
Kreeek
Pintu terbuka, Bella segera membenahkan posisinya. Kepergok menguping oleh pak Kusma? Oh, tidaak! Mau ditaro dimana mukanya di depan bapak kepala sekolah itu.
"Ngapain lo? Nguping?" Rena menatap Bella nyalang.
Bella mengedarkan pandangan. Pak Kusma sedang di tempat duduknya, jadi tak akan mengikut campuri urusan mereka apalagi menghukumnya gara-gara sudah berani mencuri dengar seperti ini. Situasi aman.
"Iya." Bella menjawab tanpa rasa takut, "Kenapa? Lo takut, semua orang bakal tau, kalo lo dan temen-temen lo ini sampai nyuap Pak Kusma cuman gara-gara gak mau kena hukum?" tuduh Bella santai namun tajam.
"Woy, Kutu Kupret! Kalau ngomong jangan sembarangan!" Vira geram. Ingin rasanya ia membuang cewek tengik ini ke angkasa raya saja. Entah bagaimana caranya, dan dibuang di planet mana. Jangankan manusia, alien saja pasti tak mau satu tempat tinggal dengannya.
"Ups, oh iya ya, gak mungkin kalian semua nyuap. Nada mana punya uang buat begituan. Bisa sekolah disini aja udah untung-untungan."
"Kalo lo ngomong satu kata lagi, gue pastiin hidup lo gak bakal tenang mulai hari ini," ancam Rena tak terima Nada menjadi sasaran empuk bagi orang seperti Bella.
"Udah, Rey," ucap Nada lirih, menyentuh tangan Rena. Ia terluka dengan perkataan Bella barusan, tapi ia juga tak ingin teman-temannya sampai bertengkar hanya karena membelanya. Lagipula, ucapan Bella memang benar adanya.
Setelah hanya mengamati saja, akhirnya Rana tahu apa yang harus ia lakukan untuk menyumpal mulut cewek menyebalkan di hadapannya ini.
"Eh, ini Bella, kan?" tanya Rana tiba-tiba, pura-pura saja ia baru bisa mengingat siapa nama cewek itu.
Bella hanya mengernyit tak paham, masa iya Rana sudah tak ingat dengannya.
"Bella ... yang dulu mohon-mohon gue supaya nolak Firza, kan? Gimana lo sama dia? Udah pacaran?" tanya Rana tersenyum tanpa dosa.
Bella terdiam. Benar-benar masa lalu yang memalukan. Memohon-mohon pada Rana untuk menolak Firza agar cowok itu mau menerima cintanya. Tapi nyatanya tetap tak bisa. Jangankan menerima cintanya, meliriknya saja tidak.
"Ooow ... jadi kalian gak pacaran? Pantesan aja dia masih sering ngomen foto gue di IG," Rana semakin melancarkan aksinya. Puas sekali bisa membuat cewek ini tutup mulut tak dapat berkata-kata.
"Ya udah ya, Bel, kita duluan dulu," Rana mengedipkan matanya pada Vira.
__ADS_1
"Baay!" ucap Rana dan Vira bersamaan. Keempat cewek itu pun berlalu meninggalkan Bella dengan segenap rasa kesalnya.
"Pinter juga lu, Ra," Vira tersenyum puas.
"Hhh, kalau soal beginian sih gue masih pinter, tapi jangan tanya soal pelajaran ke gue, tanya aja sama Nada." Rana terkekeh. Melirik jahil pada Nada. Lebih baik mengaku bodoh, daripada diakui bodoh. Benar kan?
"Apaan sih, Ra." Nada tersenyum sembari mencubit pinggang Rana pelan.
"Hehehe."
"Kita ke ruang BK," Rena berucap lugas.
...💕...
Rana berlarian mencari ruang yang dimaksud pak Ikrom. Tak perlu berpura-pura feminim karena Rena sedang menjalankan tugasnya sendiri, begitupun teman-temannya yang lain. Lagipula koridor sekolah juga sedang sepi, jadi ia bisa leluasa bergerak sesuka hati.
