The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Rindu dan Keegoisan


__ADS_3

Di ruang tamu rumah Rana, seorang cowok dengan seragam sekolah duduk sendiri. Pandangannya menyisir ruangan itu. Ia kemudian memandangi tangga di ruangan itu lagi, menunggu ibu Rana datang dan memberi informasi mengenai keadaan Rana. Dan senyumnya seketika mengembang saat akhirnya wanita itu datang juga.


"Tunggu ya, abis ini Rana turun kok," ucap Puspa, tersenyum pada cowok itu pula.


"Oh iya, Tante." Raja mengangguk senang.


"Tante tinggal ke dapur dulu, ya. Nggak papa, kan?" tanya Puspa kemudian.


Raja mengangguk mengiyakan. Puspa pun pergi ke arah dapur, meninggalkan Raja duduk sendiri di ruang tamu rumahnya.


Di kamarnya, Rana menatap pantulan dirinya geming. Terlalu banyak kesakitan yang harus ia tanggung. Sementara itu, hidup terus berjalan. Entah apa sebutannya. Hubungannya dengan Arka memang hanya rupa-rupa remang yang samar. Indah, namun hanya sekilas. Dan, ia juga baru menyadari, tak perlu sebuah ikatan yang pasti untuk menorehkan luka hati yang terdalam. Ia dan Arka tak pernah benar-benar terikat.


Tapi, kenapa harus sesakit ini?


Stop, Ra! Jangan kumat lagi gobloknya! Ya iyalah Arka tega ... toh, lo bukan pacarnya beneran.


Rana menggeleng-geleng pelan. Mengusir segala hal yang memenuhi kepalanya. Ia kemudian menata kembali rambutnya yang sudah ia sisir rapi. Lalu beralih pada bibirnya yang pucat pasi.


Tak perlu berfikir lebih banyak lagi, gadis itu kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, menuruni tangga, dan menghampiri Raja yang dari gerakannya, terlihat sekali cowok itu sedang gusar entah karena apa.


"Hai, Ja." Rana menyapa cowok itu, menghadirkan senyum di antara segala kesakitannya.


"Ra? Lo gak papa, kan?" Raja mengangkat wajahnya, baru menyadari kehadiran Rana yang sudah duduk di sofa, bersebrangan dengannya.


Rana tersenyum tipis. Akan munafik jika ia berkata ia baik-baik saja. Tapi akan terasa aneh, jika tiba-tiba ia menjadikan Raja sebagai tumpuannya, sedang sebelumnya ia menjauhi Raja sama sekali. Jangankan berkomunikasi, membalas senyum sapaan cowok itu saja ia enggan.


"Jangan dipendem sendiri, Ra. Gue tau lo butuh seseorang buat dengerin curhatan lo," ucap Raja, seolah cowok itu tahu segalanya. Ah, tapi Raja memang selalu seperti itu. Cowok itu terlalu peka, untuk ukuran cowok yang tak pernah ia hiraukan kehadirannya.


"Makasih, Ja. Maaf ... gue nyesel, selama ini udah nyuekin elo." Rana tertunduk. Ia terlalu banyak kehilangan, dan Raja datang mengulurkan tangan.


Raja tertawa. Kemudian berucap, "Jalan sama gue, mau? .... Jangan ngurung diri terus ...." Senyumnya merekah sempurna, seolah inilah saat yang ia tunggu-tunggu sebelumnya.


...💕...

__ADS_1


Vira mengamati layar ponselnya lama. Terlampau lama, hingga ia sendiri tak menyadari sejak kapan memulainya. Beranda chat grup itu hampa, sehampa keadaan hatinya saat ini. Keberadaan Kak Zein disisinya tak lantas membuat ia benar-benar bahagia. Bahkan dalam sikap acuhnya pun, sisi hatinya selalu berbisik; ia rindu sahabat-sahaabatnya. Rena, Nada, dan ... Rana. Siapa yang betah menjalani hari tanpa mereka?


Ah, tapi ia terlampau egois. Bukankah suatu hal yang mudah untuk mengetikkan pesan lantas mengirimnya di grup itu? Tapi jarinya mendadak kaku, ia yang biasanya pandai mencairkan suasana saat berkirim pesan mendadak kelu. Ah, entahlah, ia hanya bisa berharap, pada entah siapa yang akan mendamaikan persahabatan mereka. Pada entah siapa, yang mau mengorbankan egonya untuk bersama lagi seperti sedia kala.


"Vir!" panggil seorang wanita menyembulkan kepala dari balik pintu kamar Vira. "Mamah mau belanja. Mau ikut gak?" tanya wanita itu, tersenyum penuh semangat.


