The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Misi


__ADS_3

Arus jalan yang cukup padat. Seorang cewek sedang menggeser menu hpnya di dalam sebuah mobil taksi yang sebenarnya agak canggung ia tumpangi. Bukan ia yang jual mahal, hanya saja sejak dulu ia memang terbiasa mengendarai mobil mewahnya sendiri. Tapi tak apalah. Toh, ia sendiri yang menyerahkan kunci mobil kesayangannya itu.


"Bakso Pak Somad kan, Neng?" tanya si sopir taksi pada Rena.


"Iya, Pak."


"Ini kita udah sampe."


Rena membuka jendela mobil taksi yang ia tumpangi. Sebuah warung bakso yang cukup ramai dengan sebuah spanduk bertuliskan "Baso Pak Somad" didepannya. Entah kenapa Andra mengajaknya bertemu di tempat seperti ini. Yang jelas, ia hanya mengikuti saja.


" Ya udah, Pak. Ini uangnya," ucap Rena setelah keluar dari mobil taksi. Menyodorkan uang senilai seratus ribu rupiah, kemudian berlalu saja memasuki warung bakso.


"Eh, Neng, kembaliannya!" Si supir taksi celingukan, kemudian menduga-duga berdasarkan penampilan si Eneng yang pasionabel. Pasti si Eneng orang kaya. Jadi pantas saja, tak butuh kembalian dari orang kecil macam dirinya.


Memasuki warung bakso itu, Rena kemudian duduk di salah satu bangku. Pandangannya menelusuri setiap pelanggan yang ada. Andra dimana sih? gerutunya dalam hati, kemudian meraih ponsel hendak menghubungi cowok itu.


Baru saja ia akan menekan tombol call, lambaian tangan seorang cowok tiba-tiba langsung menyita perhatiannya. Dari arah dapur warung bakso, tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya seraya berjalan ke arahnya.


"Sorry ya, Ren, gue malah nyuruh lo yang dateng ke sini. Emm ... ini gue lagi kerja. Bentar ya, kita ngobrolnya. Jangan disini. Gue izin dulu ama Bos gue," terang Andra to the Point. Kemudian, tanpa menunggu jawaban dari Rena, segera kembali ke tempat asal kemunculannya.


Rena yang tiba-tiba ditinggal lagi, hanya bisa diam menyimpulkan, owh, jadi Andra kerja sampingan disini.


Tak berselang lama, Andra segera kembali menghampiri Rena. "Yuk, Ren!" ajak cowok berkemeja kotak-kotak itu.


"Kemana?" tanya Rena, namun tak ragu bangkit dari duduknya.


"Intinya bukan disini," jawab Andra kemudian berjalan mendahului Rena Menuju tempat dimana motor kesayangannya terparkir anggun.


Rena yang kenyataannya memang tak akrab dengan cowok itu, hanya bisa berdiri diam mengamati Andra yang sedang berjuang mengeluarkan motor metik jadulnya dari parkiran.


"Loh, Ren, lo ngapa diem aje?" tanya Andra sudah mengendarai motornya. Berhenti di hadapan cewek yang ia ajak bicara.


Rena yang diajak bicara malah mengernyit, seraya mengamati kendaraan dihadapannya.


"Duh! Susah ya, ngomong sama orang kaya. Mana mobil lo?"


"Gue gak bawa mobil."


"Owh, ya udah, sama gue aja," tawar Andra menyodorkan helm pada Rena.


Alih-alih meraih helm yang disodorkan Andra, Rena justru mengamati penampilannya sedari bawah. Kalau dia nebeng dengan Andra, apa kabar dengan rok diatas lututnya?

__ADS_1


"Kenapa? Lo gak biasa, naik motor jadul kek gini?"


Mendengarkan pertanyaan Andra, Rena memalingkan wajah membuang napas malas. Haruskah ia menjelaskan permasalahannya pada cowok ini?


Melihat respon Rena yang begitu-begitu saja, Andra langsung turun dari kendaraannya dan berkata, "Ya udah deh, gua cariin lo taksi." Kemudian berlalu menuju tepian jalan.


Rena menghela napas lagi. Merutuki ketidakpekaan cowok yang bersamanya ini.


"Ndra, gue pinjem kemeja lo dong," ucap Rena berdiri di samping Andra.


"Ha?" Andra mengernyit tak paham.


Rena merengut. Malas mengulangi.


"Ya udah, nih," ucap Andra memberikan kemejanya pada Rena. Menyisakan kaus hitam bergambar tengkoraknya.


Rena menerima kemeja dari Andra. Sejurus kemudian, mengikatkan benda itu pada pinggangnya. "Yuk!" ajaknya berlalu menuju motor Andra.


