
"Udah ya, Mang, vira masuk dulu," ucap Vira kemudian terburu-buru masuk. Jangan, Ia tak boleh lemah seperti ini, dalam kehidupan percintaan hanya ada dua posisi, pihak menyakiti dan pihak tersakiti.
Ia tak mau lagi menjadi pihak nomor dua, maka ia harus menjadi pihak nomor satu, itu adalah prinsip baginya, sejak kejadian itu.
"Eh, Mas, baru dateng, Mas? Udah lama banget ya, Mas Zien baru pulang sekarang," sapa mang Ono pada seorang cowok yang baru saja keluar dari mobilnya lengkap dengan koper di kedua tangannya.
"Iya, Mang," ucap cowok itu sembari menaruh kedua kopernya, kepalanya terlihat celingukan entah mencari siapa.
"Non Viranya habis dari mana tadi, Mang?" tanya cowok itu tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Biasalah, Mas, jadwal hari minggu, pergi ke salon kecantikan," jelas mang Ona blak-blakan sekali.
"Owh, iya-iya, Mang." Cowok itu manggut-manggut saja dengan senyum yang mengembang, ternyata gadis kecil yang dulu ia kenal sekarang sudah berubah banyak, sudah menjadi gadis remaja yang cantik.
"Oh ya, Mang, ini ada oleh-oleh buat Mamang. Maaf, cuma bisa ngasih ini." Cowok itu menghampiri mang Ono kemudian menyodorkan sebuah bungkusan berisi kue yang tadi ia beli di jalan. Niatnya sih mau diberikan pada Vira, tapi sepertinya gadis itu sedang menghindarinya.
"Waduh!" Wajah pria itu semakin simringah, "Alhamdulillah. Makasih banget, Mas. Bener kata non Vira, rezeki emang gak kemana. Tadi dapet bingkisan dari Non Vira, sekarang dapet oleh-oleh dari Mas Zein," ucap Mang Ono girang.
"Emang non Vira ngasih apa, Mang?" tanya Zein penasaran, sesekali kepalanya menoleh ke arah rumah Vira berharap cewek itu akhirnya keluar dan menyambut kedatangannya senang.
Mendengar pertanyaan itu, mang Ono langsung saja membuka bingkisan yang diberikan anak majikannya tadi.
"Waduh, non Vira!" Mang Ono menepuk jidatnya pelan sembari menggerai sebuah baju dengan tangannya. "Baju sekecil ini, mana pas di badan gembrot istri saya."
Zein tertawa, Vira ini aneh-aneh saja, masa iya ia menyamakan badannya dengan badan istri mang Ono.
"Oh ya, Mang, hari ini Vira kesalonnya sama siapa, Mang? Sendiri atau gimana?" tanya Zein lagi.
"Hmm ... tadi pulangnya dianterin sama cowok Mas, katanya sih temen, tapi kayaknya mah gebetan baru." Ternyata mulut Mang Ono lemes juga.
"Owh, gitu ya, Mang."
...💕...
Teras rumah Nada
__ADS_1
Nada membungkuskan es campur dengan cepat, di depannya sudah ada beberapa ibu-ibu yang mengantre meminta untuk segera dilayani.
Hari ini ramai sekali, kursi pelanggan yang berada di teras rumahnya sudah terisi semua. Padahal, pada hari-hari biasa sepertinya tak sampai seramai ini. Huh, kenapa pula cowok-cowok di sekitar rumahnya jadi nongkrong sembari minum es campur begini? Semakin membuat suasana tambah ramai saja.
"Yuhuuu!"
Tiiiiit ... tiiiiit ... tiiiiiitt!!
Tiba-tiba terdengar suara klakson, disusul dengan sebuah motor ninja yang berhenti tepat di depan teras rumah Nada, membuat semua orang langsung melihat ke arah dua pemuda yang baru datang itu.
Nada melengos kesal, kenapa juga Arsya dan Adit tiba-tiba sudah berada di sini? Mau mempermalukannya atau bagaimana?
Arsya dan Adit semakin senang sebab menjadi pusat perhatian, sebab itu tujuan mereka. Ahh, tapi sial! Nada malah kembali sibuk, tak menganggap keberadaan mereka.
Pantang menyerah, arsya langsung bersiul-siul kemudian turun dari motornya dan menghampiri Nada yang sedang melayani pelanggan. Cewek itu terlihat cemberut, ahh ... Nada tak tahu betapa cantiknya ia jika wajahnya ditekuk begitu.
"Mbooook!! Beli es nya dua puluh ya, Mbooook!!" Arsya memulai aksi reseknya.
Nada tak acuh, pura-pura tak dengar saja. Cowok ini semakin digubris semakin menjadi.
"Mbok! Mbook! Mboook!!"
"Lo kira gue mbok lu, apa?!" Nada naik pitam, hari libur begini cowok ini sempat-sempatnya menjahili ia disini.
