The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Sepasang Sendal Jepit


__ADS_3

"Sendiri?" tanya Rena terdengar tak suka.


"Bu Irma sih, nyuruhnya dia doang."


"Harus banget ya, Nada yang ngerapiin?" Rena menginterogasi, was-was saja kalau Bella kumat nekatnya.


"Ya siapa lagi? Kan, cuma dia yang anak bantuan di sekolah ini," ucap Bella tak tanggung-tanggung.


"Gak papa, Rey. Aku bisa kok, sendiri aja," ucap Nada, tersenyum pada Rena. Berusaha tak mengacuhkan hinaan Bella barusan.


"Yang bener nih, lo gak papa?" tanya Rena memastikan, bersamaan dengan hilangnya Bella dari ambang pintu.


"Gak papa. Aku ngerti kok, pasti kamu gak suka kan, kalo banyak debu?" ucap Nada kemudian terkekeh. Ia tahu ia tak perlu merepotkan Rena mengenai hal semacam ini.


"Hhh,,, bisa aja lo, Nad. Ya udah deh, gue balik duluan, ya?"


"Siap," ucap Nada, kemudian kedua remaja itu berjalan keluar kelas dan berpisah di tengah perjalanan.


Berjalan sendirian di sepanjang koridor sekolah, Rena menggigit bibir bawahnya gelisah. Pikirannya berkecamuk, terus mengahantuinya tanpa henti. Tentang Raja dan cinta bertepuk sebelah tangannya. Juga tentang Rana yang terlampau polos untuk disalahkan dalam permasalahannya ini.


"Hai, Rey!" sapa seorang cowok tiba-tiba merengkuh bahu Rena akrab. Menguarkan wangi khas cowok yang Rena amat kenal.


"Raja?" ucap Rena menoleh pada cowok itu. Merasakan setiap detak di jantungnya. Mengubah murung di wajahnya menjadi senyuman bahagia.


"Sendirian aja lo, Rey? Temen-temen lo kemana?" tanya Raja, masih belum mengalihkan tangan kanannya dari bahu Rena.


"Hhh, udah pulang duluan," jawab Rena, menundukkan pandangannya. Tahu sekali siapa yang sebenarnya ditanyakan oleh Raja. Dan ia cukup tahu diri.


"Pulang bareng gue, ya?" ucap Raja, kemudian tersenyum lebar pada cewek di sampingnya. "Hari ini gue bawa mobil," ucapnya lagi, mengedipkan sebelah matanya pada Rena.


"Hhh," Rena membalas senyum Raja. Dalam hati berdoa agar masih ada kesempatan baginya untuk memasuki hati cowok itu.


"Rey!" panggil seorang cowok tiba-tiba, membuat Raja spontan menurunkan tangannya dari bahu Rena.


"Nada mana?" tanya Arsya to the point saja.

__ADS_1


"Lagi bersih-bersih di perpus. Oh ya, lo gak usah sok-sokan nemenin dia!" Rena kumat galaknya.


"Lah, kenapa?" jelas Arsya butuh alasan untuk larangan Rena barusan.


"Was-was aja kalo lo ngapa-ngapain dia," ucap Rena acuh tak acuh.


...💕...


Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan rata-rata. Bergerak santai hendak menuju ke sebuah rumah yang mewah pula, di jalan Sudirman No. 1.


"Di rumah gimana, Ra? Papa kamu aman, kan?" tanya Darren sembari fokus menyetir mobil, sesekali menoleh pada anak gadis kesayangannya yang duduk di sebelahnya.


"Ya gitu deh, Pi. Kerjaannya setiap hari cuma bla bla bla, harus begini, harus begitu, Belajar! Jangan nonton drakor mulu!... Yah, pada intinya gitu, Pi. Ceramah harian setiap makan keluarga," keluh Rana panjang lebar, memainkan kedua tangannya sebagai bahan praktek Om Cipto ketika mengomel.


"Hhh, ya udah, tetep sabar aja. Yang penting kamu gak dikurung lagi dalam kamar," ucap Dharma kemudian terkekeh.


"Huh, Papi! Malah ngetawain Rana. Udah ah, bahas Om Cipto nya," sungut gadis itu mengerucutkan bibir mungilnya.


"Papa, Raa...," Darren mengingatkan. Tahu betul walau bagaimana pun juga, pria tak menyenangkan itu adalah ayah Rana. Ayah kandung Rana.


