The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tirai Rasa


__ADS_3

"Tuh kan, sesuai dugaan gue. Pasti kemarin itu Nada dijebak," ucap Arsya puas sekali mendapat jawaban dari rekaman CCTV sekolahnya.


"Lo kenal, siapa cewek ini?" tanya Arka, masih fokus mantengin layar di hadapannya.


"Namanya Bella, punya obsesi ngalahin Nada dari dulu. Selama ini dia selalu juara dua di kelas mereka."


"Hm..." Arka terlalu fokus untuk menanggapi lebih jauh lagi.


"Sekarang, kita tinggal cari siapa yang nempelin semua itu di mading," ucap Arsya mengelus-elus dagunya dengan jemari, memfokuskan perhatiannya lagi.


Sedang fokus-fokusnya, keterangan waktu di layar CCTV sudah menunjukkan pukul 00.00, tiba-tiba semua layar CCTV berganti gelap, dengan sebuah tulisan "Terjadi masalah" di tengahnya.


"Anj*r!" umpat Arsya memukul meja di hadapannya. "Perasaan CCTV di sini aman-aman aja. Kok tiba-tiba jadi kayak gini," gerutunya sebal sekali, semenyebalkan Rana sering berlaku padanya. Tapi cewek itu tetap saja terlalu polos untuk dijahati begini.


Arka memalingkan wajahnya pada Arsya, lalu dengan jelas berkata, "Kita cari hacker yang bisa ngatasi ini."


...💕...


"Pi, anterin aku ke rumahnya Rena, yuk! Rana liat catatan sama Rey aja," ucap Rana sama sekali tak mengetahui bahwa temannya itu juga tak masuk sekolah hari ini. Ditegakkannya tubuhnya yang sebelumnya bersandar pada bahu ayahnya.


"Iyaa ... tapi kamu di sana bener-bener nyatet. Jangan malah nonton drakor." Darren berdiri dari duduknya dengan tangan kanan yang ia sempatkan mengacak-acak rambut di puncak kepala anak gadisnya.


"Iyaa, Papi .... Papi kan tau sendiri, Rey galaknya kayak apa. Bisa jadi ayam geprek Rana, kalau nekat nonton drakor padahal ketinggalan pelajaran gini," ucap Rana menampilkan Prengesannya.


...💕...


Ting tung ting tung....


Bel rumah berbunyi. Rana menggoyang-goyangkan kepalanya menikmati bunyi itu. Teringat wajah tampan Arka dengan kaos putih polos dan celana puntungnya, menyentuh tangannya membuat ia baper sampai saat ini.


Ting tung ting tung....


Baru saja 0,5 detik bel berhenti, cewek itu langsung menekannya lagi. Masih dengan posisi yang sama, menunggu temannya keluar dari pintu rumah di hadapannya ini.


Kreek..., pintu terbuka. Menampilkan wajah cewek dengan sembab di matanya.


"Rey!!" sapa Rana heboh sekali, dengan kedua tangan melambai-lambai. Benar-benar belum peka terhadap keadaan sahabatnya.


"Hai, Ra!" Rena balas menyapa. Menampilkan senyum tertangguh miliknya.

__ADS_1


"Rey, kok mata lo sembab? Lo abis nangis, ya?" Rana melangkah mendekati temannya itu, kemudian memeluknya erat sekali. "Cerita sama Rana. Om Wijaya jahat lagi, ya?"


"Hhh,,," Rena balas memeluk. Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca. "Gak papa. Gue gak papa kok, selama masih ada kalian yang selalu ada buat gue," ucapnya terasa getir sekali.


"Kalau gitu, jangan nangis lagi. Pasti Rey tambah cantik kalau senyum terus," ucapnya tersenyum pada temannya itu.


"Hhh,,, iya deh, iya. Gue udah senyum nih," ucap Rena memamerkan senyumnya. Setengah mati menghalau air matanya agar tak jatuh lagi.


"Nah, gitu dong." Rana melepas pelukannya. Puas sekali melihat senyum di bibir Rena.


"Hmm,,, ayo deh, Ra, masuk!" ucap Rena kemudian berjalan menuju salah satu sofa di ruang tamunya, diikuti Rena yang berjalan di belakangnya.


"Rana ke sini mau pinjem catatan, Rey," ucap Rana kemudian memperlihatkan prengesan pada cewek yang duduk di sampingnya.


"Loh, lo juga gak sekolah hari ini, Ra?" tanya Rena terkejut.


"Juga? Rey juga gak sekolah?"


"Iya, tadinya gue ada acara keluarga, makanya gue izin sekolah. Tapi yaa ... gue pulang duluan. Biasalah," dusta Rena pandai sekali.


