The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Amarah Nada


__ADS_3

Sinar sedikit berfikir, mengingat-ingat. Ya, perpustakaan ini cukup luas untuk dijadikan tempat sembunyi-sembunyian. Dan ia tahu gadis di hadapannya tentu tak hafal setiap inchi ruangan ini.


"Kayaknya lurus aja terus." Telunjuknya mengarahkan pandangan Rana kepada sebuah sebuah jalan di antara dua lemari buku yang tinggi. " ... Terus belok kanan. Pas mentok, belok kiri. Nah ... biasanya Nada di situ."


Rana manggut-manggut. Kemudian, tanpa mengucapkan terimakasih, gadis itu melenggang pergi dengan langkah sedikit berlari. Di tempat yang menjadi takdirnya, Mbak Sinar hanya bisa menggeleng kepala heran. Padahal, tadi dia sudah bilang.


Usai melaksanakan semua petunjuk dari penjaga perpustakaan, Rana menghembuskan napas puas sebab mendapati seorang gadis berkaca mata yang sedang duduk menyendiri di pojok ruangan perpustakaan. Sibuk sekali berkutat dengan bukunya. Seperti biasanya.


"DORR!" Dengan kedua tangannya, Rana menghentak bahu gadis itu hanya untuk mengagetkannya.


Nada sedikit terjingkat sebab hal itu. Tapi ketika menyadari siapa yang melakukannya, gadis itu justru acuh tak acuh kembali berkutat dengan buku di hadapannya.


Bibir Rana mengerucut. Gadis itu kemudian duduk di sebelah Nada dan memandanginya intens.


"Nad," panggilnya pelan, seolah tidak mau mengganggu ketenangan temannya itu.


Sembari menahan amarah di dalam dada, Nada membalik halaman bukunya acuh tak acuh merespon cewek di sampingnya.


Rana menghela napas. "Nadaa ...," rengeknya minta diperhatikan.


Nada masih tak merespon.

__ADS_1


"Nadaa!" panggil Rana seraya menutup paksa buku yang sedang di baca oleh Nada.


Nada akhirnya memalingkan wajahnya pada Rana. Namun, dengan ekspresi tak terbaca.


"Nadaa ... dengerin gue dulu. Kenapa lo gak cerita sama gue coba? Kan, gue temen lo. Malah gue denger berita ini dari Arka. Kenapa? Kenapa lo mutusin Arka?" rentet Rana dengan suara cemprengnya.


Bruak!!


Rana seketika dibuat mematung. Barusan, dengan tanpa perasaan, Nada melemparkan buku tepat mengenai wajahnya.


"Kenapa, kamu bilang?!" sentak Nada berdiri dari duduknya. Pembawaannya yang biasanya tenang, kini terlihat berang penuh kebencian.


"Nad, gue ...."


"Nad ... gue salah apa sama lo?" tanya Rana dengan pelupuk mata yang mulai basah.


"Halah! Sok polos lo! Temen lo bilang?! Mana ada temen yang jatuhin temennya sendiri," hardik Nada tak ada habisnya.


Rana berdiri dari duduknya. "Nad, gue bener-bener gak paham maksud lo apa."


Nada membuang napasnya kasar, lalu menatap Rana nyalang. "Emang ada untungnya ya, Ra, lo ngelaporin foto itu ke guru-guru?"

__ADS_1


"Foto apa, Nad?" Rana geleng-geleng kepala masih tak faham.


"Foto aku ciuman sama Arsya! Puas kamu!" hardik Nada tak terduga. Membuat semua orang yang sebenarnya sudah sejak tadi menyaksikan pertengkaran mereka kini akhirnya bersuara juga.


"Huuuu! Dia yang salah, malah nyalahin temennya!"


"Hahaha,,, kirain cupu. Eh, ternyata suhu ...."


"Ya elah ... emang bener ya, ternyata, pendiam mah bukan berarti polos."


"Itu yang ketahuan baru ciumannya, belum yang lain-lain. Hayo apaa? Hahaha,,,"


Nada menolehkan kepalanya melihat sekitarnya. Kini, semua orang memandangnya penuh hinaan. Ah, bodoh sekali dia, malah melampiaskan semua kemarahannya di tempat seperti ini.


"Nad ...." Rana menggelengkan kepala hendak menyangkal. Air matanya luruh tak tertahankan.


"Diam! Udah puas bila aku malu, hah?!"


"Bukan gue, Nad. Mana mungkin gue ngelakuin hal itu."


"Sekarang lebih baik kamu pergi, dan jangan pernah anggep kita sahabatan lagi," ucap Nada sarkas.

__ADS_1


"Tapi, Nad ...."


"Pergi!!"


__ADS_2