"Iya deh, Papa," ucap Rana kemudian memasang wajah merengut.


"Thanks ya, Bro!" seru cowok gendut itu mengangkat tangan kanannya pada temannya yang hendak pergi dari hadapannya.


"Dio!" panggil Rana saat temen Dio sudah berlalu entah kemana.


"Loh, Rana?" ucap Dio, sedikit terkejut mendapati Rana berada di dalam mobil bersama duda baby face tetangga sebelah rumahnya, kedua tangannya spontan menutup mulutnya yang terlanjur menganga.


"Temen kamu, Ra?" tanya Darren setelah menyapa Dio dengan senyum ramah.


"Iya, Pi. Papi duluan aja, ya. Rana pengen main ke rumah Dio," ucap cewek itu sembari membuka pintu mobil.


"Iya. Sekalian Papi mau masakin makanan kesukaan kamu abis ini."


"Siip!" ucap Rana, menyodorkan kedua jempolnya riang, kemudian keluar dari mobil dan menghampiri Dio.

__ADS_1


"Ra? Jangan bilang... Om Darren bokap lo?" tanya Dio setelah mobil Darren sudah masuk ke area rumah pria tajir melintir itu.


"Emang," jawab Rana polos, tersenyum menampilkan gigi-giginya yang berjajar rapi.


"What?! Please deh, Ra! Sumpah?!" Dio masih tak menyangka.


"He em," Rana menganggukkan kepalanya, agak heran.


"Gila! Pantesan lo bisa secantik ini. Ya iyalah, bibit unggul gitu loh!" Dio nyerocos seenak jidatnya.


Rana menarik nafas, kemudian membuangnya perlahan. "Bokap tiri, Yoo ...," ucap cewek itu kemudian, menatap Dio dengan tatapan malas.


"Ha?" Dio malah melongo lagi.


"Udah ah. Gua pengen main ke rumah elo. Yuk, buru!" Cewek itu kemudian menarik tangan Dio memasuki rumahnya sendiri.


"Arka biasanya sering ke sini, Yo?" tanya Rana setelah duduk di sofa rumah Dio, pandangannya menyisiri ruang tamu Dio yang sedikit berantakan dengan gitar dan bungkus snack yang tercecer dimana-mana. Maklum saja, ini ruang tamu khusus untuk teman-teman Dio yang memang sering berkunjung ke sini.


"Ya gitu deh, Arka sama yang lain kalo gak nongkrong di tongkrongan, ya disini mereka. Lagi pula, nyokap gue seneng banget malah, kalo mereka dateng main," terang Dio, duduk di sebelah Rana.


"Oh ya, em ... Yo, sebenernya gue pengen banget nanyain sesuatu ke elo," ucap Rana hendak membuka topik pembahasan yang sebenarnya sudah ia simpan sejak lama.


"Ha? Tanya apaan, Ra?"


"Tentang foto ini." Rana mengeluarkan selembar foto dari tasnya, kemudian menunjukkan foto itu pada Dio.


"Lo dapet foto ini dari mana, Ra?" tanya Dio mengambil alih foto itu dari tangan Rana, mengamati foto itu lama, kemudian beralih ke wajah Rana.


"Dari UKS. Pas gue mau ngobatin Arka."


"Tapi lo belum nanyain ini ke dia, kan?"


"Belum," Rana menggeleng-gelengkan kepala. " Arka kayak benci banget sama Raja, jadi gue gak berani nanyain. Tapi kalau dari foto ini ... mereka keliatan deket banget," terang Rana lagi.


Dio menghela napas. Menatap foto itu dalam, seperti sedang mengenang kisah lama.

__ADS_1


"Dulu, mereka emang deket, Ra. Deket banget malahan. Kayak jantung sama hati. Saling membantu, kayak tangan kiri sama tangan kanan. Berbeda, tapi saling melengkapi, kayak sepasang sendal jepit yang baru gue beli di pasar malam kemarin. Tapi itu dulu, sekarang udah beda," jelas Dio terdengar puitis sekali. "Tiba-tiba suatu hari, Arka ngehabisin Raja sampai babak belur dan masuk rumah sakit. Untung aja dia gak metong."


"Kok bisa? Alasannya?" Rana sudah terlanjur serius mendengarkan kisah masalalu Arka dan Raja, sudah tak peduli dengan ungkapan-ungkapan lucu Dio.


__ADS_2