The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Hening yang Dingin


__ADS_3

Duh, malu-maluin banget. Kok kamar Arka lebih rapi dari kamar gue sih, batin Rana menyusuri setiap detail ruangan luas itu. Meja belajar dan tempat buku yang tertata rapi. Juga dinding yang bersih bening seperti tanpa kaca. Hehe.


"Ya udah ya, Ra, Tante tinggal dulu," ucap Sarah menyentuh pundak gadis yang tengah duduk di tepi ranjang anaknya itu.


"Oh ... iya, Tan," ucap Rana merespon. Tapi kemudian, melanjutkan aktifitasnya lagi.


Di tempatnya, Arka yang tengah duduk bersandar di dinding ranjang juga terus mengamati cewek itu. Ia sedang mempertanyakan, kenapa Rana menganggurkannya begini? Malah sibuk memandangi dinding-dinding kamarnya.


"Ra," panggilnya halus.


Rana masih sibuk mengamati.


"Ra," panggilnya lebih keras lagi.


"Arka!" Rana tiba-tiba menjerit heboh, sembari menunjuk sebuah figura yang baru ia sadari kehadirannya.


"Kenapa?" tanya Arka sedikit terkesiap. Dalam hati bersyukur sebab ia tak punya riwayat penyakit jantung.


"Itu bukannya gambar Rana, ya?" tanya Rana sembari menegaskan barang yang dimaksudnya dengan meraih gambar itu dengan tangannya.

__ADS_1


"Owh ... itu. Gambarannya siapa lagi?" jawab Arka melengkungkan senyumnya.


"Arka .... kok coocwiit banget cih. Kirain dibuang," ucap Rana dibuat semanja mungkin.


"Ya gak mungkin lah. Kan gambarnya bagus," pujinya.


Mendengar pujian dari cowok itu, Rana tak bisa menyembunyikan senyum serta rona merah di pipinya.


"Saayang Arkaa," ucapnya meniru gaya Upin Ipin, sekaligus memeluk erat cowok itu. Atas karyanya, tak perlulah pujian dari semua orang kalau pujian dari Arka saja sudah cukup untuk membuatnya berterbangan seperti saat ini.


"Dulu, almarhumah nyokap gue juga suka ngelukis," ucap Arka sembari mengelus rambut panjang gadis dalam dekapannya.


Rana mendongak. Menyadari rona kesedihan pada raut wajah cowok itu.


"Iya, Pasti." Arka tersenyum menatap manik mata Rana.


Seperti menikmati senja di sore hari. Juga memandang bunga yang akhirnya mekar setelah kuncup berhari-hari. Saling memandang bersama seseorang yang kita sukai menyenangkan, bukan? Itulah yang dirasakan Rana saat ini. Tapi, tiba-tiba ia teringat satu hal, sehingga membuat senyumannya memudar.


"Kenapa, Ra?" tanya Arka menyadari perubahan ekspresi Rana yang drastis.

__ADS_1


Rana menimang-nimang apa yang hendak ia katakan. Dilepaskannya pelukannya dari tubuh Arka, kemudian menunduk. Masih ragu untuk mengatakannya.


"Kenapa, Ra? Ada masalah apa?" tanya Arka menyentuh punggung tangan cewek berperawakan mungil itu.


"Rana pengen minta sesuatu dari Arka," ucap Rana setelah dalam hati meyakinkan diri sendiri.


"Minta apa?" Arka bersiap mendengarkan dengan baik. Bangkit dari posisi menyandarnya.


"Rana pengen ... Arka nyoba nerima Tante Sarah ..." Gadis itu menghentikan kalimatnya. Menatap iris Arka lekat. Berusaha mencari tau apa yang saat ini difikirkan cowok itu. "... Sebagai mama Arka," sambungnya lagi.


Mendengar permintaan yang baru saja diungkapkan Rana, pandangan cowok itu menyendu. Kemudian memalingkan wajahnya dari tatap iba gadisnya. Bukan, bukan ia tak bersedia melakukannya. Hanya saja, baginya perkara ini tidaklah semudah membalikkan tangan. Bukan hanya berat, tapi terasa tak mungkin.


Menyadari tanggapan Arka yang tidak begitu baik, Rana menunduk hening. Harusnya ia biasa saja karena ini adalah masalah pribadi keluarga Arka. Ditolak pun, sebenarnya tak apa. Toh, ia tak punya hak apa-apa.


Tapi, kenapa ia merasa sakit?


Ditatapinya tangan Arka yang masih menyentuh punggung tangannya. Terasa dingin. Seperti suasana saat ini.


Tok tok tok....

__ADS_1


Suara pintu yang diketuk tak terlalu keras memecahkan keheningan di ruangan itu. Rana bersegera bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu.


"Rana bukain pintu dulu," ucapnya sebelum berlalu ke arah pintu meninggalkan Arka yang sudah melihat ke arahnya, namun masih dalam keadaan membisu.


__ADS_2