
"Enak," ucap Rangga pada akhirnya.
"Bener, Mas?" tanya Sarah memastikan pendengarnya.
"Iya. Ini enak banget," jawab Rangga meyakinkan.
"Yes!" Sarah langsung berdiri dari duduknya, sembari mengepalkan kedua tangan di udara. Layaknya sang pemenang judi.
Rana menghela napas lega. Tuh kan, ia bilang juga apa? Makanya jangan pandang remeh sembarangan.
Arka langsung mengernyit heran. Jangan-jangan ayahnya sedang beebohong supaya tante Sarah senang.
"Cobain, Ka. Kayaknya Rana emang punya bakat masak, deh," ucap Rangga menyenggol tangan Arka.
"Eh, iya, Pa," sahut Arka namun tak langsung melakukannya. Ia menatap masakan di hadapannya ngeri. Takut-takut kalau habis ini perutnya akan sakit gara-gara memakan makanan beracun yang dibuat oleh Rana. Pandangannya kemudian teralih pada cewek di hadapannya. Cewek itu memain-mainkan kedua alis menatapnya. Niat sekali menantangnya.
Penasaran, akhirnya Arka menyendok makanan itu sedikit. Berjaga-jaga saja kalau ternyata dugaannya benar. Dimasukkannya makanan itu ke mulutnya, kemudian dikunyah perlahan. Sial! Ternyata ... beneran enak.
"Week!" lirih Rana menjulurkan lidahnya pada Arka. Siapa suruh meremehkannya begitu saja?
"Gimana, Ka?" Rangga meminta pendapat anaknya. "Enak, kan?" tanyanya lagi.
Agak lama, tapi akhirnya Arka menganggukkan Kepala juga.
Satu anggukan kepala, Sarah langsung berteriak girang, sedangkan Rana tersenyum penuh kemenangan.
"Yes! Makasih ya, Ra!" Sarah kegirangan. "Pokoknya habis ini kamu harus sering-sering main ke sini, Ra. Ngajarin Tante biar Tante bisa masak."
Arka dan Rana langsung tercengang mendengar perkataan Sarah barusan. Kedua remaja itu saling bertukar pandang. Sial! Ide gila macam apa ini?
...💕...
"Tan, Rana pulang dulu, ya. Padahal tadi izinnya sore udah ada di rumah," kekeh Rana setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Hehehe, gak papa. Tadi Tante udah bilang kok, ke mami kamu." Sarah juga ikut terkekeh.
"Rana mau pulang?" tanya om Rangga.
"Iya, Om," jawab Rana tersenyum sungkan.
__ADS_1
"Ka, anterin Rana pulang. Kasihan, perempuan pulang sendirian," ucap Rangga kemudian.
Arka memutar jola matanya jengah. Lagi-lagi nganterin Rana pulang. Dikiranya sini supir, apa? Dasar ngerepotin.
"Iya, Pa," jawab Arka pada akhirnya. Tak mungkin ia menolak permintaan ayahnya. Pandangannya menatap cewek di hadapannya malas, sedang si cewek malah memain-mainkan kedua alisnya tanpa dosa.
Arka membuka pintu mobil malas, kemudian masuk dan membantingnya keras.
"Dadah, Tanteee!" Rana melambai-lambaikan tangannya tinggi pada tante Sarah yang sedang berdiri mengawasinya dari teras rumah Arka.
"Dadah, Ranaaa!" Balas Sarah juga melambai-lambaikan tangannya.
"Emmmuach!" Tak lupa pula, Rana memberi kiss bye dengan gayanya yang riang.
Sarah terkekeh. Imut sekali anak temannya ini.
Arka mendengus kesal. Dasar alay! Hanya mau pulang ke rumah, kenapa pakai perpisahan segala?
Rana membuka pintu mobil, kemudian langsung mendaratkan dirinya di kursi penumpang.
Arka semakin sebal. "Lo kira gue sopir taksi, apa?" tanyanya tak bersahabat.
"Pindah gak lo?!" Arka malas meladeni candaan Rana.
"Hehehe ,,, " Rana malah cengengesan. Tapi kemudian menuruti perkataan Arka. Dasar galak! Perasaan cuma perkara tempat duduk, deh.
Mobil pun melaju ke alamat jalan kuningan No. 22 Sepanjang perjalanan, Arka sama sekali tak bicara, sedang Rana malah sibuk memilah-milah lagu. Diputar, kemudian diganti. Diputar, kemudian diganti lagi. Diputar lagi, diganti lagi. Begitu seterusnya sampai mobil benar-benar berhenti tepat di depan rumahnya.
