The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Sama-sama Mengingkari


__ADS_3

Arka menatapi wanita berparas ayu itu dengan rasa bersalah. "Ma," ucapnya, tapi wanita itu hanya diam seribu kata, sembari membuka kotak P3K-nya.


Hening. Jangankan untuk meminta maaf, untuk bersuara lagi saja Arka tak berani. Perempuan yang biasanya ia kenal sebagai perempuan yang cerewet, kini seolah menjadi sosok yang berbeda. Wajahnya tanpa warna, matanya bengkak dan memerah, bibirnya pucat. Tapi betapapun begitu, wanita itu masih datang ke kamarnya untuk mengobati lukanya.


"Aku minta maaf, Ma," lirih Arka menundukkan kepalanya. Tak mampu menatap manik mata wanita itu. Arka tahu, Rana bukannya gadis biasa bagi wanita itu.


Sarah menghentikan pergerakannya. Iris matanya mengarah pada wajah remaja itu. Ingin rasanya ia mengomel, tapi bibirnya terasa kelu. Di tambah lagi wajah remaja itu sudah tak lagi gagah. Banyak sekali lebam dimana-mana. Membuatnya semakin tak tega.


Matanya semakin memanas, teringat bagaimana beringasnya remaja itu dihabisi oleh ayahnya tadi malam. Ia ingin melarang lebih keras lagi, tapi ia tak bisa. Arka juga sudah mengecewakannya.


Hening. Dalam kebungkamannya, air matanya menetas tanpa diketahui Arka.


Tok tok tok ....


Sarah segera menghapus air matanya, kemudian menoleh pada pintu ruangan itu. Sejenak kemudian, tanpa mengatakan sepatah kata, perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju asal suara.


Arka menegakkan kepalanya, mengikuti arah ke mana ibunya beranjak. Matanya sayu, dan ia bagaikan pelaku cabul yang habis digrebek oleh warga. Hancur semua.


Kreek ....

__ADS_1


"Halo, Tante!" sapa seorang gadis dengan senyum ramahnya. Melirik Arka sejenak dengan iris matanya.


Sarah terdiam. Tunggu, ia masih mengingat-ingat siapa gerangan gadis ini.


"Saya Ingga, Tante. Temennya Arka," ucap cewek itu, masih dengan senyum di bibirnya.


Sarah menghela napas, kemudian memalingkan wajahnya sontak. Wanita itu kemudian berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Ingga tanpa sepatah kata. Tidak membalas sapaan, atau juga mengiyakan.


Ditempatnya, Arka hanya bisa menghela napas gusar. Memandang Ingga tanpa ekspresi. "Sendiri?" tanya cowok itu, bersamaan dengan Ingga yang acuh tak acuh berjalan ke arahnya. Tahan banting dengan semua respon buruk yang diterimanya. Lagipula, ia bukan gadis lemah apalagi tertindas. Satu hal yang ia yakini, ia


dilahirkan sebagai pemenang di dunia ini.


Arka hanya tersenyum tipis.


"Sini, biar aku yang obatin." Cewek itu kemudian mengambil obat merah yang ada di atas nakas, mengoleskannya pada wajah Arka.


"Argh ... ssss ...," desis Arka menahan rasa sakitnya. Tapi tetap tak berkutik dengan posisinya.


"Kalau dari awal kamu gak berurusan sama cewek yang namanya Rana itu, pasti gak bakal kayak ...."

__ADS_1


"Bukan salah dia, Ingga," potong Arka, tanpa ekspresi apa-apa.


...💕...


Rana masih mengurung diri di dalam kamar saat Sarah kedua kalinya masuk ke dalam kamar anak itu. Ibu dua anak itu kemudian duduk dan mengelus rambut Rana.


"Ada temen kamu dateng, Ra. Suruh masuk aja, ya?" ucap Sarah.


Rana seketika menengok ke arah ibunya. "Temen?" tanya cewek itu. Teman yang mana? Ia sendiri tak tahu apakah ia masih memiliki seseorang yang bisa dianggapnya sebagai teman.


"Iya, Sayang .... Raja dateng, katanya mau jenguk kamu."


"Raja?" tanya Rana. Sudah berapa lama ia tak berkomunikasi dengan cowok itu. Tapi, justru cowok itulah yang datang di saat terburuknya seperti ini. Rena, Vira, bahkan Nada. Semua pergi, seolah tak pernah mengenalnya sebagai seorang sahabat.


"Iya, gak papa, dia masuk aja?" tanya Puspa lagi.


Rana berfikir sejenak. Ia teringat larangan Arka yang ditegaskan cowok itu untuk kesekian kalinya. Tapi, pentingkah ia memikirkan larangan Arka sementara Arka sendiri mengingkari janjinya? Tidak, Arka sendirilah yang melepaskannya. Maka setelah itu, terserah ia bagaimananya.


"Rana aja yang turun, Mami," ungkap cewek itu pada akhirnya. Menghadirkan senyum tipisnya, walau terkesan memaksa.

__ADS_1


__ADS_2