The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Vira Miliknya


__ADS_3

Setelah benar-benar keluar dari area bar sialan itu, barulah rasanya Vira bisa benar-benar bernapas walau kedua tangannya masih bergetar hebat. Merasakan dunianya benar-benar terguncang akan kejadian barusan.


"Kak Zein, Vira pengen sendiri," ucap gadis itu melepaskan tangan Kak Zein yang sebelumnya merangkul pundaknya.


"Vir, tapi papa sama mama kamu pasti udah nyariin."


"Vira butuh waktu sebentar, Kak," ucap Vira kemudian benar-benar melangkah. Berjalan di pinggiran jalan dengan kaki lemasnya. Tangannya bergetar, dengan sebuah kamera di genggamannya.


Zein mengacak-acak rambutnya frustasi, tapi cowok itu kemudian mengikuti Vira dengan langkah perlahan. Ia menjaga jarak. Ia tahu Vira benar-benar terguncang dengan kejadian barusan. Dan, tentunya ia tak mungkin meninggalkan Vira begitu saja.


Vira menelan ludahnya perih. Jemarinya kemudian bergerak untuk memulai sebuah video pada kamera di tangannya.


Kakinya yang melangkah lantas ikut terhenti. Air matanya kembali mengalir. Punggungnya bergerak naik-turun sesenggukan. Rasa sesal memenuhi rongga dadanya.


Ini adalah karmanya. Andaikan ia tak suka mempermainkan laki-laki, pasti kejadiannya tak akan seperti ini. Sepuluh menit saja Kak Zein terlambat, mungkin ia akan kehilangan semuanya. Dan benar, walaupun mahkotanya masih terjaga, tapi detik ini ia merasa begitu hina. Ciuman pertamanya diambil paksa dan cowok bejat itu benar-benar telah menyentuh semuanya dengan tangan hinanya.


Vira menjatuhkan dirinya terisak. Membiarkan dirinya menangis, membuang sesak.


"Vira," ujar Zein menyentuh bahu cewek itu. Berjongkok di sebelahnya.


Vira tetap menangis. Jemarinya kemudian bergerak mengakhiri video itu. Ia malu. Harga dirinya kini hanya setitik debu.


Zein memeluk bahu Vira. Mencoba memberi ketenangan pada rundungan kesesakan. Dibantunya gadis itu berdiri dan untungnya Vira tak memberi penolakan.


Vira menundukkan kepala tak mampu membalas tatapan cowok di hadapannya. Di hadapan orang yang ia cintai, haruskah ia dijadikan sehina ini? Jangankan untuk bersanding, untuk mendapatkan perhatian kecil pun ia sudah merasa tak pantas.


"Gak usah diliatin ...." Zein mengambil alih kamera itu dari tangan Vira. "... Kejadian ini harus secepatnya kamu lupain."


Bruak!! Tarr!


Tanpa basa-basi, cowok dengan setelan hitam itu membanting kamera di tangannya hingga terlepas bagian-bagiannya.


Vira tersentak. Ia lantas menatap pria di hadapannya.


"Gak ada gunanya lapor polisi, kalau yang Vira dapetin justru trauma yang gak ada ujungnya." Cowok itu memeluk Vira lagi. Menyandarkan kepala gadis itu pada dadanya.

__ADS_1


"Kak Zein pengen kamu lupain semua ini sesegera mungkin."


Vira terisak di dalam pelukan Kak Zein. Bagaimana ia bisa melupakan kejadian ini, sedangkan tawa jahat Aldi dan setiap gerakan pemaksaanya terus menghantuinya.


"Jangan pernah ngarasa rendah. Di mata Kak Zein, Vira ya tetep Vira. Demi apa pun, Vira lebih berharga dari semua yang Kak Zein punya."


Vira masih belum bersuara. Gadis itu justru semakin terisak.


Zein melepas pelukannya, kemudian menyentuh kedua bahu cewek di hadapannya. Ditatapnya mata gadis itu dalam.


"Kak Zein janji setelah ini lebih jagain Vira. Vira mau kan, jadi satu-satunya perempuan dalam hidup Kak Zein?"


Seketika Vira tersentak oleh pertanyaan Kak Zein barusan. Bibirnya berusaha mengulum senyum. "Kak Zein, Kak Zein gak perlu ngomong kayak gini buat nenangin Vira. Kak Zein tau, hati Vira jadi makin sakit dengerinnya?"


"Kak Zein serius, Vir. Kak Zein gak mau lagi kecolongan untuk yang kedua kalinya. Kak Zein pengen jagain kamu, tapi bukan sebagai kakak."


