
Di pojok sebuah ruangan, seorang gadis duduk menyembunyikan wajahnya dengan memeluk lututnya erat. Merasakan nyeri yang terus menggelayuti sekujur tubuhnya. Ia hanya bisa menangis sesenggukan tanpa suara. Baru kali ini. Baru kali ini ayahnya sampai melakukan hal setega ini padanya. Memukuli anak gadisnya sampai memar-memar tak terkira.
Tap tap tap....
Rena semakin merinding ketakutan. Ayahnya yang jarang pulang itu, kini tak ubahnya seorang monster.
"Rena!" bentak Wijaya menjewer telinga anaknya hingga wajah Rana menatapnya.
Tanpa melawan, Rena melihat ke arah ayahnya dengan meringis kesakitan.
"Sekarang reputasi Papa sudah hancur gara-gara kamu! Dasar kamu anak gak berguna, ya!" bentak Wijaya lagi dengan wajah menghardik. "Memangnya apa, hah, gunanya kamu nyeritain keluarga berantakan ini ke teman-teman kamu?!"
"Bu-bukan Rena, Pa," ucap Rena masih sesenggukan. Wajahnya memelas, meminta setitik kasih sayang seorang ayah pada pria dewasa yang kini masih setia menarik telinganya. Menimbulkan nyeri menjalar di sana dan merambat ke sekitarnya.
"Halah!" Wijaya melepaskan jewerannya, kemudian memalingkan wajah Rana kasar. Membuat kepala gadis itu nyaris terbentur ke tembok.
__ADS_1
Rana hanya bisa terisak tertahan.
Wijaya berdiri menatap anaknya kejam. "Sekarang kamu lihat di depan! Rumah ini sudah dikepung oleh wartawan. Kamu fikir, membersihkan nama baik itu mudah, hah?!" cecarnya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan anak semata wayangnya penuh siksa.
Ia harus terus membujuk istrinya agar mau membantah isu-isu itu di depan publik agar posisinya sebagai walikota tetap aman dalam kendali.
Sepeninggal ayahnya Rena lagi-lagi hanya bisa menangis sesenggukan. Ia kemudian mengetikkan sebuah pesan pada Andra. Meminta tolong pada cowok itu agar mau mencaritahukannya mengenai penyebar isu-isu buruk mengenai ayahnya ini. Isu buruk yang nyatanya adalah kebenaran.
...💕...
"Eh, kayaknya kita lambat beneran deh, Ka," kata Rana menyadari keadaan parkiran yang begitu sepi. Nyaris tak ada penghuni. Bibirnya mengerucut, tapi kemudian tersenyum. Hmm... dihukum capek sih, tapi kalo sama Arka kan, jadinya sosweet ... hehehe.
"Ya udah, yuk!" ajak Rana, tapi kemudian perhatian kedua remaja itu teralihkan oleh sebuah motor yang juga baru saja datang.
"Buset, Vir!" seru Rana memanggil Vira yang tersenyum lebar di atas motor Doi yang baru saja berhenti.
__ADS_1
"Hehe,,," Vira merenges, sedang Dio cemberut. Ooh ... betapa malangnya cowok itu. Harus menunggu selama satu jam di depan gerbang rumah Vira. Nyaris seperti pengemis.
"Kita ngiranya udah kita yang paling lambat," seloroh Rana.
"Hehehe,,, biasa, Ra," ucap Vira setelah turun dari motor Dio. Berjalan ke arah Rana.
"Masih, ya?" tanya Rana setengah berbisik.
"Ya iyalah. Lo gak tau aja, skill gue makin oke tau?" celetuk Vira. Sedang Arka dan Dio hanya saling pandang. Tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Hahaha,,, Oh ya, Vir, gue pengen cerita." Rana menggamit tangan Vira dan menariknya. Kedua remaja itu asyik sekali bercerita. Berjalan duluan meninggalkan Arka dan Dio yang lagi-lagi nasibnya dikacangin.
"Buset, Ka. Gue udah nungguin si Vira selama satu jam! Dan, inilah yang gue dapetin," ucap Dio dengan wajah terpaku.
Arka menghela napas. "Gue aja ditinggalin, apalagi elo. Ya udah, yok!" ucap cowok itu baru kemudian mulai melangkah dengan langkah panjangnya.
__ADS_1
"Ka! Tungguin, Ka!"
Memasuki koridor sekolah, Rana dan Vira seketika dibuat bertukar pandang saling bertanya.