The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Diantara Dua Api


__ADS_3

"Ra, kamu bener-bener gak papa, kan?" tanya Daniel pada cewek mungil yang duduk di sebelahnya, sedang menengadah mengamati bintang dari taman depan halaman rumah cewek itu.


"Gak papa apanya? Niel nanya nya kayak Rana mau mati aja," kekeh Rana pada cowok di sampingnya. Malam sudah larut dan ia selalu senang mengobrol dengan Daniel.


"Bukan, bukan gitu. Di sekolah, Rana baik-baik aja, kan?" Daniel memperjelas pertanyaannya. Ada binar kekhawatiran di matanya.


"Hhh,,, sekarang Niel nanya nya malah kayak Mami," kekeh Rana lagi.


"Raa...," keluh Daniel menatap Rana malas. Susah sekali cewek ini diajak serius.


"Iya-iyaa... Rana baik kok, baik banget malahan," ucap Rana mengukirkan senyum indahnya.


"Yakin?" tanya Daniel lagi.


"Yakin. Lagian, sekarang Rana udah nemuin siapa cowok yang harus Rana perjuangin," ungkap Rana gamblang. Seolah tak peduli dengan apa yang akan dirasakan Daniel setelah perkataannya barusan.


...💕...


Suasana di ruangan itu masih terlampau sepi. Hanya ada detak jam dinding dan suara satu dua siswa-siswi yang berseliweran di luar kelas. Ruangan itu juga masih berantakan : debu, kotoran, dan sampah kertas berceceran di bawah meja dan kursi yang sama sekali tak tertata rapi. Ya, ruang kelas itu belum dipiketi.


Kreek...


Seorang cewek yang merupakan salah satu anggota penghuni kelas, baru saja memasuki ruangan itu. Menjadi murid pertama yang berangkat di pagi hari ini.


Cewek itu berjalan menuju tempat duduknya, sejurus kemudian meletakkan tas sekolahnya pada tempat itu. Kenapa ia bisa datang sepagi ini?


Ia malas duduk diam di kelas sendirian. Jadi, ia hendak melangkahkan kaki menuju pintu kelas untuk keluar, tapi entah mengapa sebuah kertas yang tergeletak tak berdaya di bawah lantai dan terlihat habis diremas-remas tak tersisa, tiba-tiba menarik perhatiannya.

__ADS_1


Dipungutnya kertas itu kemudian dibuka perlahan. Mengamatinya sekilas, lalu memasukkan kertas itu di tas miliknya.


...💕...


Di dalam sebuah mobil, dengan seorang supir berusia 40-an, seorang cewek tersenyum ceria dengan sebuah kotak penuh hiasan di tangannya. Hari ini misinya benar-benar sudah resmi dimulai. Jadilah ia manusia yang paling bersemangat di bumi pertiwi ini.


Ia sudah besar, kalau ia menginginkan sesuatu, maka ia harus berjuang mendapatkannya. Bukan hanya menunggu sebuah keberuntungan, dimana Arka tiba-tiba membalas perasaannya. Hidup emang keras, Bro!!


"Makasih ya, Pak Budi," ungkap cewek itu setelah turun dari mobilnya, masih lengkap dengan senyum penuh ceria yang senantiasa setia nangkring di wajah imut nan cantiknya.


"Siap, Non," Pak Budi memberi sikap hormat seperti biasanya. "Nanti dijemput lagi kan, Non?" tanyanya memastikan.


"Emm ... iya, nanti Rana telfon, Pak," jawabnya, kemudian berseru, "Dah, Pak Budi!"


Setelah mengucapkan kata perpisahan pada supirnya, cewek itu langsung berlarian menuju parkiran sekolah, meninggalkan Pak Budi yang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan majikannya.


Senyum cewek itu semakin mengembang, kemudian ia berteriak riang mengetahui cowok yang ia cari-cari sudah berada di sekolah. Langkahnya lagi-lagi berlari kecil girang, hendak menuju ke tempat di mana mungkin cowok itu berada.


Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di tempat tujuannya. Kepalanya mengadah memastikan ini adalah ruangan kelas Arka. 12 IPA 3. Benar. Maka tanpa fikir panjang, ia langsung melangkahkan kaki memasuki ruang kelas itu.


Baru beberapa langkah, ia langsung terhenti. Memandangi seorang cowok yang tengah sibuk dengan buku dan pena di tangannya. Sepagi ini, sendirian di dalam kelas, entah sedang mengerjakan apa. Dan satu lagi, ... Arka terlihat tampan sekali.


"Ka," ucapnya, lengkap dengan senyum indah yang ia tawarkan secara percuma. Tentu saja berharap Arka juga membalas dengan hal yang sama.


Mendengar seseorang memanggilnya, cowok itu menghentikan tangannya yang sejak tadi asik sekali ber-olah angka. Ia lantas menegakkan pandangannya, mendapati seorang cewek tersenyum riang ke arahnya, dengan sebuah kotak berhias di kedua tangannya.


"Ngapain lo ke sini? Gua lagi gak mau diganggu," ucap cowok itu dingin tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Pagi-pagi jangan marah-marah atuh, Ka." Walaupun respon Arka sebegitu sinisnya, cewek itu masih dengan senyum riang, melangkahkan kakinya menuju tempat duduk cowok yang disukainya.


"Gua bilang, gua gak mau diganggu," ketus Arka sekali lagi, berdiri dari duduknya kemudian maju dua langkah ke arah Rana.


"Rana gak mau ganggu kok. Rana cuma mau balikin jaket Arka," terang Rana, menyodorkan kotak yang dibawanya.


Arka melihat kotak itu sejenak, kemudian beralih pada wajah Rana yang tersenyum manis, tapi ia kemudian memalingkan wajah lagi, mendapati kedatangan seorang cowok di ambang pintu kelas.


"Maaf Rana baru balikin sekarang, soalnya Rana buatin kotaknya dulu," aku Rana polos, tak sungkan-sungkan menampilkan rentetan giginya yang tertata rapi.


Arka mengalihkan pandangannya kembali pada cewek di hadapannya, kedua tangannya kemudian menerima kotak yang disodorkan Rana.


Rana menurunkan tangannya, menatap cowok di hadapannya senang sekali. Sedang menahan diri agar tak berteriak senyaring mungkin karena kebaperan.


"Gue udah bilang, gue lagi gak mau diganggu," ucap cowok jakung itu datar, melangkah menuju pintu dan... Bruk!! Dengan mudahnya, ia membuang kotak yang barusan di berikan oleh Rana di tong sampah. Seolah barang itu adalah barang pembawa sial yang mengharuskan dirinya bertindak seperti itu.


"Ka?!!" Raja yang semendari tadi hanya diam mengamati, tiba-tiba angkat bicara. Ada gejolak yang mulai merambat dan menguasai dirinya.


"Kenapa? Lo gak suka?" ketus Arka, dengan kilatan permusuhan.


Glek, Rana meneguk ludahnya miris. Tak tahukah Arka bahwa diperlakukan seperti ini benar-benar menyakitkan?


"Dah gila lo, Ka!" ucap Raja kemudian menghampiri Rana dan menggamit tangan cewek itu. "Ayo, Ra! Orang kayak gini tuh gak pantes lo perjuangin." Cowok itu kemudian menarik Rana mengikuti langkahnya, meninggalkan Arka seorang diri di dalam kelas.


"Ja, tapi gue ... gak papa," ucap Rana masih menoleh ke belakang, memandangi kelas Arka dan Raja. Ia ingin kembali, berlari ke sana, dan mengatakan pada Arka bahwa ia benar-benar menerima perlakuannya, tapi ia tahu itu adalah tindakan gila.


"Lo gak papa, gue yang gak bisa liat lo digituin!" Raja menekankan setiap katanya, seolah ingin Rana mengerti sesuatu yang lain.

__ADS_1


Di kelas, Arka membuang napas kasar, mengacak-acak rambutnya benar-benar frustasi. Ia kemudian melangkah ke tempat duduknya, memandangi sebuah kertas origami berbentuk hati, dengan kedua tangan menumpu pada meja belajarnya.


__ADS_2