"Ooh, gitu," ucap Rana membulatkan bibirnya polos. Mudah sekali terbohongi.


"Kalo lo? Kok gak masuk hari ini? Jangan-jangan lo bolos cuma gara-gara nonton drakor," tuduh Rena menyipitkan matanya penuh selidik.


"What?! Yang bener lo, Ra?"


"He em," Rana mengangguk lemas.


"Waahb... cari mati tuh orang sama gue." Rena meninju-ninjukan tangan kanannya pada telapak tangan kirinya.


"He em." Rana beralih posisi menegakkan badan. "Dia belum tau aja kalau temen Rana yang satu ini pegulat sumo internasional."


Plak!


Satu timpukan tangan seketika melipir di jidat gadis mungil itu.


...💕...


Di sebuah kamar. Sendiri. Bercahayakan matahari sore hari yang remang. Seorang gadis menyandarkan kepalanya pada ambang jendela. Memandangi layar ponsel di hadapannya. Sudah dua hari ini tak ada notif spesial dari benda itu.

__ADS_1


Awalnya ia hanya ingin mencoba-coba, bagaimana respon pacarnya kalau tak ada kabar darinya. Bagaimana kalau ia tak mengirimkan pesan atau menelfon cowok itu. Ia hanya penasaran, sebab selama ini ia lah yang selalu mengawali. Entah sekedar berkirim pesan atau Viacall.


Awalnya ia fikir cowok itu akan panik, mengiranya sedang marah dan kemudian segera mendatanginya ke rumah. Atau setidaknya ... dihubungi lewat ponsel pun tak apa.


Tapi ternyata tidak. Dua hari tak berkirim kabar dengannya, ternyata Zein sama sekali tak bermasalah. Seperti tak ada rasa peduli.


Atau memang ... cowok itu sudah tak punya rasa padanya? Entahlah, tapi hati kecilnya selalu menyuarakan hal itu.


Zein seperti sedang menyimpan rasa pada cewek yang ia katakan dianggapnya seperti adik sendiri. Ditambah lagi, ia juga melihat dengan jelas dari mata cewek itu. Bahwa cewek itu menyukai Zein. Hari itu ia melihat tisu yang berhamburan begitu saja di toilet. Vira sedang menutupi rasa cemburunya.


Jadi, siapa yang orang ketiga di sini?


...💕...


Cakrawala bumi sudah kembali ke persembunyiannya, menyisakan cahaya remang yang masih menyinari. Hari sudah sore, tapi gadis yang masih berseragam sekolah lengkap itu baru saja turun tepat di depan gerbang rumahnya dari sebuah mobil mewah milik seorang cowok bernama lengkap Reza Reyandyo.


"Thanks ya, Za," ucap Vira pada cowok yang duduk di kursi kemudi itu.


"Are you welcome." Reza meraih tangan Vira, mengecup tangan halus itu sebanyak dua kali. "Makasih juga buat hari ini," ucap Reza lagi, lengkap dengan senyum mesra di bibirnya.


Vira balas tersenyum, menarik tangannya perlahan dan melangkah meninggalkan cowok itu. "Daa!" ucapnya setelah berdiri di ambang gerbang.


Usai Reza meninggalkan area rumahnya, Vira melangkahkan kaki menuju pintu rumahnya lemas. Tak mengacuhkan tatapan heran Mang Ono yang karena melihat raut sedih di wajahnya, jadi sungkan untuk bertanya.


Kreek...


Lemas sekali cewek itu membuka pintu rumahnya. Menyandarkan kepala sebentar di daun pintu, kemudian melangkahkan kepalanya lagi. Benar-benar tak punya gairah hidup. Berpura-pura bahagia ternyata terasa begitu melelahkan.


"Vira! Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang."


Mendengar suara teguran ayahnya, Vira lantas mengarahkan pandangan pada asal suara. Didapatinya Papah, Mamah, bahkan Kak Zein sedang menatapnya heran sekaligus juga terkejut.


"Habis dari rumah temen. Vira ngerjain tugas sekolah," jawabnya enteng.


"Ngerjain tugas sampai sesore ini, kenapa gak ngasih tau orang rumah?" tanya Dharma lagi, penuh selidik.


"Hp Vira lobet, Pah. Udah, ya, Vira kecapean." Dengan acuh tak acuh, gadis itu kemudian melangkahkan kakinya lagi. Melanjutkan perjalanan menuju kamarnya.


"Vir! Vira!" Dharma sontak berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Udah, Pah, udah. Kasian Vira, ngerjain tugas sampe sesore ini," ucap Soraya menahan tangan suaminya.


Sedang di seberang sana, Zein hanya bisa menghela nafas lemas. Ini bukan Vira yang ia kenal.


__ADS_2