"Jangan marah-marah lah, Nad, pembeli adalah Raja. Lo mau, dipenjara gara-gara kurang ajar sama raja lo?"
"Raja, raja, gundulmu kui," seloroh Nada masih sibuk membungkus, "Nggak liat apa, aku lagi sibuk?" cewek itu kembali tenang.
"Gundul gimana, Nad? Orang rambut gue keren gini," ucap Arsya sembari merapikan rambutnya yang agak acak-acakan, sedang disana Adit hanya pecengisan melihat ulah usil temannya.
"Gue dulu dong, Nad, lo gak kasian tuh, si Adit udah dehidrasi gitu, anak-anak juga udah pada nungguin di tongkrongan," Arsya bawel lagi, suka sekali memancing respon gadis yang sedang ia ganggu saat ini.
"Bodo!" ketus Nada.
"Ayolah Naaad ... kalau gitu gue bantuin lo deh," ucap Arsya segera saja berpindah ke samping Nada, antusias sekali dengan ucapannya barusan.
__ADS_1
"Gak usah!" Nada jelas tak suka, "Yaudah deh, aku bungkusin," ucapnya pada akhirnya. Dari pada ia semakin diganggu dengan cowok ini, lebih baik ia segera menuruti kemauannya.
"Naaah ... gitu dong, kalau gini kan abang tambah sayang." senyum cowok itu memgembang lebar. "Sini Dit! kita nongkrong disini dulu, sambil nungguin es buatan calon istri gue." Arsya kemudian berlalu dan duduk bersama cowok-cowok yang ada disitu. Tahu sudah ia dengan maksud cowok-cowok ini kenapa betah sekali berlama-lama disini. Gaya lama, dasar modus!
"Waduh Neeeeng, Neng, mentang-mentang cowoknya yang beli jadi diduluin gini. Kan kita udah dari tadi ngantri disini," omel seorang ibu tak suka.
"Iya, Bu, tunggu, ini gak lama kok," tutur Nada agak sungkan, kemudian menoleh pada Arsya yang malah tersenyum tanpa dosa padanya.
...💕...
Tak seperti hari minggu biasanya kali ini Rana tak melakukan apa-apa, hanya duduk merenung di dalam kamar semendari tadi. Huh! Kenapa begini sekali nasibnya? Sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah diselingkuhi ponselnya hancur pula. Bagaimana ini? Ia tak boleh berada di dalam kamar terus seperti ini. Semakin lama ia berdiam diri semakin lama pula ia menyiksa hati.
Pandangannya kemudian teralih pada sebuah jaket yang tergantung di dinding kamarnya. Arka, cowok itu ... entah mengapa mengusik hatinya. Galak, jutek, dan irit bicara, tapi walau begitu cowok itulah yang justru menjadi penolongnya tadi malam, juga saat pertama kali mereka bertemu. Walau terlihat agak terpaksa, cowok itu tetap bersedia memberikan bantuan, walau terlihat tak peduli nyatanya cowok itu juga peduli.
Rana segera menggeleng-gelengkan kepala, mengenyahkan bayang-bayang Arka dari benaknya. Gila! Baru kemarin diselingkuhi ia sudah berani memikirkan cowok lain begini.
"Ra?" Mami tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu kamar Rana.
"Kamu gak bosen apa, dari tadi di kamar terus? Katanya mau cepet move on, kok malah galau-galauan gini," ucap Puspa sembari menghampiri anaknya dan kemudian duduk di sampingnya.
"Bosen sih, Mi, tapi mau ngapain lagi? Gak ada kerjaan. Apa Rana ngelamar pekerjaan aja ya, Mi? Biar sibuk, terus bisa move on gitu?" ujar Rana lemas.
"Hhh ... bisa aja kamu,Ra. Hp kamu gimana? Bukannya rusak, ya? Beli sana!" usul Puspa sembari mengedarkan pandangan mengamati setiap detail kamar anaknya ini. Berantakan, penuh warna dan coretan, selalu saja begitu, baru saja di cat ulang sudah dicoreti lagi. Ada nama Daniel pula, bagaimana bisa move on?
"Iya juga ya, Mi, Rana harus cepetan beli nih," ungkap Rana setuju.
"Oh ya, Ra, jaket siapa itu? Bukan punya kamu, kan?" tanya Puspa, pandangannya tertuju pada sebuah jaket yang digantung di dinding kamar anaknya.
"Bukan lah, Mi, ngapain juga Rana beli jaket begituan coba? Mana kebesaran lagi."
"Terus punya siapa? Daniel?" tanya Puspa ingin tahu.
"Arka."
"Kok bisa di kamu?" Puspa semaksimal ingin tahu. Jangan-jangan, antara Rana dan anak temannya itu ada apa-apanya. Ahh ... pasti senang sekali kalau berbesanan dengan sahabat sendiri.
__ADS_1