Wah, bagus sekali. Baru pertama masuk sekolah sudah kena hukum begini. Mana ia tahu, ruang UKS ada dimana. Kata Vira sih, tak terlalu jauh dari ruang guru BK. Cukup lurus-lurus saja mengikuti koridor yang entah kemana arahnya. Huh, kenapa tak dibuatkan peta saja? Atau mungkin, sudah ada? Ah, entahlah, intinya ia harus segera ke ruangan itu dan membersihkannya secepat mungkin. Agar ia bisa segera masuk ke kelas barunya.
...💕...
"Iya Mal, thanks banget ya," Dio tersenyum dengan sedikit rasa bersalah. Gara-gara ulahnya yang tak tahu aturan, orang lain juga ikut kerepotan.
Mala segera membuka pintu dan keluar. Ia tentu tak perlu menunggu jawaban dari Arka. Cowok itu lebih banyak diam daripada bicara, juga kebih banyak merenung daripada tersenyum. Entahlah, setahunya hanya ada satu cewek yang bisa membuat Arka benar-benar tersenyum. Senyum yang penuh kebahagiaan, juga harapan. Dan cewek itu entah sekarang ada dimana.
"Udah, Ka, gue mau keluar aja. Bosen amat deh, gue disini," Dio bangun dari posisi berbaringnya.
"Yakin?"
"Yakiiin, udah baikan ini mah," mulai turun dari ranjang.
"Ya udah," ucap Arka singkat. kemudian membantu Dio berdiri serta memeganginya agar tak terjatuh. Bukannya berlebihan, hanya saja kalau misalnya Dio terjatuh, maka bisa-bisa temannya itu merengek lagi. Bahkan mungkin akan lebih parah dari pada saat sakit perut tadi. Ia hanya, malas menanggapi.
__ADS_1
Tok tok tok.
Dio spontan menoleh pada Arka.
"Mala kali, Ka, apa ada yang ketinggalan, ya?"
Arka membiarkan pertanyaaan Dio melayang ke udara. Tak perlu dijawab, mana tahu Arka apakah barang Mala ketinggalan atau tidak. Ia melepas pegangannya dari Dio. Si gendut itu sepertinya sudah benar-benar pulih. Sejurus kemudian tangan kanannya segera meraih gagang pintu, membuka pintu itu dan menariknya perlahan.
"Dio?! Masih inget gue, gak?" pekik seorang cewek kegirangan, membuat Arka mengernyit heran. Saat ini ia berada dibalik pintu, sehingga tak langsung melihat si cewek bersuara cempreng itu.
"Rana? Masih lah, lo sekolah disini?"
"Iya dong, gimana kabar lo?" tanya Rana. Sangking gemesnya pada cowok itu, ia sampai meninju perut Dio.
"Aw, sakit Ra," Dio segera memegang perutnya kesakitan, mulai terhuyung ke belakang.
"Lo gak papa, Yo?" Arka segera muncul dari balik pintu, menangkap tubuh Dio sigap.
"Eh, sorry sorry, Yo," Rana segera mendekat pada Dio. Mengusap-usap perut cowok itu merasa bersalah. Takut-takut bayi yang dikandung Dio bisa cacat atau keguguran gara-gara ulahnya.
"Elo?" Arka baru melihat cewek yang sejak tadi berbicara dengan Dio, tangannya spontan melepas pegangan dari Dio.
Bruak!
Dio terjatuh.
Rana menutupi mulutnya terkejut, matanya langsung membulat menatap cowok jakung di hadapannya. Tentu, tentu ia tak lupa pada cowok itu. Sudah pasti sekarang wajahnya jadi semerah tomat karena malu. "Elo?" ucapnya lirih, masih tak menyangka ternyata pertemuannya dengan cowok jakung jutek ini tak cuma sampai di hari itu.
Arka menatap tajam pada Rana. Benar-benar cewek pembawa sial. Baru dua kali bertemu, tapi selalu saja membuat orang kerepotan. Dosa apa sih, ia? Sampai-sampai dipertemukan dengan mahluk mungil seaneh ini.
"Ka, Ra, kalian gak kasian apa, sama gue?! Udah sakit perut, masiih aja dijatuhin gini," ucap Dio mendongakkan kepala, menatap Arka dan Rana bergantian.
__ADS_1