
Malam telah tiba. Arka yang biasanya rajin mendatangi tongkrongannya di malam hari, kini lebih memilih berdiam diri di dalam kamarnya. Ditatapnya langit malam yang berkabut, gusar. Ia kemudian duduk pada jendela kamarnya. Merasa tak kuasa lagi memendam kekhawatiran, cowok dengan rahang tegas itu akhirnya menghubungi seseorang melalui panggilan video.
Satu detik ... dua detik .... Ah, dia sudah benar-benar tak sabar menunggu panggilannya diangkat. Lalu ....
"Ka?" Akhirnya, layar ponselnya menampilkan wajah Rana juga. Gadis itu tersenyum tipis dengan posisi berbaring dan selimut tebal berbulu yang membalut tubuhnya hangat. Tak lupa pula dengan penutup telinga berwarna putih berbulu dan telinga kelinci di atasnya.
"Ra? Gak demam, kan?" tanya Arka langsung memastikan keadaan cewek itu.
Dari layar ponsel Arka, Rana menampilkan senyum terlebarnya. "Nggak, Ka. Ini mah kerjaan Mami. Katanya buat jaga-jaga aja," terang cewek itu kemudian terkekeh pelan.
"Yakin?" Arka memastikan lagi.
"Iya, orang biasanya aku emang sengaja main hujan-hujanan, kok."
Mendengar jawaban dari Rana akhirnya Arka bisa bernapas lega juga. "Ya udah, kalo gitu kamu istirahat, ya. Jangan sampai malah kurang tidur. Aku matiin aja ...."
"Eh, jangan, Ka!" larang Rana setengah berteriak. Cewek itu kemudian tertawa pelan dengan kelakuannya sendiri.
__ADS_1
"Eh? Kenapa, Ra?" tanya Arka dengan kedua alis terangkat.
"Temenin aku, ya. Aku gak bisa tidur."
"Oowh ... kangen ya, pasti?" godanya kemudian.
Di layar, Rana terkekeh pelan. "Iya," jawabnya benar-benar seadanya. Ah, dasar Rana.
Kedua sudut bibir Arka tentu semakin terangkat mendengar jawaban polos Rana. Cowok itu lantas memasang ponselnya pada tripod yang kemudian ia hadapkan padanya.
"Kamu tidur, aku yang nyanyiin," ucapnya kemudian mengambil seonggok gitar di samping nakas. Dipetiknya anak gitar secara perlahan. Menimbulkan suara gitar yang mengalun bagaikan candu.
"Emm ...." Rana sedikit berpikir-pikir. Tapi nihil, yang ada dipikirannya ternyata hanya lagu Gundul-gundul Pacul. Gak romantis dong, kalau lagunya itu.
"Terserah Arka aja, deh," ujar Rana pada akhirnya.
Arka sedikit mengernyitkan dahi memikirkan lagu apa yang sebaiknya dimainkan. Jujur, terlalu lama menjomblo membuatnya sedikit kesulitan untuk melakukan hal-hal seperti ini.
__ADS_1
Jreng ... jreng ... jreng ....
Jemari cowok itu akhirnya bergerak juga. Memainkan sebuah nada lagu yang tentu sudah tak asing di telinga siapa pun.
"Tidurlah sayangku mentari 'kan menunggu ... sambutlah hari nanti ...."
...💕...
Ting tung ting tung ....
Minggu pagi yang cerah. Sepagi ini, Rana sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Arka, kediaman keluarga Rangga Airlangga. Ditangannya, gadis itu menenteng sebut tas berisikan semur jengkol hasil resep rahasia maminya.
Awalnya, dengan alasan ingin berterima kasih pada Arka yang sudah bersedia menjadi guru privatnya setiap hari, maminya ingin mengantar masakan itu sendiri. Tapi tentu saja, Rana sebagai anak berbakti, atau lebih karena sangat-sangat ingin bertemu Arka, gadis itu akhirnya menawarkan diri menggantikan maminya untuk mengantar makanan ini.
Kreek ....
Pintu terbuka, menampilkan Bi Ijah yang menyunggingkan senyum tak tanggung-tanggung. Tentu, wanita berumur lebih dari setengah abad itu sudah terbiasa dengan keberadaan Rana di rumah ini.
__ADS_1
"Non Rana? Pagi-pagi udah dateng aja, Non. Padahal Den Arka mah, belum bangun," cerocos Bi Ijah sebelas dua belas dengan Tante Sarah. Sama-sama embernya.
"Hehehe," Rana terkekeh, kemudian menunjukkan bawaannya pada wanita di hadapannya itu.