
Rasanya aneh sekali. Baru saja tadi pagi cewek itu menjadi korban empuk pembulian di sekolahnya, tapi malam ini ia justru senyum-senyum sendiri layaknya orang gila. Berbaring, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lantas mengingat-ingat kehangatan yang diberikan seorang cowok padanya, juga debaran jantung yang sama cepatnya diantara keduanya. Bagaimana ia bisa lupa, sedangkan rasanya terlampau indah begini?
Itulah Rana, lengkap dengan kebucinannya yang sudah stadium empat. Sedang di sisi lain, di salah satu kamar sebuah rumah mewah milik seorang pria pemilik perusahaan produsen film, seorang cowok duduk bersandar di atas ranjangnya menatapi ponselnya dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Ganti kali, ya," ucap cowok itu kemudian dengan lincah mengetik pada keyboard ponselnya mengganti nama kontak seorang cewek, sebab ternyata cewek itu sama sekali tak kembar dengan ibu tirinya yang menyebalkannya minta ampun.
Tiba-tiba ia teringat bisikan cewek itu tadi pagi. Hhh, dasar Rana, batinnya kemudian tak ragu menekan ikon call.
Gundul-gundul pacul-cul....
Begitu melihat sebuah nama di ponselnya, cewek itu spontan langsung berdiri dan melemparkan ponselnya ke ranjang.
"Yeay!! Yes yes yes!!" serunya riang sekali. Meloncat-loncat di atas ranjang.
Nyunggi-nyunggi wakol-kol....
"Yes! Arka nelpon gue!" Bukannya segera mengangkatnya, ia malah keasyikan meloncat-loncat.
Dan tiba-tiba ... mati. Seketika ponselnya kembali ke dalam keadaan hening.
Rana langsung memberhentikan mode jingkrak-jingkraknya dan memeriksa benda gepeng itu.
Satu panggilan tak terjawab dari Arkanya Rana.
"Hiks... hiks... hiks...," rengek gadis itu memeluk benda kesayangannya. Bagaimana ini? Nungguin Arka nelfon lagi atau langsung telfon balik saja?
Hiks... hiks... hiks.... Kalau nungguin Arka nelfon lagi, belum tentu cowok dingin itu akan melakukannya. Bisa saja cowok itu langsung tobat tak mau menelponnya lagi hanya gara-gara satu panggilan tak diangkat ini. Tapi ... kalau ia langsung telfon balik ... hiks hiks hiks, kok tiba-tiba ia punya rasa malu, ya?
"Kok gak diangkat, ya?" gumam Arka menatapi ponselnya dengan sorot kecewa. Cowok itu kemudian memijat pelipisnya. Telfon lagi, kagak, telfon lagi, kagak, telfon lagi, kagak?
"Ah, bodoamat!" Tanpa ba bi bu lagi, cowok itu segera menekan ikon call, lagi.
Di ujung sana, mulut Rana langsung ternganga. Segera mengangkat telfon tanpa ***** bengek lagi.
"Halo, Ra?" sapa Arka dengan suara berat khasnya.
Lagi-lagi, Rana tak langsung menjawab sapaan itu. Malah sibuk termehek-mehek suara Arka yang terdengar berdemage sekali saat bicara lewat telfon. Berkali-kali lipat lebih berdemage dari saat berbicara langsung.
__ADS_1
"Ra?" sapa Arka lagi.
"Eh, ha-halo, Ka!" balas Rana gelagapan sendiri.
"Sorry, Ra. Gua ganggu, ya?"
"Enggak!" jawab Rana antusias sekali. Kemudian langsung menutup mulut dengan telapak tangan, merutuki kebodohannya.
"Hhh,,," Di ujung sana, Arka justru tersenyum membayangkan tingkah Rana. Ah, kenapa jadi se menggemaskan ini?
"Lagi gak sibuk, kan?" tanyanya lagi.
"Enggak, hehehe," prenges Rana sembari membaringkan dirinya di ranjang, dengan sebuah bantal yang dipeluknya.
"Jadi, gimana?" tanya Arka tiba-tiba.
"Eh?" Mendengar pertanyaan Arka yang setiba-tiba itu, wajah Rana seketika merah padam. Secepat ini, ya?
"Gi-gimana apanya?" tanyanya pada akhirnya. Menggigit bibir bawah, jadi gelisah sendiri.
"Hhh, gimana ceritanya?"
Rana memandangi atap kamarnya. Berusaha mengingat setengah mati. "Oooh ... iya, iya, Rana inget," ucapnya setelah berhasil mengingat apa yang sudah ia janjikan tadi pagi pada cowok ini.
"Hmm... jadi?"
"Jadi, itu tadi rumah Papi Rana. Namanya Papi Darren. Sebenernya bukan kandung sih. Tapi Rana deket banget sama Papi Darren."
"Bukan kandung gimana, Ra?"
"Iya, Papi Darren itu papa tirinya Rana."