Andra yang diajak, justru mengamati penampilan Rena dari atas hingga bawah. Kemudian menggaruk tengkuknya, merutuki kebodohan diri sendiri.


......................


"Lo kerja disitu, Ndra?" tanya Rena ketika keduanya sudah dalam perjalanan entah kemana.


Rena hanya tertunduk tak menanggapi.


"Yaa ... tapi gak kerja sepenuhnya sih. Itu warung bakso Pakde gua, jadi bisa izin-izin juga," jelas Andra kemudian membelokkan motornya ke halaman kecil sebuah rumah yang terlihat sederhana.


"Udah sampe kita, Ren," ucapnya kemudian memarkirkan motornya mulus.


"Rumah siapa ini, Ndra?" tanya Rena setelah turun dari motor Andra.


"Rumah gue. Yuk, masuk!" katanya, kemudian mendahului Rena memasuki rumahnya sendiri.


Tak berselang lama, kedua remaja itu sudah duduk di ruang tamu rumah sederhana itu.


"Jadi, gimana latar belakang kejadiannya, Ren?" tanya Andra mulai mewawancarai, dengan sebuah pulpen dan buku di hadapannya.


"Emm ...." Rena membenahkan rambut bergelombangnya. "Gue sih gak terlalu tau juga, Ndra. Soalnya Rana tuh, kadang gak nyeritain semuanya ke kita," ucapnya kemudian.


"No problem," Andra menegaskan.

__ADS_1


"Jadi ...." Dari bibir cewek itu, segala cerita pun keluar begitu saja. Tak ada yang dikurangi, tak ada pula yang ditambahi. Tak lupa ia selipkan juga opininya mengenai masalah ini.


"Hmm ... gua rasa kita harus nemuin Daniel deh. Kayaknya dia gak buruk-buruk amat," simpul Andra menutup buku pendataannya.


"Setuju!"


"Assalamu'alaikum!" uluk salam seorang bapak, langsung menyita perhatian mereka. Memasuki pintu rumah dengan sebuah tangki semprot di punggungnya.


"Waalaikumsalam, Pak." Andra langsung bangkit dari duduknya. Mencium tangan si bapak dan membantu melepaskan tangki dari punggung ayahnya itu.


"Tumben sudah pulang, Le?" tanya si Bapak sembari melemparkan senyum ramah pada tamu anaknya.


"Andra ada tugas, Pak, dari OSIS," jawab Andra.


"Owalah, jangan lupa disuguhi minum Mbaknya."


"Iya, Pak. Beres!"


"Mari, Mbak," ucap si Bapak kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu. Disusul Andra dari belakang dengan sebuah tangki semprot di tangannya. "Tunggu ya, Ren," ucapnya sebelum berlalu. Rena hanya manggut-manggut saja.


Ditinggal sendiri oleh Andra, Rena hanya diam termenung saja. Andai Andra tahu, bahwa hidupnya tak seindah apa yang ada dalam pandangan cowok itu, pasti ia akan menarik ucapannya kembali. Lagi pula, hidup sebagai Andra pasti lebih membahagiakan. Di dalam rumah sederhana dengan kedua orang tua yang penuh kasih sayang.


"Neng, diminum tehnya. Andra masih di dalam sebentar," ucap seorang ibu menyadarkan Rena dari lamunannya, dengan secangkir teh yang ia letakkan di meja ruang tamunya.


"Eh, iya, Bu," Rena tersenyum. "Terimakasih," ucapnya lagi.


"Iya, sama-sama. Kalau boleh tau, Neng siapa namanya?"


"Rena, Bu."


"Owalah Rena .... Cantik, kayak orangnya."


Rena tersenyum menanggapi.


"Neng Rena dekat toh, sama Andra? Baru kali ini dia ngajak cewek main ke rumah. Sampai izin kerja lagi."


"Eh, Ibuk! Duh, Ibuk masuk aja. Andra ini cuma ngerjain tugas kok." Andra tiba-tiba memasuki ruang tamu. Duduk di sebelah ibunya.


"Iya-iyaa ... Ibu nggak akan ganggu. Ya udah, Neng, Ibu masuk dulu," ucap wanita itu berdiri dari duduknya. Tersenyum menggoda pada anak remajanya. Kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu.


"Duh, Sorry ya, Ren. Yang diomongin nyokap gue jangan didengerin. Biasalah," ucap Andra malu sendiri.

__ADS_1


"Gak papa. Santai aja lah. Oh ya, nanti gue bakal atur supaya kita bisa bahas masalah ini ke Daniel."


__ADS_2