The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Pahlawan


__ADS_3

"Bukan, Mas gak salah. Mas tegas, berusaha membuat Arka memahami bahwa dia gak bisa bertindak semuanya. Tapi menurut aku, cara Mas bukan cara yang tepat."


"Terus, aku harus gimana?" Aku gak mau Arka jadi orang yang gagal."


"Mas berhenti menghukum Arka kayak gitu. Didik dia dengan kasih sayang supaya dia tidak menjadi orang yang mati rasa."


"Tapi gimana kalau dia malah menjadi-jadi?"


"Mas, kasih kesempatan aku ngajarin dia tentang kasih sayang, tentang dunia yang tidak selalu pahit, dan tentang keluarga yang selalu menjadi tempat pulang yang paling nyaman, ya?"


Rangga memeluk Sarah hangat, menciumi ujung kepalanya. Orang-orang salah, kalau mengira Sarah yang cantik hanya mengincar kekayaannya. Arka juga salah, jika ia beranggapan seperti itu.


...💕...


Parkiran SMA Tunas Bangsa


Sebuah mobil terparkir mulus di tempat biasanya. Membawa keempat cewek cantik dengan seragam putih abu-abunya.


"Yuk, gaes!" ucap Rena keluar dari mobilnya, diikuti Vira dan Nada.


"Emm ... kalian duluan aja, ya," ucap Rana sembari membuka pintu mobil.


"Loh, kenapa, Ra? Lo mau kentut dulu?" tanya Vira membulatkan matanya.


"Iya, cepetan cabut makanya," jawab Rana asal. "Bentar lagi bom gue mau keluar nih. Lo mau pesen yang aroma apa? Tinggal duren sama jengkol. Pilih yang mana?"


"Iiih ... Rana! Jorok deh." Vira sontak memukul lengan temannya itu.


"Ya udah ya, Ra. Kalau gitu kita duluan aja," ucap Rena menengahi.


"Siap grak!" ujar Rana meniru gaya pak Budi. Hormat sedia.


Vira menahan tawa kemudian melepas kaca mata hitam Rena begitu saja.


Rena yang kaca matanya diambil hanya diam saja, mengernyitkan alis sembari menunggu apa yang hendak dilakukan temannya ini.


"Naah, gini kan lengkap." Vira kemudian memasangkan kaca mata itu pada Rana yang masih setia dengan posisi hormatnya.


"Hahaha,,, lapor! Move on udah dari dulu, gue siap cari yang baru," seru Rana meniru gaya seorang pimpinan pasukan pramuka.


"Laporan diterima, silahkan menunggu materi dari player legendaris!" seru Vira membalas candaan Rana, kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak dengan suara Rana yang paling dominan. Sedang Rena dan Nada hanya tertawa seadanya saja.

__ADS_1


"Udah ah, Ra, kita ke kelas dulu. Bisa mati ketawa gue di sini," ucap Vira menyudahi tawanya.


"Hhh,,, ya udah, sana sana! Cepetan lari, bom gue mau meledak beneran nih."


"Dih! Dasar jorok!" ucap Vira kemudian berlalu diikuti Nada dan Rena dari belakang.


Setelah ketiga temannya pergi, Rana menghela napas mengamati jejeran motor yang berbaris rapi di parkiran SMA Tunas Bangsa.


"Gak ada." Matanya kemudian tertuju pada gerbang yang berdiri kokoh dengan pak Uus yang senantiasa berjaga di sampingnya.


Satu menit, dua menit, tiga menit, ia kemudian mengamati jam di pergelangan tangannya. Jangan bilang, Arka gak sekolah gara-gara kejadian kemaren. Jemarinya kemudian memindahkan kaca mata milik Rena di atas kepalanya.


Rana menghela napas lagi, sebentar lagi sirene sekolah akan berbunyi.


Gundul-gundul pacul-cul gemblengan nyunggi-nyunggi ....


Rana tersentak. Sejak kapan sirene sekolah bunyinya seperti itu? Emangnya sekarang lagi ngetrennya lagu itu, ya?


"Eh, iya," prenges Rana mengetuk kepalanya pelan. "Itu kan, suara Hp gue," ucapnya kemudian merogoh sakunya mengambil Hp.


"Halo? Dengan siapa dimana?" sapanya pada seseorang di seberang sana. Nomor baru tanpa nama. Semoga saja bukan penipuan hadiah uang ratusan juta.


