
Kedua cowok itu berjalan beriringan menuju lapangan in door sekolah mereka. Masih dengan suasana yang sepi. Hanya terdengar derap langkah mereka di sepanjang koridor itu.
"Pake ketinggalan segala lo, Yo. Kunci motor sendiri juga," keluh Arka, tanpa memberhentikan langkahnya.
Dio memperlihatkan prengesannya. "Namanya juga manusia, Ka. Manusia itu, tempatnya salah dan lupa," kelit Dio tak mau di salahkan.
"Iya deh, terserah lo."
Mereka pun melanjutkan langkahnya. Tapi tiba-tiba ponsel Dio berbunyi saat mereka sudah nyaris sampai di tempat tujuan. Dio mengangkatnya tanpa syarat. Kemudian ....
"Halo, Ma?" Selanjutnya, cowok itu hanya iya-iya saja. Sedang Arka cuma memperhatikannya tanpa banyak bicara.
"Ka, gue mau mampir ke perpustakaan dulu, ya?" ucap Dio usai mematikan ponselnya.
"Hah? Ngapain?" Arka mengernyit penuh tanda tanya.
"Udah, lo masuk aja ambilin kunci motor gue di sekitar kursi-kursi. Emak gue kayaknya mah lagi niyidam, tiba-tiba minta dibawain buku resep masakan," ucap Dio ngawur, kemudian menepuk pundak Arka dan berlalu begitu saja.
Arka masih mengernyit, terdiam di tempatnya. "Emang ada?" tanyanya pada diri sendiri. "Eh, ralat, emang masih buka?" lanjutnya lagi.
"Ah, bodoamat." Arka menggeleng pelan, lantas melanjutkan langkahnya memasuki ruang luas itu. Pandangannya menyisir ke seluruh ruangan, dan berhenti pada seonggok kunci kecil yang tergeletak begitu saja di tengah lapangan.
__ADS_1
"Dasar sembrono! Katanya di sekitar kursi," desis cowok itu, berjalan ke tengah lapangan dan mengambil alih kunci itu dengan merunduk.
"Ka ...."
Arka terhenti. Tak hanya suara itu, tapi derap langkah seseorang yang kian mendekat cukup membuat dirinya membeku. Cowok itu kemudian bangkit dari posisinya, berbalik badan dan mendapati seorang cewek berperawakan mungil menatapnya dengan sendu.
"Rana?" lirih Arka, terpaku pada satu titik: manik mata Rana. Tatapan kesakitan dan rindu, tanpa kebencian. Padahal, ia tahu, gadis itu terlampau kesakitan.
Rana tersenyum tipis. "Jangan menghindar lagi, Ka. Biarin aku ngobrol sama kamu sebentar aja." Suara gadis itu tertahan. " ... aku kangen sama kamu," lirihnya. Bersamaan dengan itu, setetes bening air mata lolos begitu saja. Air mata kerinduan, juga kesakitan.
"Jangan nangis, nggak ada yang bisa berubah." Arka akhirnya bersuara juga, menghempas raut iba dari wajahnya.
"Perasaan mana yang lo maksud? Gue gak ngerti. Apa lagi mau lo? Gue nggak punya banyak waktu," ucap cowok itu kaku, seolah Rana adalah orang asing yang tak dikenalnya. Seolah ia adalah mahluk alien, yang berusaha dihindarinya.
Mendengar ucapan Arka, seolah ada pisau setajam silet yang mengiris-iris hati cewek itu. Ia terisak, matanya tak kuasa lagi menahan kristal bening yang hendak keluar semakin deras.
"Kamu sendiri yang janji sama aku, Ka! Kamu kan, yang bilang gak bakal ninggalin aku?! Kenapa? Aku butuh alasan, Arka! Kamu gak bisa ninggalin aku gitu aja ..., " Rana meledak, wanita mana yang bisa menahan diri dengan perlakuan seperti ini?
Arka masih menatap Rana tanpa ekspresi. "Nggak usah ngomongin janji. Udah masalalu juga, kan? Lagian ...." Arka memalingkan wajahnya. "Nggak ada yang pernah bermula dari kita. Jadi jangan ngerasa tersakiti, seolah gue yang mengakhiri. Dan jangan tanya alasannya apa, karena gue gak perlu punya alasan buat ninggalin elo" Cowok itu lantas membalikkan badan, bersiap pergi dari hadapan Rana.
"Arka! Berhenti!" Rana mengepalkan tangannya. Dalam hati memaki diri sendiri. Kenapa sebodoh ini? Kenapa masih berharap pada cowok tanpa perasaan itu? Air matanya terus mengalir, dan bibirnya gemetar.
__ADS_1
Arka menghentikan langkahnya. Kedua tangannya mengepal gemetar, tapi langkahnya terasa kaku untuk memilih pergi.
"Lo emang tega, Ka! gue nggak pernah nyangka..." kalimat Rana tergantung, bercampur dengan isak tangisnya. "Kenapa, kenapa gue bisa jatuh cinta sama lo? Kenapa, kenapa harus lo, Kaaa ...."
Rana menjatuhkan dirinya. Luruh. Hancur sehancur-hancurnya. Ia adalah mahluk mahakecil yang penuh kesakitan dan luka.
"Tapi asal lo tau aja, Ka! Gue masih tetep di sini. Gue kalah sama perasaan diri gue sendiri. Gue sayang sama lo, Kaa ...."
Arka mengepalkan tangannya semakin erat, memejamkan matanya. "Udah, hapus perasaan lo ke gue, karena sampai kapan pun perasaan itu gak akan kebales."
Rana sesenggukan. "Terus selama ini apa, Arkaa?" lirihnya di antara isak tangis.
"Sorry, gue cuma kasihan," ucap Arka lantas pergi begitu saja meninggalkan Rana yang masih terduduk di lantai menangis tersedu-sedu.
Rana menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kasian?" tanyanya pada diri sendiri, ngilu. "Gue emang menyedihkan, tapi lo gak perlu bikin gue kesakitan cuma gara-gara rasa kasihan lo." Cewek itu semakin tersengal-sengal, memeluk lututnya hancur.
"Udah, Ra. Yang lo minta adalah penjelasan, dan lo udah dapetin itu semua," ucap seorang cowok menyentuh bahu Rana.
"Raja ...." Rana memeluk cowok itu, menjadikannya sandaran yang terakhir. "Gue nggak percaya perjuangan gue buat dia sampe di titik ini," isaknya.
"Udah, Ra ... dia gak pantes dapetin itu semua," ucap Raja, mengusap pundak Rana.
__ADS_1