
"Nad," Arsya memecah keheningan. Menyentuh punggung tangan gadis di sampingnya setelah akhirnya sukses menghempaskan ragu.
Tanpa berucap sepatah kata pun Nada justru memindahkan posisi tangannya, seolah enggan disentuh cowok yang masih berstatus pacarnya itu.
Arsya terhenyak. Ia kemudian menarik tangannya kembali. Andai Nada tahu, ia benar-benar terpukul oleh perlakuan gadis itu. Akankah ... akankah hubungan mereka akan sampai di sini saja?
Kreek....
Setelah sekian lama akhirnya pintu itu terbuka juga. Memunculkan Bu Ratih dari dalamnya.
Nada dan Arsya langsung terkesiap. Spontan saja dibuat menoleh pada ibu Nada itu.
Tanpa mengindahkan keberadaan Nada, Ratih berjalan seolah tak ada anak itu di sana. Ia benar-benar malu melihat hasil didikannya sendiri.
__ADS_1
"Buk," panggil Nada seketika berdiri dari duduknya. Tenggorokannya terasa tercekat. Sekecewa itukah ibunya padanya.
Walau merasa marah dan enggan Ratih tetap menghentikan langkahnya juga. Andai ini bukan di sekolah, pasti ia akan menangis dan berlutut di kaki anaknya guna memohon; agar anaknya itu bersedia memutuskan hubungan penuh kemudharatan ini. Nada adalah anak perempuan satu-satunya. Kalau gadis itu rusak, entah kehinaan apalagi yang akan menimpa keluarga mereka.
"Cepat ambil tas kamu. Ibuk tunggu di parkiran," ucap wanita itu pada akhirnya. Tanpa membalikkan tubuh pada Nada. Dan usai mengucapkan kalimat demikian, wanita itu benar-benar berlalu pergi.
Nada menundukkan kepalanya semakin dalam. Kalau sudah begini, pada siapa ia akan bersandar?
Dalam diam, gadis itu mulai membuka langkah untuk pergi.
"Kita bisa selesain masalah ini bareng, Nad," pinta Arsya berusaha membujuk gadis itu.
Nada yang terlampau kalut, tentu saja melepaskan pegangan Arsya dari pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Semuanya udah terlambat, Sya," ucap cewek itu sebelum benar-benar berlalu pergi. Meninggalkan Arsya yang penuh keterpukulan hati.
Usai memasukkan semua buku-buku dan peralatan sekolahnya Nada mengenakan tas ranselnya. Kemudian melangkah menuju pintu kelas. Sebelum bel masuk berdentang ia ingin segera pergi dari tempat ini. Agar tak bertemu dengan mereka yang entah masih bisa disebut teman atau tidak. Benar, hanya Rana yang ia dapati di hari itu. Tapi, siapa yang bisa memastikan bahwa Rena dan Vira tak terlibat di sana?
Dan benar saja. Baru selangkah gadis itu keluar dari kelas, di depannya sudah berjajar Rana, Rena, Vira, juga Dio. Sedang berjalan menuju ke arahnya.
Alih-alih menghentikan langkahnya Nada justru memasang wajah datar dan terus melangkah maju. Persahabatan mereka selama ini ... benar-benar tidak ada gunanya. Dipisahkan oleh kesenjangan sosial dan penghianatan. Mulai detik ini, ia pastikan mereka bukan sahabatnya lagi!
"Loh, Nad, lo mau ke ma?!" tanya Rana tergopoh-gopoh berlari menghampiri Nada, lalu menyentuh pergelangan tangan cewek itu. Menatapnya dengan tanda tanya besar. Ini kan, belum waktunya pulang.
Rena, Vira, dan Dio yang juga keheranan turut menyusul langkah Rana yang sudah duluan.
Nada yang ditanyai seperti itu justru hanya menoleh pada Rana tanpa sepatah kata. Sekilas, hanya saja Rana tak menyadarinya, pandangan itu mengisyaratkan kebencian.
__ADS_1
Satu detik kemudian, Nada menarik pergelangan tangannya dari tangan Rana. Juga memalingkan wajahnya muak melihat aksi sok perhatian Rana.
"Nad, lo kenapa sih?" tanya Vira ikut bersuara. Benar-benar dibuat keheranan dengan tingkah laku Nada yang entah mengapa, seperti ada yang tidak beres.