Vira geming sejenak. " ... Boleh. Tapi tunggu ya, Ma," ucap cewek itu pada akhirnya.


Selepas kepergian ibunya, Vira kemudian bangkit dari duduknya. Menaruh ponselnya di atas nakas. Tapi kemudian, saat ia tengah menengok rupanya pada pantulan cermin, benda pipih itu bergetar. Menyebabkan Vira segera menoleh ke arahnya.


Notif pesan dari sebuah grup yang sebelumya hanya bisa ia pandangi belaka.


Rana?


Bukan Janda Kembang


@Ngatiyem


Hai, kalian!


Kangen deh ... pengen ngumpul-ngumpul lagi.


Vira terpaku pada layar ponselnya. Tanpa ia sadari, setetes kristal bening luruh begitu saja.


Hai juga, Ra! Gue baik .... Lo gimana? Baik, kan? Bisiknya pada diri sendiri. Tapi, jarinya seolah hilang daya. Ia tak sanggup membalas pesan itu walau hanya satu kata. Tak sanggupkah, atau tak mau-kah? Ia sendiri tak menemukan jawabannya.


...💕...


Rey, kuatin Rana. Arka ninggalin dia. Gue gak bisa ....


Rena membuka pesan dari Daniel. Sementara, di depannya seorang Andra menatap dengan tanda tanya. Mereka sedang makan siang di sebuah warung. Warung yang belakangan ini sering ia kunjungi bersama Andra.


Gadis itu mengernyit, penuh tanda tanya. Arka? Ninggalin Rana? Ah, itu terlalu mustahil. Arka mana mungkin melakukanya. Tapi ... tadi, Rana tidak sekolah. Arka juga. Lalu, dengan alasan apa seorang Arka tega melakukannya?

__ADS_1


"Siapa, Rey?" tanya Andra, kemudian kembali menikmati makan siangnya.


"Nih ... liat." Tanpa ragu, Rena memperlihatkan layar ponselnya pada Andra. Mengisyaratkan tanda tanya melalui kedua alisnya.


Andra mengernyit, kemudian terlihat sedikit berfikir. Tempo lalu, seseorang dengan nomor telpon tak dikenal mengirimkan pesan padanya. Bertanya mengenai prosedur pindah sekolah di SMA Tunas Bangsa, juga kapan ia bisa mengurus kepindahannya, lagi.


"Tunggu, Ra." Andra mengambil ponselnya. Jemarinya lincah menari di atas keyboard ponselnya. Dan dalam hitungan detik, ekspresi wajah cowok itu tampak berbeda.


"Kenapa, Ndra?" tanya Rena.


"Gue tau, kenapa Arka ninggalin Rana," ucap cowok itu, tanpa kilah canda terpancar dari matanya.


"Lho, beneran? Kenapa?" Rena mengalihkan fokus dari makan siangnya.


"Ingga dateng. Dia masalalunya Arka."


Rena geming, kemudian mengenggam ponselnya. Dan dalam hitungan detik, ponsel itu bergetar. Sebuah notif dari grup, dan pengirimannya adalah Rana.


... 💕...


"Bajingan!"


Prak!


Nada memejamkan matanya erat. Kejadian hari lalu masih jelas terekam dalam otaknya. Ia sendiri tak tahu, kenapa ia bisa menampar cowok itu sedemikian rupa. Bahkan mendorongnya kasar seolah cowok itu begitu hina. Ia merasa bersalah, tapi demi apapun, ia tahu, itulah yang harus dilakukannya.


Cewek itu lalu melepas kaca matanya. Menatap langit-langit kamarnya yang terbuat dari kayu ... dan rapuh. Hidup terasa begitu kejam. Tapi, lebih parahnya lagi, ia merasa begitu sepi.


Tak ada obrolan gabut. Tak ada tawa pecah yang mengaduk isi perut. Tak ada juga, candaan garing yang anehnya membuat tawa pecah tanpa syarat. Semuanya hilang. Ditelan malam. Dihapus sinar rembulan.


"Cuma aku yang ngerasain ini, atau kalian juga?" tanya cewek itu, disusul suara getar pada ponselnya yang mau tak mau mengalihkan perhatiannya.


"Rana?"

__ADS_1


Ia geming. Menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Rindu. Benci. Marah. Kecewa. Peduli. Iba. Semunya menjadi satu.


Tapi keegoisan adalah pemenang, dimana pun ia berada. Dalam hitungan detik, gadis itu menyisihkan ponselnya. Mengatakan pada dirinya, bahwa Rana terlalu jahat padanya.


__ADS_2