Arka memalingkan wajah. Berada satu mobil berasama cewek ini benar-benar membuatnya tersiksa. Kemarin menangis histeris. Dan sekarang? Sibuk mengganti-ganti lagu sesuka hati. Membuat telinga pengang saja.
Rana masih sibuk memilah-milah lagu. Sebenarnya ia sudah tahu sih, mobil sudah sampai di depan rumahnya. Ia hanya ingin memancing amarah Arka. Suka sekali melihat wajah itu merah padam dengan tatapan tajam sembari mengeluarkan kata-kata sebagai perintah atau bentakan. Setidaknya, itu lebih baik daripada diam saja. Siapa suruh irit bicara?
"Udah sampe," ucap Arka malas. Lihatlah dirinya sekarang. Sudah seperti supir taksi betulan.
"Oh, udah sampe, ya? Masuk yuk, Ka," ajak Rana kemudian.
Arka langsung menoleh pada lawan bicaranya. Kenapa pula cewek ini mengajaknya masuk? Tak tahu apa, mengantarnya saja ia malas, apalagi sampai mampir ke rumah segala.
Rana meringis memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi. "Hehehe, jaket lo kan masih sama gua, Ka. Sekalian gue kembaliin aja," terang Rana kemudian.
__ADS_1
"Oh." Arka kemudian turun dari mobilnya. Betul juga kata Rana. Jaket itu harus segera diambil alih.
"Pak Budi, di rumah ada Papa gak?" tanya Rana pada pak Budi, setelah ia turun dari mobil.
"Siap! Gak ada, Non," jawab pak Budi dengan sigap.
"Okhay, Paak! Ayo, Ka," ajak Rana kemudian berlalu masuk ke area rumahnya.
Arka ngikut saja di belakang Rana. Habis ini, ia pasti akan bertemu dengan ibu dari gadis ini. Apakah sama menyebalkannya dan pecicilannya seperti Rana? Bayangkan, anaknya saja sudah seperti ini, apa lagi induknya.
Bel dipencet. Pintu terbuka. Menampilkan wajah seorang wanita yang begitu mirip dengan Rana. Senyumnya mengembang ramah sekali.
"Arka? Habis nganterin Rana, ya?Masuk dulu, Ka," ucap Puspa mempersilahkan Arka duduk.
Arka tak banyak bicara. Tersenyum sopan, masuk, dan mendaratkan dirinya di sofa.
"Tunggu ya, Ka. Gue ambilin jaketnya dulu," ucap Rana kemudian berlalu begitu saja. Terburu-buru menaiki tangga dengan langkah-langkah kecilnya.
"Maaf, ya, Ka. Kamu sampai repot-repot mengantar Rana begini," ucap Puspa sungkan, masih dengan senyum ramahnya.
"Gak papa, Tan," jawab Arka seadanya. Dalam hati agak terheran-heran tak menyangka. Rana dan mamanya mirip di fisik, tetapi berbeda jauh di sifat. Mamanya lemah lembut begini, kenapa Rana bisa sepecicilan dan semenyebalkan itu? Nyidam makan kuda lumping kali, ya.
"Kamu pasti gedeg kalau di deket dia. Rana emang gitu, Ka. Gak bisa diem anaknya. Dari kecil emang udah kayak gitu. Hiperaktif." Puspa terkekeh.
"Hhh, iya, Tan," ucap Arka menanggapi singkat. Padahal dalam hati sudah tertawa terpingkal-pingkal. Sangking pecicilannya, mamanya sendiri tak malu mengakuinya. Hhh, dasar cewek aneh!
"Mii! Jaket yang tadi mana, ya?" teriak Rana sembari berlari-lari kecil menuruni anak tangga.
"Coba tanya Bik Esih! Tadi Mami nyuruh Bik Esih buat ngerapihin kamar kamu."
"Bik Esih dimana, Mi?!" tanya Rana sembari berjalan terburu-buru menuju dapur.
Puspa tak menjawab, malah tersenyum maklum pada Arka. "Tuh kan, Tante bilang juga apa."
Arka tersenyum. Ternyata tak sepenuhnya jauh berbeda. Walau pembawaannya tentu tak sama.
"Ka." Rana tiba-tiba datang dengan nafas terengah-engah. "Jaketnya ..." katanya kemudian terengah-engah lagi.
Arka memandang cewek itu. Menunggu cewek itu meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
"... dicuci Bik Esih," ucap Rana pada akhirnya, kemudian meringis seperti biasanya.