"Eh, sorry-sorry, Ra. Gue gak maksud...."
"Hhh,,," Rana menggeleng-gelengkan kepala tersenyum. "Bukan, Arkaa ... bukan papanya Rana yang kandung udah meninggal. Bukan. Arka mah suka gitu, deh." Rana tertawa kecil.
"Eh, salah, ya? Hahaha,,," tawa cowok itu seketika. Menertawakan dirinya sendiri dengan tawa yang cukup keras, sampai-sampai menghentikan langkah seorang wanita yang sedang berjalan di luar kamarnya, juga menularkan senyum pada wanita berparas ayu itu.
__ADS_1
"Hhh, iya. Papa kandung Rana masih idup kok, hehehe. Malahan sekarang udah sama maminya Rana lagi."
"Hmm... jadi lo tinggalnya sama bokap kandung lo?" Sembari berfikir, cowok itu mulai menyimpulkan.
"Iya. Jadi ceritanya ... dulu pas Rana masih bayi, papanya Rana itu ninggalin Mami sama Rana gak tau kemana. Jauh. Gak ada kabar. Mami udah usaha nyari, tapi ya gak mungkin leluasa karena Rana kan masih bayi waktu itu."
"Oke, lanjut..."
"Terus pas Rana udah hampir menginjak umur satu tahun, Mami udah capek nyari papa kandung Rana. Udah gak tau harus gimana lagi. Padahal, itu adalah saat-saat dimana Mami sama Rana butuh banget seorang papa. Yaa ... sebenernya bukan melulu soal finansial sih, Ka. Tapi Arka tau kan, gimana susahnya seorang ibu muda harus ngurusin anaknya yang masih bayi tanpa seorang ayah?" tanya Rana terasa getir sekali.
Ayah kandungnya sudah meninggalkannya sejak ia masih bayi, dan yang bisa ia simpulkan dari apa yang dilakukan ayahnya adalah ... bahwa pria itu sama sekali tak mengharapkan kelahirannya.
"Alasannya?"
"Gak tau," jawab Rana lemas. "Papa selalu ngelak kalau Mami ngebahas masalah itu. Tapi untungnya ada Papi Darren." Rana berusaha membangkitkan senyumannya.
"Jadi setelah umur lo sekitar satu tahun, Tante Puspa nikah sama Om Darren?"
"Iya, gitu. Papi Darren itu mantannya Mami pas SMA dulu. Masih punya rasa sama Mami. Putus nya pun, gara-gara Mami udah dijodohin sama keluarga besarnya."
"Mami lo nikah muda, Ra?"
"He em, bisa dibilang gitu lah. Makanya, di umur Mami yang ke 35 ini, Mami udah punya anak aku yang segede ini. Hehehe."
Arka terhenyak. Umur tiga puluh lima? Tante Sarah dan Tante Puspa dulunya adalah teman sekelas. Berarti, umur Tante Sarah juga sekitar segitu?
"Hhh... terus, kok bisa Tante Puspa sama bokap kandung lo lagi?"tanya cowok itu kemudian.
"Emm ... pas umur Rana sekitar lima tahunan, papa kandung Rana tiba-tiba balik lagi ke sini. Papa marah setelah tau Mami udah nikah lagi. Apalagi nikahnya sama mantan Mami pas SMA.
"Jadi Tante Puspa balik lagi sama bokap kandung lo? Kenapa gitu? Gue jadi kasian sama Om Darren. Mana tinggal sendirian lagi."
"Iya, Rana juga kasian. Tapi waktu itu Mami bener-bener udah bingung mau gimana lagi? Papa kandung Rana ngancem bakal ngambil hak asuh Rana kalau Mami gak balik lagi sama papa. Apalagi papa kandung Rana pas itu udah sukses jadi pengacara. Sedangkan Papi Darren? Dulu Papi Darren belum sesukses ini. Masih sama mudanya kayak maminya Rana."
Di ujung sana, Arka menghela nafasnya. "Dan akhirnya Om Darren ngerelain Tante Puspa balik lagi sama Bokap kandung lo?" simpul cowok itu turut merasakan adanya ketidakadilan. Pantas saja Om Darren sangat menjaga Rana walaupun gadis itu bukan anak kandungnya. Sudah merawat Rana semendari kecil. Bahkan, mengetahui gadis itu adalah buah hati dari seseorang yang sangat ia cintai pun, bukankah itu sudah cukup walau tak bersamanya?
"Iya. Dan sampai sekarang serapat apa pun Papi nutupin itu, tapi Rana selalu tau. Papi masih cinta sama Mami, makanya Papi belum siap cari pengganti. Hidup sendiri, berusaha menyibukkan diri supaya gak tersiksa sama rasa sakit hati."
__ADS_1
Arka geming. Tak segera menanggapi. Tiba-tiba sekelebat ingatan menyeruak begitu saja memenuhi otaknya. Tentang seorang gadis yang pernah membuatnya bahagia, walau tak lantas menjadi miliknya.