The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Awal Mula


__ADS_3

Rana membalas tatapan pria di hadapannya. Masih dengan pertanyaan yang sama, sesaat setelah penerimaan rapor di setiap pergantian semesternya. Ia kemudian mengembangkan senyumnya. Ada sedikit harapan untuk dihargai muncul di rongga hatinya.


"Dua puluh dua, Pa," ucapnya, masih dengan senyum yang sama, dengan sedikit binar di matanya. Kemudian melirik ke arah ibunya. Wanita itu juga ikut tersenyum bahagia.


"Oh ...," respon Cipto, menghela napas berat, kemudian beralih pada makanan di hadapannya.


Rana termangu, menatap pria di hadapannya dengan senyum yang perlahan memudar. Hanya seperti itu saja? Tapi pria itu sama sekali tak memedulikan tatapannya, tak memedulikan rasa kecewanya.


"Bagus, Ra ..., Mami tau kamu bisa," Puspa kemudian bersuara, menawarkan penghargaan melalui senyumnya.


Rana kemudian menoleh pada ibunya. Tidak, ia tak boleh tamak. Setidaknya ia masih punya beberapa orang. "Makasih, Mi." Ia lantas merekahkan senyumnya kembali.


"Selamat, Kak. Kakak udah ngebuktiin kalau kakak bisa. Tinggal sedikit lagi. Kalau kakak berhasil, bukan cuma Papa, tapi kakak juga bisa tunjukin ke dia," ucap Dhira, menyentuh punggung tangan Rana.


Rana menoleh. Ya, sepertinya adiknya itu memang tahu banyak mengenai masalahnya, walau ia tak pernah banyak bercerita. Huh ... sepertinya Dhira terlalu pintar.


"Dhira .... Papa bisa dengar kamu ngomong apa," tegur Cipto, tanpa mengalihkan pandangan pada kedua anaknya.


Dhira menghela napas. Menarik tangannya dari punggung tangan Rana. "Sekali-kali orang dewasa emang harus belajar dari anak kecil, Pa. Supaya ego Papa gak terlalu tinggi, supaya Papa bisa lebih memahami."


"Dhira! Sejak kapan kamu berani sama Papa?!" Cipto berdiri dari duduknya. Baru kali ini anak bungsunya itu banyak bicara, dan baru kali ini juga bocah itu berani menyingungnya.


Dhira menghela napasnya lagi. "Dhira bukan berani sama Papa. Papa tetep junjungan Dhira paling tinggi di keluarga ini. Tapi, Papa harus tau, setidaknya Papa harus bisa menghargai orang lain, baru bisa dihargai." Gadis kelas 5 SD itu berhenti sejenak. Menatap mata ayahnya yang mengisyaratkan kemarahan. "Itu cuma pendapat Dhira sih ... Papa boleh aja gak terima."


Cipto mengepalkan tangannya, tapi kemudian menghela napas panjang. Di sebelah sana, Puspa hanya bisa menahan napas. Dhira bukan bocah yang banyak bicara, tapi sekalinya bicara bisa membungkam semua orang, bahkan ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Ma, beliin Papa obat sakit kepala." Cipto membalikkan badan. Tangannya kemudian memijat kening. "Papa pusing, butuh istirahat."


Pria itu pun kemudian berlalu diikuti Puspa yang setelahnya langsung mencari persediaan obat di kotak P3K.


Rana menoleh pada Dhira. Bahkan, ia tak pernah membuat ayahnya sebegitu tak berkutik seperti ini.


"Makan aja, Kak," ucap Dhira, sembari mulai menyantap makanan di hadapannya.


"Dhira ...." Rana memasang wajah meweknya.


Dhira menoleh. Wajahnya seketika panik. "Nggak! Jangan dipeluk!"


Belum saja gadis itu menutup mulutnya, tubuhnya sudah dipeluk erat oleh kakaknya. Tak hanya dipeluk, bahkan pipinya sudah tak perawan lagi. Habis dicium oleh cewek itu.


"Hwaaa ... Kak Rana sayang Dhiraaaa ...."


Usai menyelesaikan makan malam mereka, kedua gadis itu kemudian masuk ke dalam kamar Rana dan duduk di atas ranjang dengan kedua kaki bersila. Keduanya bertingkah seolah mereka seumuran, padahal jarak mereka nyaris lima tahun-an.


"Dhira, kamu kok bisa tau?" tanya Rana langsung saja. Habisnya, sebenarnya itu terlalu memalukan untuk diketahui adiknya.


Dhira menghela napas. "Seandainya Kakak bisa lebih nutupin kesedihan Kakak, gak nangis seharian, gak ngurung diri kayak orang stres, mungkin Dhira gak bakal tau. Anak kecil mana yang terlalu bodoh dan gak ngerti beginian?"


Pluk!


Dhira melotot. Baru saja kakaknya itu justru menoyor keningnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Nakal ya kamu. Anak kecil harusnya gak boleh tau yaa ....!" protes Rana.


"Lucu. Ya udah, habis ini gimana? Gak mungkin kan, Kakak ngejar Kak Arka lagi?" tanya Dhira kemudian, memalingkan wajahnya pada sebuah lukisan seorang cowok yang tergambar apik di dinding kamar kakaknya. Tampan dan tajam.


"Kamu inget Kak Raja?" Rana mulai membuka suara, setelah turut terlarut dalam mata elang hasil ukiran jemarinya sendiri.


"Ya, anak temen Papa. Yang vaksin Kakak dulu, kan?" Dhira beralih lagi pada kakaknya.


Rana manggut-manggut sejenak. "Tadi Kak Raja nembak Kakak, Ra ...."


"Terus? Kakak nerima?"


Rana memasang wajah lemas nan pasrahnya. "Iya ...," jawabnya nyaris tanpa suara.


Dhira menepuk kening payah. "Bagus, dulu Kakak jadi pelampiasan. Sekarang giliran Kakak yang jadiin orang lain pelampiasan," ucap Dhira tanpa sistem penyaringan.


"Dia nembak Kak Rana di depan Kak Arka. Malah ceweknya dia cium pipinya saat itu juga. Ya Kak Rana harus gimana? Gak ada pilihan lain, Dhira," Rana berusaha menjelaskan, walau ia sendiri tak membenarkan pilihannya. Tak ada rasa dengan Raja, dan mungkin, sampai kapan pun akan tetap tak ada.


"Ya udah. Masalah rasa, biarin semunya ngalir aja dulu. Gak ada salahnya mencoba. Kak Raja juga berhak dihargai."


Rana menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Pasti, Kakak bakal berusaha."


"Dan untuk Kak Arka .... Kak Rana harus ngebuktiin ke dia. Dhira selalu inget, cara balas dendam terbaik adalah berubah menjadi hebat, bahkan luar biasa, di luar persangkaan siapa saja," ucap Dhira, penuh dengan keyakinan. Kedua matanya menyipit, penuh rencana.


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Asal Kak Rana mau, gak ada yang gak mungkin. Mimpi itu ada di depan mata, asal kita percaya."


__ADS_2