The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Ujian Akhir


__ADS_3

Suasana sudah malam, tapi cowok itu duduk di trotoar sendirian. Terlihat merenung tapi sebenarnya linglung. Hari esok adalah ujian akhir masa SMA-nya, tapi ia terlalu takut. Takut tak cukup mampu menghadapinya. Takut akan hasil yang mungkin tak memenuhi tuntutan ayahnya. Takut akan menjadi olok-olokan keluarga. Lebih takut lagi, tak bisa membuktikan pada Rana bahwa ia lebih dari pada Arka.


Argh ... banyak sekali tekanan yang harus ia hadapi. Ayahnya yang tak pernah mengerti dirinya. Rana, ia tahu cewek itu masih menaruh tempat untuk Arka di dalam hatinya. Dan lebih sial lagi, kenapa pula dua kakak sialannya itu kembali dari luar negeri segala?!


Raja mencoba bangkit dari posisinya. Rasanya kakinya seolah mengayang dan kepalanya seberat batu 5 ton. Tapi ia harus tetap berjalan, tetap melanjutkan kehidupan. Melangkahkan kakinya menuju tempat di mana ia bisa merasa lebih tenang. Ah, ralat, tempat seperti itu hanya ada di surga. Dan entah kapan ia akan berlibur ke sana.


"Aw!" suara mengaduh seorang cewek membuatnya berhenti sejenak dari langkahnya. Tapi kemudian, ia terus melangkah, merasakan bebannya mulai mengendur.

__ADS_1


Marsha menoleh ke belakang. Tangannya menyentuh pundaknya yang baru saja bersinggungan dengan milik cowok barusan. Cewek itu kemudian memalingkan kembali wajahnya, menunduk. Jemarinya meremas pundak kirinya itu. Sebuah ketakutan mulai melanda dirinya.


...****************...


Pagi sekali Rana sudah siap di depan rumahnya dengan buku yang berada di pelukannya. Senyum ceria akhirnya bisa hinggap pada bibir mungilnya. Boleh dikata, ia sangat bersemangat untuk hari ini. Berbulan-bulan lamanya sudah ia siapkan demi memenangkan kurang lebih seminggu ini.


Mobil itu pun melanjutkan perjalanannya ke SMA Tunas Bangsa. Jalanan cukup ramai dengan remaja bertemakan putih abu-abu, membuat semangat Rana semakin menyala. Ia kemudian mengambil ponselnya, berswa foto dengan senyum terindahnya sejak akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Yeay ... ujian! Ujian! Ujiann! Ujian! Semangat ya gaes, ya💪💪" ketiknya mengirim foto itu ke grup pertemanannya yang berbulan-bulan ini hanya diramaikan oleh dirinya seorang, tanpa ada timbal balik. Tapi tak apa, setidaknya mereka tak tiba-tiba keluar dari grup yang dulunya amat prik itu. Huh ... hidup memang harus selalu disyukuri.


Mobil itu kini sudah menempatkan dirinya di salah satu tempat di parkiran SMA Tunas Bangsa. Rana kemudian keluar begitu juga dengan Raja. Tapi tiba-tiba matanya bertemu pandang dengan seseorang, dan dalam sejenak senyum itu hilang ditelan malam.


"Ayo, Ja." Rana menoleh pada Raja, menggandeng lengannya. Mencoba memperlihatkan senyum terbaiknya. Berusaha terlihat bahagia. Di ujung sana, cowok itu bersama dengan gerombolannya sedang mengamati mereka berdua. Dan dari pada berhenti dan menyapa, tentu saja ia lebih memilih untuk segera pergi dengan senyuman palsunya.


"Ka, gimana, Ka? Nyesel gak tuh?" Dio menyenggol lengan cowok di sebelahnya. Tersenyum resek sekali.

__ADS_1


Arka menoleh pada Dio dengan malas. "Gak," celetuknya kemudian memalingkan wajah lagi. "Kalau Rana sama lo, baru dah tu gue nyesel. Nyesel kenapa lo nggak gue bantai aja dari dulu," lanjutnya acuh tak acuh.


__ADS_2