The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Galak Beneran, Ternyata


__ADS_3

"Eh, hai!" balas Rena agak canggung. Ia agak terkesima menatap wajah pria itu. Tatapan hangat bersahabat, hidung mancung, rahang tegas, kulit putih bersih, dan senyum yang mengembang ramah. Devinisi tampan sesungguhnya.


"Hei, kok malah ngelamun." Cowok itu melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Rena.


"Eh, maaf. Emm ... siapa, ya?" Rena agak kikuk. Kok bisa, cowok ini mengenalnya?


"Hhh ... padahal tadi udah perkenalan di dalem. Tapi gak papa deh, mungkin lo lagi gak nyimak tadi." Cowok itu kemudian menyodorkan tangan kanannya.


"Raja, anak Dokter Broto, temen bokap lo, " ucapnya tersenyum akrab. Tak berniat bermanis-manis atau berlaku sopan di hadapan anak Walikota ini. Lagi pula, cewek ini sepertinya seumuran dengannya. Malah, mungkin juga adik kelasnya.


"Rena," ucap Rena menyambut uluran tangan cowok itu.


"Di dalem sumpek ya, pantes aja lo gak betah." Raja memulai obrolan.


"Ya gitu deh, acara keluarga yang berbau politik," kekeh Rena tersenyum getir.


"Sekolah di SMA Tunas Bangsa?" tanya Raja.


"Iya. Lo sendiri?"


"Sama, tapi gue belum pengen masuk dulu."


"Bukan gara-gara takut jarum suntik, kan? " tanya Rena tiba-tiba teringat sahabat karibnya, si mungil Rana.


"Hhh, ya enggak lah. Gue mah udah divaksin. Sekarang gue malahan, yang nge-vaksin orang-orang," kekeh Raja.


"Eh, maksudnya?"


"Iya. Gue dikasih kepercayaan sama bokap buat megang kontrol kliniknya. Bokap gue sekarang lagi sibuk di Rumah sakit. Yaa ... Itung-itung buat pengalaman lah. "


"Owh ya?"


...💕...


Rana menatap ponselnya cemberut. Baru saja ia mau bercerita tentang segala hal pada Rena, tapi tiba-tiba temannya itu sudah menutup sambungan telfon diantara mereka. Huh, ia jadi bingung mau ngapain. Tidur? Owh, tidak! Ia tak suka tidur terlalu awal. Nonton drakor? Entar yang ada, si Dhira marah-marah lagi gegara dia jingkat-jingkat kebaperan. Ahaa...! Sesuatu yang paling seru dilakukan adalah ....


Rana tertawa cekikikan sendiri. Segera melenggang ke kamar Dhira.


kreeek, pintu terbuka. Rana segera memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar Dhira. Dilihatnya bocah itu sedang duduk di kasurnya dengan buku di tangan kanan dan kertas-kertas coretan perhitungan terhambur di sekelilingnya.


"Dhira, adikku saayaaang ... !!" sapa Rana dibuat-buat, kemudian naik ke kasur dan duduk disamping Dhira.


"Apaan sih!" ketus  Dhira tanpa menoleh pada kakaknya yang super-super resek. Suka sekali mengganggunya saat sedang belajar begini.


"Dhira adikku sayang cantik deh, " ucap Rana menyelipkan anak rambut Dhira ke telinga. Kemudian memain-mainkan ujung rambut adiknya.


Dhira membuang nafasnya geram. Berbicara cantik, sudah tentu kakaknya ini jauh lebih cantik dari dirinya yang memang lebih mirip dengan ayahnya dibanding dengan ibunya. Iya, tentu ayahnya tak secantik ibunya. Itu pasti, tentu sudah pasti. Tapi begitulah, kalian tentu paham sendiri.

__ADS_1


"Kak Rana suka banget sih, ganggu Dhira!" bentak Dhira tak tahan, seraya menjatuhkan bukunya dengan kasar.


"Uuuh ... cup, cup, cup, adik kak Rana kalau marah makin imut deh, " jahil Rana kegirangan. Ia suka sekali jika adiknya sudah terpancing emosi begini. Terlihat lucu sekali. Membuat ia tak bisa berhenti beraksi.


"Udah deh, jangan ganggu Dhira! Kak Rana gak denger ya, tadi Dhira bilang apa?"


"Denger, 'Jangan berisik, aku lagi belajar,' " ucap Rana meniru gaya bicara Dhira yang kaku dan tak berekspresi.


"Terus, ngapain Kak Rana malah kesini?" Dhira naik tensi.


