The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Sesak Yang Sama


__ADS_3

"Udah mau ujian semester. Kamu jangan banyak beban. Kalau ada masalah, inget, aku ada di samping kamu bukan cuma buat anter jemput berangkat sekolah," lanjut Arka kemudian, menampilkan senyum menawannya.


"Iiih, Arkaa!" rengek Rana mencubit pinggang cowok itu.


"Eh." Arka hanya meringis sedikit, tapi kemudian tersenyum lagi. Tangannya bergerak ke atas pucuk kepala Rana, kemudian menyusuri surai hitam itu. Aromanya harum, seperti aroma buah-buahan atau apapun itu yang manis. Sama seperti orangnya.


Di salah satu ambang pintu di kelas ujung sana, seorang gadis memandangi kedua remaja itu dengan wajah putus asa. Pada kedua tangannya, gadis itu membawa sebuah kotak dengan sebuah surat cantik di atasnya. Gadis itu menghela napas. Apa cinta pertamanya benar-benar tak bisa diperjuangkan?


"Kenapa lo, Al?" tanya seorang cewek tiba-tiba menyenggol lengan gadis itu.


Alea menghela napas lagi. Kemudian menundukkan kepalanya lemas. "Nggak papa," jawabnya alakadarnya.


"Tenang aja. Setau gue mereka belum pacaran, kok."


"Iya?" tanya Alea langsung dibuat antusias.

__ADS_1


"Iya. Lagian, dari pada Rana, lo lebih cantik, kok."


...💕...


"Ya udah. Aku ke kelas, ya? Nanti kalo guru-guru pada rapat, dan jam kamu kosong, bisa telfon atau dateng ke kelas aku kalau mau," ujar cowok tepat di depan pintu kelas Rana.


"Iya." Rana manggut-manggut, memamerkan senyum termanisnya.


"Ya udah. Masuk, gih," suruh cowok itu.


"Eh, kenapa?" Arka mengernyit heran.


"Biar gak digodain sama cewek lain," jawab Rana kemudian merengut manja.


Arka tertawa kecil. Cowok itu kemudian menepuk-nepuk pucuk kepala Rana. "Ya udah, liatin aku sampe masuk ke kelas, ya. Kalau aku sampe macem-macem, gak papa, lempar aja pake batu," ucapnya kemudian terkekeh pelan.

__ADS_1


"Oke! Siap, Boss qyuu!!" seru Rana sembari menirukan gaya spam jempol, lengkap dengan prengesan kudanya.


Melihat tingkah Rana, kedua sudut bibir cowok itu kembali terangkat. Kemudian dengan langkah panjangnya, ia mulai berjalan menuju kelasnya. Dimasukkannya kedua tangannya ke saku celana. Ia sedang berfikir, apakah baik ia menyembunyikan informasi ini dari Rana berlama-lama. Ini informasi penting, tapi ia tak mau Rana semakin banyak fikiran jika nanti mendengarnya. Ditambah lagi, ujian semester satu akan segera diselenggarakan.


"Hai, Kak Arka!" sapa beberapa adik kelas tersenyum semanis mungkin sembari mengangkat tangannya berdada pada Arka.


Alis Arka terpaut menatap mereka tak bersahabat. "Gak usah diimut-imutin! Najis..," gertak cowok itu membuat cewek-cewek yang tadi menyapanya kini tertunduk mengkeret, tapi tetap mengulum senyum. Semua orang juga tahu, kakak kelas mereka satu ini memang paling mempesona ketika sedang marah.


Arka menggeleng kepala heran sembari terus melangkahkan kakinya. Cowok itu kemudian mengalihkan pandangannya pada kelas Rana yang sudah di ujung sana. Gadis itu tersenyum lebar ke arahnya, sembari menampilkan gaya spam jempolnya.


...💕...


Usai mengawasi kepergian Arka yang kini sudah masuk ke kelasnya, Rana menghela napas samar. Setelah ini, pasti ia akan merasakan ketidaknyamanan yang mencekal dadanya. Menimbulkan sesak di setiap nafasnya. Di mana Vira? Apa ia sudah ada di dalam kelas? Dan apa bisa ia melalui hari ini tanpa pekikan heboh Vira seperti di hari-hari biasanya?


Rana kemudian akhirnya benar-benar melangkah memasuki kelasnya. Di dalam sudah ramai, tapi di jajaran tempat duduknya masih kosong. Hanya ada Nada di sana. Rena mungkin tidak masuk hari ini. Dan Vira ....

__ADS_1


Tanpa permisi, manik mata Rana menyusuri setiap senti kelas itu. Dan kemudian, pandangan matanya akhirnya bertabrakan dengan pandangan mata seseorang. Cewek itu duduk tepat di samping Dio. Satu detik ... dua detik ... tiga detik, keduanya kemudian serempak memalingkan wajah. Merasakan rasa sesak yang sama-sama memenuhi rongga dada.


__ADS_2