"Ooooh, hai Tante! Tante apa kabar? Rana kira nomornya siapa. Untung bukan tukang nagih utang apalagi penipuan," kekeh Rana kemudian tertawa sendiri dengan ucapannya. Tak terlalu peduli dengan beberapa orang yang melintas memandanginya heran.


"Hhh,,, bisa aja kamu, Ra. Tante baik. Oh ya, Tante pengen ketemu kamu nih. Kapan kamunya ada waktu luang?" tanya tante Sarah di ujung sana.


"Ah, Tante becandanya lucu banget sih. Ini yang artis sebenernya siapa? Aku apa Tante? Pake gak ada waktu segala."


"Yaa ... siapa tau aja kamunya lagi sibuk ngapain gitu. Jadi, kamu bisa kalau ketemu hari ini?"


"Bisa, Tante. Pulang sekolah aja ya, Tan. Tapi entar Tante aja yang bilang ke mami kalau Rana pulangnya lambat," ucap Rana berjaga-jaga saja kalau kejadian kemarin terulang lagi. Om Cipto bisa memarahinya habis-habisan.


"Gampang itu mah. Entar bisa Tante yang bilang."


"Oke. Oh ya, Tan, Arka ... sekolah gak hari ini?" tanya Rana agak ragu.


"Ooh, Arka? Gak sekolah dia hari ini. Tapi Tante udah izin ke gurunya kok."


"Owh, iya, Tan. Ya udah ya, Tan, Rana kayaknya mau apel pagi deh."


"Oh iya, Ra. See you!"

__ADS_1


"See you, Tan!"


Tuut.... panggilan diakhiri.


Rana menghela napas lagi. Tuh kan, Arka gak sekolah hari ini. Pasti dia sakit gara-gara kejadian kemarin. Huh, ini semua salahnya.


Ia kemudian melangkahkan kaki berlalu meninggalkan parkiran SMA Tunas Bangsa menuju ke kelasnya.


Berjalan di koridor sekolah sendirian, entah mengapa semua tatapan seperti tertuju padanya. Mengamati dari atas hingga bawah. Membuatnya merasa tak nyaman. Ia lantas memasang kaca mata hitam yang sebelumnya beradada di atas kepalanya ke sepasang matanya.


"Bangga banget pasti ya, jadi rebutan cowok-cowok sampe tawuran segala. Harga diri lo dimana? Obral cinta ke semua cowok. Lo gak punya malu, ya? Ngerasa yang paling cantik?"


Rana menghentikan langkahnya. Merasakan panas yang tiba-tiba merambati dadanya.


Mendengar hinaan barusan, Rana sontak membalikkan badan, bertatapan langsung pada seorang cewek yang kini menatapnya tajam. Pandangannya kemudian tertuju pada ukiran di atas pintu kelas yang mungkin adalah kelas cewek itu. 12 IPA 3. Ia lantas melangkah maju menghampiri cewek itu. Kalau dengan Arka yang ditakuti semua orang saja ia berani, kenapa ia harus takut dengan cewek kurang ajar ini?


"Makasih atas semua pujian elo. Gue tersanjung. Tapi harusnya lo mikir dulu sebelum ngomong. Kira-kira ... lo tuh lagi nyindir, ato ngumbar aib sendiri," ucap Rana tanpa rasa takut.


Marsha, cewek yang berhadapan dengan Rana, sontak membulatkan matanya tak menyangka akan mendapatkan ungkit seperti itu.


"Lo nantang gue? Adek kelas aja bangga!" gertaknya dengan emosi yang mulai menggebu.


"Kenapa? Merasa tersindir? Atau emang kenyataannya gitu?"


"Kurang ajar ya lo!" hardik Marsha.


Praak!


Disusul suara tamparan yang tepat mengenai pipi Rana.


Rana yang ditampar belum memberi tanggapan, menyentuh pipi kirinya dan merasakan perih yang menggelayuti dimana-mana.


"Marsha!"


Prak!!


Satu tamparan lagi mengejutkan semua orang. Mendarat tepat di pipi Marsha.


"Raja?" ucap Marsha lirih tak menyangka.


"Sha, kalau lo mau ngebully orang, sebaiknya jangan dia. Dia temen gue. Kalau lo macem-macem lagi, lo berurusan sama gue," ucap Raja merangkul pundak Rana, sedang cewek itu hanya terdiam menatapi cowok yang merangkulnya.

__ADS_1


__ADS_2