"Mau nyemangatin Adik kak Rana yang lagi belajar," sahut Rana memasang senyum termanisnya, kemudian tangannya mulai memungut kertas-kertas berserakan milik adiknya. Ia mengamati kertas-kertas, yang sayangnya sama sekali tak ia pahami itu.


"Belajar aja sendiri! Pake mau nyemangatin orang lagi," ucap Dhira mengambil alih kertasnya dari tangan kakaknya. Ia tak suka barangnya disentuh oleh orang lain.


Bibir Rana mengerucut. "Ya udah deh, kalau gitu Kak Rana mau tidur aja disini. Sambil nemenin adik Kak Rana yang imut, belajar," ucap Rana kemudian meletakkan kepalanya di bantal. Diselipkannya tangannya keperut Dhira. Memeluk bocah itu tanpa suara.


Dhira tercenung tanpa menoleh kearah kakaknya yang sudah berbaring. Ia terdiam beberapa menit, dan tanpa sadar, kini dirinya menahan nafas, takut-takut jika kakak perempuannya itu tak bisa tidur jika ia bergerak sedikit saja.


Grook ... grook ...


Mengorok lagi. Dhira menghembuskan nafas pelan. Cepat sekali kakaknya ini tertidur. Benar-benar tak bisa berdekatan dengan kasur dan bantal.


Dengan gerakan perlahan ia melepaskan pelukan kakaknya, menyelimuti badannya dan mengucapkan ucapan selamat tidur lirih.


...💕...


Suhu badannya terasa meninggi.Padahal, angin malam sedang sangat dingin saat ini.


Berhenti di depan gerbang rumah Rana, Daniel segera membuka helmnya.


"Saya mau ketemu sama Rana, Pak," ucapnya setelah turun dari motor.


"Maaf, Mas Daniel, tapi Pak Cipto dan Bu Puspa sedang tidak di rumah. Dan sesuai peraturan dari Pak Cipto, yaitu tidak boleh menerima tamu laki-laki jika beliau dan Bu Puspa tidak di rumah, jadi Maaf, saya tidak bisa mengizinkan Mas Daniel masuk," terang Pak Budi lugas.


"Tapi, Pak, ini penting banget, Pak, saya harus ketemu Rana sekarang."


"Gak bisa, Mas, ini perintah dari Pak Cipto." Pak Budi tak mau mendapat semprotan dari majikan galaknya itu.


"Ayolah, Pak," bujuk Daniel, sedang Pak Budi masih tak menggubris.


"Ya udah, gini aja deh, Pak, Bapak masuk ke dalam kasih tau Non Rana kalau saya ada di sini, bilang sama dia kalau saya mau bicara penting. Gimana, Pak?" usul Daniel tak mau menyerah begitu saja.


Pak Budi terdiam beberapa saat tapi kemudian mengangguk juga, lalu segera melakukan apa yang diusulkan cowok yang ia ketahui sebagai pacar majikannya itu.


Daniel pun menunggu. Ia sudah benar-benar tak sabar mendengarkan semua penjelasan dari Rana. Ia masih mencintai cewek itu. Tentu, bahkan akan dan selamanya akan selalu begitu. Tapi, sekarang ia membutuhkan suatu penjelasan, yang mungkin akan menentukan apakah ia harus bertahan dengan sikap tak acuh Rana, atau berhenti berjuang karena sudah tak diinginkan lagi.


"Maaf, Mas Daniel, tapi Non Rananya sudah tidur," jelas Pak Budi setelah tergopoh-gopoh berjalan mendekati Daniel.

__ADS_1


Daniel membuang nafasnya kasar. Baru jam berapa ini? Setahunya, Rana tak suka tidur terlalu awal.


...💕...


Kamar itu tertata rapi. Dekorasinya simpel dan sangat sesuai dengan cowok yang menjadi penghuninya. Ialah, yang mendesain semuanya sendiri.


Arka mengerutkan keningnya sejenak, kemudian berdehem lirih. Saat ini, ia sedang seru dengan segala latihan soal di meja belajarnya. Ini adalah kegiatan yang ia sukai. Menikmati setiap peningkatan suhu yang menjalar ke otak dan seluruh anggota badannya. Mengasah otak tanpa henti.


kreek ....


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di buka, disusul dengan suara langkah kaki khas seorang wanita berparas apik dan berperawakan mungil. Ibu tirinya.


