
"Eh, udah-udah, Ra. Nanti aja ngobrolnya sama mami kamu. Udah ya, Tante matiin. Soalnya ini si Arka mah gak sabaran. Udah kangen banget kayaknya."
Rana tertawa lagi, kemudian mengucapkan salam perpisahan dan telepon pun diakhiri.
"Ini nih, ngebet banget perasaan. Mau nembak, ya?" tanya Sarah ceplas-ceplos, sembari menyerahkan ponsel Arka.
Arka menerimanya dengan senyum kecil. "Mama kok tau?"
"Ya tau lah ... Rana curhatnya ke siapa lagi, kalau bukan Mama? Awas ya, kalau kamu bikin Rana nunggu-nunggu lagi. Inget, jadi laki-laki jangan cemen," cerocos Sarah seperti biasanya.
"Iya, Ma."
"Makanya, kamu harus jadiin Papa contoh, soalnya Papa yang paling paham soal cewek," celotehnya lagi, kemudian tersenyum ke arah suaminya.
"Iya, Mama ...." Lagi-lagi Arka hanya bisa iya-iya saja sebab ia tak mau perbincangan ini menjadi lebih panjang lagi.
Rangga tertawa kecil. "Ya udah gih, cepetan berangkat, Ka. Kasian Rana, entar nungguin."
Arka tersenyum lega, kemudian bangkit dari duduknya dan hendak mencium punggung tangan ayahnya.
"Jagain Rana, jangan dikecewain apalagi sampe disakitin," pesan Rangga saat putra satu-satunya itu mencium tangannya.
"Pasti, Pa," ucap Arka tersenyum penuh keyakinan.
"Inget juga, kalau udah jadian jangan cuek-cuek sama Rana. Harus peka, jangan sampe dia udah ngambek baru tanya dia kenapa," ujar Sarah turut memberikan amanah.
Arka tertawa kecil. "Siap, Ma," ucapnya kemudian mencium punggung tangan wanita itu.
...💕...
Di depan rumahnya, Rana duduk sendiri dengan gaun selutut terbaik hasil eliminasi beberapa hari lalu, akibat terlampau bersemangat demi hari ini. Senyumnya mengembang, sembari melihat langit yang akhir-akhir ini memang lebih sering murung dari pada biasanya.
__ADS_1
"Masuk dulu, Ra. Nungguin Arka kan di dalam juga bisa."
Rana menolehkan kepalanya dan tersenyum tatkala mendapati ibunya sudah duduk di sampingnya, tak lupa dengan secangkir teh hangat yang ia bawa.
"Dingin," katanya lagi.
"Rana udah gak sabar, Mi," ujar gadis itu dengan senyum merekah di bibirnya. Sedikit semburat merah menghiasi pipinya. Pasti karena ia terlalu bersemangat.
"Iya, Mami tau. Mami juga pernah muda, Ra," ucap Puspa kemudian menyeruput secangkir teh hangatnya. "Mau teh?" tawarnya kemudian.
Rana tertawa kecil, kemudian menggeleng pelan. "Selain Papi, ada nggak yang pernah nembak Mami?"
"Uhuk uhuk!!" Puspa langsung tersedak karena mendengar pertanyaan anaknya gadisnya yang setiba-tiba itu. Tapi baru saja ia mau menjawab, obrolan mereka terpotong oleh ponsel Rana yang tiba-tiba mengalunkan lagi andalannya. Lagu 'Gundul-gundul Pacul'.
"Siapa, Ra?" tanyanya.
"Arka," jawab Rana mengedipkan sebelah matanya, kemudian mengangkat telpon itu.
Sedetik, dua detik, tiba-tiba wajah gadis itu berubah drastis. Menimbulkan tanda tanya pada wanita di sebelahnya.
"Iya, nggak papa. Bisa dianterin Pak Budi, kok," ucap Rana, dan tak lama kemudian obrolan mereka pun terputus.
"Kenapa, Ra?" Puspa jelas tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Di tongkrongan Arka lagi ada masalah, jadi Rana disuruh ke sana duluan," jelas Rana, berusaha mencetak senyum di bibir mungilnya.
...💕...
Arka mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tak mengacuhkan angin malam yang menerpanya bagaikan serbuan-serbuan kecil yang dingin nan menusuk. Barusan, Dio menelponnya untuk segera datang ke tongkrongan karena Arsya sedang mengamuk. Mabuk berat dan amarah yang menjadi-jadi. Satu keadaan yang bisa membuat tongkrongan mereka hancur berantakan bagaikan sebongkah kapal yang terkena jarahan bajak laut.
Ah, Arsya memang sebodoh itu. Nada membuatnya nyaris gila karena cinta. Dan ya, walaupun ia pernah merasakannya, tapi sepertinya keadaan itu jauh berbeda. Yang Arsya alami adalah ketakutan akan kehilangan, sedang yang dialaminya dahulu adalah amarah, kekecewaan, juga keinginan menghabisi yang membuatnya hilang kendali.
__ADS_1
Dalam tempo yang cukup singkat, Arka akhirnya sampai di tongkrongan. Dan benar saja, semua terlihat kacau balau seperti yang ia bayangkan. Bau alkohol menyeruak dimana-mana.
Dengan langkah tegas, ia berjalan menghampiri Arsya yang duduk di lantai bersandar pada dinding dengan sebuah botol alkohol di tangannya. Sedang Dio dan yang lainnya hanya bisa melihat di sekeliling tanpa berani mengoreknya.
Bugh!
Satu tendangan keras tepat mengenai kaki Arsya. Tendangan yang cukup kuat untuk membuatnya mendongak, demi melihat siapa gerangan pelakunya.
"Lo pikir apa yang lo lakuin ini bagus, hah?!" hardik Arka, memperlihatkan bagaimana cara ia mengendalikan stabilitas tongkrongan mereka selama ini.
Bruak! Tarr ....
Dalam satu gerakan, Arsya membuang botol alkoholnya sehingga pecah berserakan. Lalu, cowok dengan mata memerah mabuk itu berdiri, berhadapan langsung dengan seorang cowok yang ia tahu bisa melakukan apa saja demi memberinya pelajaran.
"Kenapa?! Marah?!" gertak Arka dengan kilatan amarah di matanya. Ia masih seperti dulu. Ia benci pembangkang, dan ia tidak pernah memberi pengecualian.
"Lo gak ngerti, Ka!" Arsya juga tak mengalah, masih berada di pucuk amarahnya.
"Terus mau lo apa, hah?! Lo pikir dengan begini Nada bakal balik lagi ke elo?" Arka mulai meredam emosinya. Cowok itu menengadah, kemudian menepuk pundak Arsya.
"Jangan bertingkah seolah-olah di dunia ini cuma elo yang pernah ngerasa sakit hati."
Arka memalingkan wajahnya pada Dio. " Liat Dio. Jangankan perasannya kebales, Vira aja mana tau kalo si Dio suka sama dia."
Arsya juga memalingkan wajahnya pada Dio. Dan selanjutnya, giliran Dio yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tak ingin mengakuinya, tapi ia juga tak bisa mengelak.
"Lo liat Kibo. Gue gak tau udah berapa, bahkan mungkin udah gak keitung cewek yang nolak dia. Tapi kita semua tau Kibo, dia bakal tetep jadi Kibo yang kita kenal."
Arsya menoleh pada Kibo yang menampilkan senyum legowo penuh arti padanya.
"Dan gue sendiri. Gue gak mau bahas ini, tapi gue yakin kalian semua gak akan pernah lupa kejadian yang sempet ngebuat gue ketahan di penjara."
__ADS_1