
Hari-hari terus berlalu. Dalam sepi, cowok itu sering dirundung gelisah. Tapi di balik itu semua, ia harus menjalani apa yang menjadi pilihannya dengan tenang. Tersenyum, dan berusaha memberikan yang terbaik sebab ia telah memilihnya sendiri.
Arka tersenyum melihat wajah belepotan bocah itu. Berhiaskan sisa-sisa bubur yang sedang dimakannya. Bibir kecilnya ******* dengan imut, dan Arka suka melihatnya.
"Makan yang banyak ya, Erlan. Biar kamu makin sehat," ucapnya sembari menyuap bocah itu. Duduk di ruang tamu rumah Ingga, masih dengan seragam putih abu-abunya.
"Besok kamu udah terima rapor ya, Ka?" Ingga duduk di sebelah Arka, membawa semangkok salad buah di tangannya.
"Iya," jawab Arka, beralih memapah Erlan pada pangkuannya. Kemudian melirik jam tangannya.
"Hmm ... aku penasaran, siapa yang bakal jadi juara umum di kelas 12 IPA." Ingga menopang dagu, tersenyum pada Arka.
"Lebih baik kamu fokus sama diri kamu sendiri. Nih...." Arka menyerahkan Erlan pada Ingga. " ... Aku pamit. Ada janji sama Dio, soalnya."
Ingga meletakkan semangkok salad buah miliknya. Menerima Erlan ke pangkuannya. "Janji apa?" tanya gadis itu.
Arka bangkit dari duduknya, lalu menyorobot jaket miliknya. "Main basket," katanya.
"Kok malah main basket? Emang udah bener-bener sembuh?" Ingga kemudian bangkit dari duduknya, masih dengan bayi dalam pelukannya.
"Udah. Lagian, udah lama gak main. Sayang aja, kalau dilewatin."
__ADS_1
"Di mana?"
"Di lapangan sekolah."
"Cuma sama Dio?" tanya Ingga.
"Nggak, yang lain juga banyak; temen-temenku."
Ingga terdiam sejenak. Lalu menghela napas. " ... Oke, Hati-hati."
...💕...
Arka berjalan di koridor sekolah yang sepi. Hari sudah sore dan hanya ada Pak Uus serta beberapa temannya di bangunan berderet ini.
"Woy, bro! Kemana aja? Udah ditungguin juga," sambut Arsya saat ia baru memasuki area lapangan basket itu.
"Biasa, Sya ... si Arka mah dikurung ama si Ingga," sindir Dio, masih fokus mencoba merebut bola dari Kibo yang berada di hadapannya.
Arka tersenyum kecil. Mengabaikan sindiran Dio. Cowok itu lantas membuka jaket dan seragam putihnya, masuk ke area lapangan dan bergabung bersama Dio: merebut bola dari kendali tangan Kibo, dan ia berhasil.
Permainan terus berlanjut. Tak banyak obrolan yang bisa mereka bahas. Hanya sedikit candaan yang bisa meraka selipkan dalam berlangsungnya permainan basket mereka. Ya, ini adalah kali pertamanya setelah beberapa hari Arka terlalu fokus dengan Ingga dan kehidupannya.
__ADS_1
"Huh ...." Arka mendudukkan dirinya. Kakinya berselonjor dan tangannya bertumpu ke belakang. Permainan sudah usai dan meskipun seru, itu cukup melelahkan.
"Cemen lo, Ka. Kali ini gue yang menang," ucap Arsya juga terengah-engah, duduk di samping Arka.
Dio datang-datang langsung memasang posisi terlentang di sisi lain Arka. "Huh ... bisa kurus gue kalo gini," ucap cowok itu, dengan peluh di keningnya.
Arka tertawa. "Iya, kali ini lo pada yang menang. Tapi kalau besok-besok, gue gak akan biarin lagi," ucap cowok itu tersenyum.
"Huh ... kayaknya sifat songong lu udah permanen ya, Ka." Dio menoleh pada Arka, tersenyum miring pada cowok itu.
"Ya udah, kalau gitu ... karena gue yang kalah, jadi ...."
"Gue tau!" Dio berseru. Bangkit dari posisi terlentangnya. "Lo pasti mau traktir kita, kan?" tanya Dio bersemangat.
"Huuu! Dasar gentong! Makanan aja pikiran lo," seru Arsya dengan nada sewot nya.
Arka tertawa.
"Ya udah yok! Gue juga setujuuuu!" Sekarang, justru Arsya yang jadi terlalu bersemangat. Bangkit dari duduknya dan mengepalkan tangannya ke udara.
Mereka pun segera bangkit dan berjalan keluar. Tapi saat mereka sudah sampai di koridor, Dio tiba-tiba memberhentikan langkahnya.
__ADS_1
"Yah ..." Cowok itu menepuk jidatnya pelan."Ka, kunci motor gue ketinggalan. Temenin gue ngambil, ya."