The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Keraguan


__ADS_3

Usai menyelesaikan aktifitas mandinya, cowok itu keluar dari ruangan itu dengan handuk terikat pada pinggangnya, juga tangan kanan yang mengeringkan rambut basahnya dengan sebuah handuk kecil.


Tok tok tok!


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk saat cowok itu usai mengenakan pakaiannya; celana puntung dan kaos berwarna biru laut yang membuatnya semakin terlihat segar dengan wajah tampan dan rambut basah miliknya.


Kreeek...


Tanpa fikir panjang, cowok itu pun membukakan pintu kamarnya dan memdapati ternyata ayahnya lah yang ada di depan kamarnya.


"Pa?" ucap cowok itu spontan. Sedikit mengernyit sebab tak biasanya ayahnya mendatanginya seperti ini. Alias, biasanya mah, kalau mau bicara tentu ia yang dipanggil.


Rangga hanya menanggapi respon anak lelakinya itu dengan senyum hangat. Ia kemudian bersandar pada ambang pintu ruangan itu dengan kedua tangan yang disedekapkan di depan dada.


"Baru selesai mandinya, Ka?" tanyanya membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Iya, Pa. Ada apa, Pa?" tanya cowok itu balik, sembari melangkah mundur seolah sedang mempersilahkan ayahnya untuk masuk.


"Ya ... gak papa sih. Papa cuma mau tanya sama kamu," ucap pria itu tanpa mengubah posisinya. Sedang yang diajak bicara, kini meraih sebotol parfum dengan tangannya. Hendak memakai parfum itu.


"Tanya tentang apa, Pa?" Arka menoleh pada ayahnya. Berjaga-jaga jika saja ayahnya hendak membicarakan suatu hal yang penting.


"Tanya ... kamu, beneran serius sama Rana?" tanya ayah satu anak itu terdengar ragu.


Arka yang tadinya sedikit dag dig dug menunggu ucapan ayahnya kelar, kini tersenyum lega. Kirain apaan.


"Ya serius lah, Pa. Emangnya, Papa pernah liat aku bawa-bawa cewek lain?" tanya Arka kemudian terkekeh.


"Iya, Pa. Aku gak bakalan kok, nyakitin apalagi sampe nyelingkuhin dia." Arka tersenyum meyakinkan.


"Ya udah kalo gitu. Papa percaya sama kamu. Tapi kamu juga harus inget, Ka, selingkuh itu gak melulu kamu jalan atau chatingan sama cewek lain. Kalau hati kamu gak cuma buat Rana, itu namanya juga selingkuh."

__ADS_1


Arka terdiam. Senyumnya luruh seketika. Ia seakan tertohok oleh perkataan ayahnya barusan. Pertanyaannya sekarang adalah, masihkah ia menyisakan tempat di hatinya untuk wanita lain selain Rana?


"Ya udah, Ka, Papa turun duluan."


...💕...


Di lantai satu, Rana duduk di sofa panjang ruang keluarga ditemani oleh cicit cuit salah satu stasiun televisi yang jujur sekali, jarang ia tonton sebelumnya. Maklum saja. Kan, ia biasanya hanya nonton drama Korea.


Tak lama kemudian, terdengar derap kaki seseorang seperti sedang menuruni anak tangga.


Senyum Rana mengembang. Orang itu pasti Arka.


Dan tebakannya tentu benar. Kini, dilihatnya cowok itu memang tengah menuruni anak tangga. Dengan rambut sedikit berantakan dan basah yang agak menutupi dahinya. Dan andai saja bibir Rana tak terlampau kelu karena terpesona, ia ingin sekali berteriak, Arkaaa!! Sumpah Arka seksi bangeet!!


Arka yang diperhatikan sejak tadi, justru sama sekali tak menyadari keberadaan seseorang yang sudah terlanjur senyam-senyum sendiri nyaris seperti orang gila hanya karena memandanginya. Cowok itu berjalan dengan pandangan sedikit tertunduk. Entah sedang mencari apa di sepanjang perjalanannya menuruni anak tangga.

__ADS_1


Namun, setelah kakinya tuntas menuruni anak tangga, ia baru menoleh mendapati seorang cewek yang kini menatapnya dengan senyum yang entah sejak kapan ia maknai sebagai senyum termanis sedunia.


Arka seketika meneguk salivanya paksa. Namun, bukan hanya karena senyuman itu ia dibuat begini. Tapi lebih karena, cewek itu kini mengenakan pakaian daster dengan rambut dijepit sempurna tak tersisa. Menampilkan leher yang jenjang dan .... Ah, ide siapa ini?


__ADS_2