"Kak Zein udah punya Kak Kiya ... Vira gak pernah pengen ganggu hubungan kalian." Vira tertunduk.


"Kak Zein udah putus sama Kak Kiya. Dan sekarang Kak Zein baru bener-bener sadar, kalau ternyata selama ini hati Kak Zein cuma buat kamu. Jangan pergi lagi dari Kak Zein bisa, kan?"


"Harusnya Vira yang minta kayak gitu. Kak Zein jangan pergi lagi dari Vira," ucap gadis itu, seketika membuat kedua sudut bibir Zein terangkat sempurna.


"Berarti kita pacaran kan, Vir?" tanya cowok itu antusias.


Di dalam pelukan Kak Zein, Vira mau tak mau bersemu malu. Gadis itu menganggukkan kepala tak mampu berkata-kata.


Zein kepalang bahagia. Dipeluknya gadis itu erat. Ia tak bisa menghentikan dirinya yang terus menciumi pucuk kepala Vira. Ralat, bukan Vira lagi, tapi Viranya. Vira miliknya.


...💕...


Di teras rumahnya, Soraya duduk gelisah mengurut-urut keningnya yang terasa pening. Ia yang salah, kenapa meninggalkan anak gadisnya tanpa pengawasan ketat. Dan lebih parahnya lagi, ia tak pernah benar-benar melarang anak gadisnya mengenai pergaulan dengan puluhan lelaki. Di jam selarut ini anak itu tak pulang juga. Keluarnya dengan cowok pula. Kalau terjadi apa-apa, entah separah apa kegagalannya sebagai ibu.


Dari pos Mang Ono, Dharma berjalan dengan langkah lemas. Sudah sekian jam menunggu kedatangan putrinya, tapi hasilnya masih sama; tak ada tanda-tanda sedikit saja.


"Mamah tenang, Mang Ono bilang Zein udah nyari Vira. Kita serahkan semuanya sama dia. Semoga dia bisa cepet bawa Vira pulang," ucap ayah satu anak itu setelah duduk di samping istrinya dan merengkuh pundak wanita itu.

__ADS_1


"Mana bisa Mamah tenang, Pah ..." Soraya mendesah gelisah. "Udah jam berapa ini? Vira itu anak kita satu-satunya, perempuan lagi." Matanya sedikit memerah hendak menitikan air mata.


Dharma menarik kepala istrinya ke dalam dekapannya. Mengelus kepalanya.


"Semua bakal baik-baik aja. Abis ini kita telpon Zein. Semoga udah ketemu."


...💕...


Mobil itu melaju sedang. Membelah kedinginan malam. Membelah jalanan yang tak seramai biasanya. Zein mengendarai mobilnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya masih setia menggenggam telapak tangan cewek di sebelahnya. Seolah khawatir jika ia melepaskannya, maka cewek itu akan meninggalkannya.


Tiba-tiba ponsel cowok itu berdering. Membuat getaran pada sakunya.


"Berenti aja dulu, Kak. Jangan nyetir sambil nelpon," ucap Vira saat Zein hendak mengambil ponselnya.


Zein menyunggingkan senyumnya, kemudian menuruti perkataan cewek itu; memberhentikan mobilnya di tepian jalan.


"Papah kamu, Vir," ucap Zein menoleh pada Vira. Kemudian, cowok itu segera mengangkat panggilan itu.


"Halo, Om! .... Om tenang aja. Ini Vira udah sama Zein, kok." Zein berhenti sebentar sebelum akhirnya berkata pada Vira, "Papah kamu mau ngomong, Vir."


Vira manggut-manggut seraya menerima ponsel Kak Zein.


"Pah ...," lirihnya tersenyum getir.


Di ujung sana, seketika papah dan mamahnya menyerangnya dengan rentetan pertanyaan. Pertanyaan yang semakin membuatnya dipenuhi rasa sesak. Padahal, papah sudah terlampau sering menasihatinya. Tak layak ia membuat mereka lebih khawatir lagi.


"Vira gak papa kok, Pah, Mah," ucapnya berusaha menenangkan kedua orang tuanya.


Tak lama, setelah papah dan mamahnya menyuruhnya cepat pulang, ia lantas mematikan sambungan telepon di antara mereka.


"Kita pulang," ucap Zein hendak menyalakan mesin mobilnya.


"Eh, tunggu, Kak!" Vira menahan tangan Kak Zein.


"Bantu naikin resleting Vira bisa, gak?"

__ADS_1


__ADS_2