Arka membuang napas kasar. Selalu datang di saat-saat yang menyenangkan seperti ini. Amat mengganggu ketenangan, pun juga kekhusyukan. Seperti tak ada kegiatan lain saja. Itulah, hobby wanita menyebalkan itu.


"Ka, Mama bawain makanan. Dimakan, ya," ucap wanita itu, berharap mendapat respon yang bagus dari anak tirinya ini.


Alih-alih merespon dengan baik, Arka justru memalingkan wajah muak. Mudah sekali ditebak, pasti perempuan ini sedang berpura-pura, mencari perhatian.


Kalau bukan karena papanya, pasti ia sudah menendang wanita ini  jauh-jauh dari rumahnya. Masih muda, cantik pula, mau-maunya menikah dengan duda beranak remaja yang umurnya tak terpaut jauh darinya. Kalau bukan karena uang, maka untuk apa? Huh! mentang-metang cantik, bisa memanfaatkan semua orang seenak jidatnya.


Sarah menghembuskan nafas pelan. Sudah dua tahun usia pernikahannya, tapi Arka masih belum menerimanya sebagai seorang ibu dengan sebenar-benarnya. Tapi tak apalah, ia harus tetap berusaha. Lagipula, mungkin Arka begini hanya karena ia belum rela bila kedudukan ibunya digantikan oleh wanita lain.


"Cepet dimakan ya, Ka, entar kalo udah dingin pasti rasanya udah beda. Lain Kali, kita makan malamnya bareng ya, Ka. Tadi Papa sama Mama udah nungguin, tapi kamu gak turun-turun. Jadi ya ... Mama bawain aja kesini,"  celoteh Sarah seriang mungkin.


Jengah, Arka mendenguskan napas.


"Udah deh, Tan, gue mau belajar. Gak usah ganggu!" bentak Arka dingin, walau tanpa mengeraskan suara.


Sarah tertegun. Sudah berkali-kali diperlakukan seperti ini, tapi rasanya masih sama menyakitkannya. Ia ingin menangis. Hati wanita mana yang tak tersayat jika diperlakukan seperti ini? Tapi, pasti melakukan hal itu justru akan memperkeruh keadaan. Ia menangis; Mas Rangga tahu; Mas Rangga membelanya; Mas Rangga memarahi Arka, dan hasilnya? Arka akan semakin membencinya, dan berfikir bahwa ia yang mengubah ayahnya.


"Ya udah, maaf,  Mama udah ganggu," ucapnya lirih pada akhirnya. Ia kemudian berbalik, melangkah keluar menuju ruang keluarga. Menemani Mas Rangga yang sedang menonton berita di televisi. Ia harus kuat, harus selalu kuat.


"Gimana, Ma, lagi ngapain Arka? Kok, ditungguin gak turun-turun," tanya Mas Rangga langsung mendaratkan kepalanya pada pangkuan Sarah setelah wanita itu duduk di sebelahnya. Kakinya yang jenjang ia naikkan juga ke sofa. Mumpung sedang tidak sibuk, jadi dia bisa berleha-leha bersama istrinya, pikirnya.


"Biasa, Mas, lagi belajar, dia," jawab Sarah sebisa mungkin mengukir senyum. Sembari mengelus-elus rambut suaminya.


"Hmm, terlalu rajin, sampai lupa makan," Rangga berpendapat. sebenarnya bukan masalah jika Arka seperti itu. Bahkan sejak kecil pun, ia selalu seperti itu. Tapi alangkah indahnya, jika anak lelakinya itu mau turut menciptakan kehangatan keluarga bersama.


Sarah hanya diam, masih sedih dengan sikap Arka padanya.


"Oh ya, tadi Mas ada urusan bisnis sama beberapa desainer, terus ngeliat ada tas yang kayaknya cocok buat Dik Sarah," ujar mas Rangga bangkit dari tidurnya, mengambil sebuah kotak berukir merek kondang rancangan desainer terkenal yang sebelumnya sudah ia siapkan.


Sarah mengamati tas itu. Jemarinya mulai menelisik kualitas bahan dari benda di tangannya. Ia kemudian tersenyum, Mas Rangga memang selalu bisa membuatnya seperti ini, membuatnya merasa menjadi orang paling bahagia sedunia sebab memiliki suami seperhatian pria itu.


"Makasih, Mas, aku suka tasnya."


Arka menelengkan kepala muak. Tadinya ia merasa bersalah dan ingin memperbaiki kasalahannya. Tapi lihat sekarang, perempuan ini memang tak layak dikasihani. Pintar sekali memanfaatkan laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2