The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Kepercayaan


__ADS_3

"Udah ya, Ra, kita pulang. Aku bisa jelasin ini semua nanti di rumah," ungkap Arka, acuh tak acuh dengan puluhan pasang mata yang kini menjadikannya bahan tontonan.


"Ra ...." Arka melepas pelukannya dan kemudian menangkup pipi Rana. Menghapus air matanya.


"Kenapa Arka bo'ong?" tanya Rana, mengadah menatap cowok itu dengan sembab di matanya.


"Nanti aku jelasin. Kita pulang, ya?" rayu Arka dengan sabarnya.


Rana menganggukkan kepala menyetujui ajakan Arka. Arka kemudian menggandeng cewek itu, hendak melangkah pergi dari kerumunan yang menonton adegan tragedi ini.


"Kak Arka!" panggil Alea sukses menghentikan langkah Arka dan Rana. Ditolehkannya kepala mereka pada cewek itu.


"Kak Arka, Alex cuma ...."


"Udah, Al. Sorry, tapi please, jangan ganggu gue lagi," potong Arka sebelum akhirnya pergi bersama Rana, meninggalkan Alea dengan segala perih yang menyesaki dadanya.


...💕...


Dengan langkah sedikit terburu-buru, Arka dan Rana melintasi koridor yang jelas sedang ramai sebab semua kelas memang sedang jam kosong.

__ADS_1


Rana masih terisak karena terlampau sebal dengan hari ini. Sedang Arka, dengan tangan kekarnya cowok itu merangkul bahu Rana dan menutupi wajah sebabnya agar tak semakin menjadi pusat perhatian.


Sesampai di parkiran, untungnya tempat itu sedang sepi. Arka segera mengambil motor KLX-nya dan menghentikannya tepat di hadapan Rana.


"Pokoknya Rana marah sama Arka! Kenapa coba, Arka pakek ke rumah Alea segala? Katanya ke rumah temen!" rengek Rana tiba-tiba mogok lagi. Tak mau segera naik ke motor Arka.


Arka yang melihat rengekan Rana, mau tidak mau, cowok itu turun dari motornya.


"Rana ...," ucapnya dengan kedua tangan menyentuh bahu Rana.


"Arka jahat! Arka udah bohongin Rana terus!" rentet Rana lagi.


Cup.


Satu kecupan singkat hinggap tepat di keningnya. Rana langsung bersemu merah dibuatnya. Matanya membulat tak menyangka. Kepalanya kemudian spontan menoleh ke kiri-kanan gelagapan. Salah tingkah sekaligus takut banyak yang melihat.


"Kita pulang, oke?" bujuk Arka masih bersabar. "Kamu percaya kan, sama aku?" tanyanya lagi. Menatap manik mata Rana lekat.


Rana membalas tatapan Arka. Dicarinya setitik kebohongan di sana. Tapi nihil, ia sama sekali tak menemukannya. Gadis itu kemudian menganggukkan kepala. Memberikan semua kepercayaannya pada Arka.

__ADS_1


...💕...


Sesampainya di rumah Arka. Cowok itu mendudukkan Rana pada ranjang di depan televisi ruang keluarganya. Ia kemudian duduk bersila memfokuskan perhatiannya pada Rana yang semendari tadi tak sedikitpun menghentikan sesenggukan tangisnya.


"Rana, udah dulu ya, nangisnya. Entar dikira Mama, aku ngapa-ngapain kamu, lho," pinta Arka lembut, sembari menyentuh punggung tangan Rana yang digenggamnya.


"Hwaaa!" Rana malah semakin menjadi. "Huuu ..." Arka jadi semakin bingung. "Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Arka!" Panggil Sarah dari dapur, segera berlari menuju ruang keluarga.


Arka buru-buru mendekap Rana ke dalam pelukannya.


"Arka! Kamu apain lagi calon mantu Mama?!" omel Sarah beredecak pinggang di ambang pintu dengan sebuah spatula di tangannya. Hilang sudah keartisannya.


"Eh, nggak, Ma ... nggak. Nggak Arka apa-apain kok," jawab Arka gelagapan, masih memeluk kepala Rana.


"Hmm ...." Sarah menyipitkan matanya menyelidik. "Awas aja ya kamu, Ka, kalo macem-macem sama calon mantunya Mama," ancam wanita itu memukulkan spatula ke tangannya berulang-ulang.


"Nggak kok, Ma, nggak." Arka menampilkan senyum terlebarnya. Kemudian, Sarah akhirnya melenggang pergi walau dengan lirikan memincing penuh selidiknya.

__ADS_1


"Udah, ya ... atau mau dicium lagi?" tanyanya melepas pelukan. Senyumnya mengembang jahil.


__ADS_2