan tante Sarah ini. Boleh juga.


Tapi pandangannya kemudian terhenti pada tiga orang wanita yang duduk mengelilingi meja yang sama, sama-sama berperawakan mungil dan memiliki struktur wajah yang tak jauh berbeda, sama-sama cantik. Ketiga wanita itu melihat ke arahnya, dan kemudian melempar senyum menawan mereka. Dan, ya, satu diantaranya adalah tante Sarah, istri muda ayahnya.


Tapi bukan Tante Sarah yang membuatnya agak terkejut. Ia mengenal salah satu gadis lagi, gadis yang terlihat paling muda diantara mereka. Gadis itu tersenyun lebar padanya, bahkan sampai melambai-lambaikan tangan segala.


"Arkaa!" sapa cewek itu memekik tinggi.


Arka memalingkan wajah. Cewek aneh dan ngeselin itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2