The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Erlano Adinegara


__ADS_3

Dalam remang malam yang indah, gadis berambut cempol itu memandangi wajah rembulan dari balik kaca restoran, tepatnya di lantai dua sebuah restoran yang sebelumnya sudah disewa oleh Arka.


Rana menghela napas. Ia kemudian mengamati ruangan itu. Romantis sekali. Ya, seharusnya itulah yang terjadi pada malam ini. Ruangan ini terlalu romantis untuk ia tumpangi sendiri. Ia ingin Arka segera datang, agar ia tak terlihat seperti jomblo kesepian yang menghayalkan kencan romantis bersama cowok idaman.


Rana mengalihkannya perhatiannya lagi ke langit malam. Tertawa kecut dalam hatinya.


Dredd ....


Sebuah pesan masuk dan ia tak butuh diberi aba-aba untuk segera membukanya.


Arkanya Rana 😆


Aku ke sana.


Maaf ....


Sudut bibir gadis itu kemudian terangkat kembali. Malam ini adalah malam yang sudah ditunggu-tunggunya selama ini. Rasanya, seumur hidupnya adalah penantian terpanjang demi malam ini. Dan ia tahu, Arka tak mungkin, dan tak akan mungkin mengecewakannya.

__ADS_1


...💕...


Arka melaju dengan kecepatan tinggi. Diliriknya setangkai mawar merah yang dibelinya barusan, demi meredam kekecewaan Rana mengenai keterlambatannya.


Dalam hitungan menit yang lebih cepat dari perkiraan siapa pun, akhirnya ia sampai di restoran yang sudah ia tentukan dengan Rana. Sekilas, kepalanya menengadah demi mengecek apakah Rana masih berada di sana, di lantai dua yang ia sewa.


Dan senyumnya seketika mengembang, sebab siluet seorang gadis berambut cempol yang duduk sendirian di sana. Sedang memandangi bulan dengan wajah cantiknya.


Cowok itu kemudian turun dari motornya, tak lupa pula membawa setangkai mawar yang akan ia hadiahkan untuk Rana. Langkah panjangnya tertuju pada pintu restoran yang terbuka lebar, menyajikan pemandangan betapa banyaknya pengunjung restoran ini.


"Ka!"


"Arka? Apa kabar?" Seorang wanita dengan gaun selutut berwarna putih kini berdiri di hadapan Arka. Tersenyum lembut, dengan sebuah keranjang bayi yang didorongnya.


"Ingga?" ucap Arka masih terpaku. Entah sudah berapa lama ia kehilangan senyuman itu.


Ingga tertawa kecil menyadari keterpakuan cowok di hadapannya. Tapi kemudian, pandangannya teralihkan oleh setangkai mawar yang dibawa oleh Arka.

__ADS_1


"Kamu ... mau ngedate sama cewek?" tanyanya dengan wajah tak seceria sebelumnya, seolah kenyataan itu bukanlah kabar baik baginya.


"Eh, ekhm ..." Arka berdehem, kemudian teringat tujuannya ke tempat ini. Rana pasti sedang menunggunya di atas. Tapi baru saja ia mau mengatakan maksudnya, pandangannya teralihkan pada sosok kecil yang dibawa Ingga bersamanya. Cowok itu berjongkok, matanya sendu menatap wajah imut tanpa dosa itu.


"Ingga, jangan bilang ...."


"Iya, Ka. Sorry, selama ini ngilang tanpa jejak dari hidup kamu."


Arka mendongak. Sebuah batu besar rasanya ditohokkan pada ulu hatinya sekuat-kuatnya. Semenderita itukah Ingga selama ini?


"Aku pengen bicara sebentar. Boleh, kan?" tanya cewek itu, memohon lewat manik matanya.


Arka mengangguk tanpa syarat. Cowok itu tak mungkin mengabaikan permintaan perempuan yang selama lebih dari setahun ini menjadi pusat belenggu dalam dirinya. Pusat kekhawatiran yang ia tanggung sendiri.


Ingga memanggil seseorang untuk kemudian


membawa bayi yang bersamanya pergi untuk sementara.

__ADS_1


"Siapa namanya?" tanya Arka sebelum bayi itu benar-benar dibawa pergi dari hadapannya. Jemarinya mengelus pipi mungil bayi itu halus. Matanya menatap lurus. Entah kesedihan atau kebahagiaan, ia sendiri tak tahu.


"Erlano Adinegara, aku berharap dia bisa merubah nasib sial dia di kemudian hari."


__ADS_2