
"Halo, Ra?" sapa Arka dengan suara beratnya.
"Arka di mana?" tanya Rana to the point saja. Dadanya jadi dag dig dug menunggu jawaban dari cowok yang sedang ditelponnya.
"Di rumah temen."
Tut....
Rana segera mematikan saluran teleponnya. Ia kemudian beralih ke kontak Dio dan menghubunginya bergegas. Kalau saja Arka tak ada di sana, entah apa yang harus ia lakukan.
"Halo, Ra!" sapa Dio berlomba dengan deru musik karaoke yang bar-bar.
"Dio! Arka lagi di sana, gak?!" tanya Rana jadi ikut berteriak juga.
"Hah? Nggak nih. Gak ada dateng dari tadi.
"Di rumah! Tapi anak-anak pada di sini semua," jelas Dio sebelum Rana bertanya lagi.
"Owh ... gitu, ya." Rana lemas seketika. "Ya udah, Yo. Makasih."
Tut....
Rana mematikan saluran telepon nya. Gadis itu kemudian merubah posisi. Berbaring lemas di ranjangnya sembari mendekap ponsel miliknya.
__ADS_1
Ia menghela napas. Menimbang apa yang harus ia lakukan sekarang. Kalau tadi saat menonton Drakor ia gelisah, maka sekarang ia lebih gelisah lagi.
Arka bilang ... dia ke rumah temennya. Tapi kok, temen-temennya pada di rumah Dio? Huh ... temen yang mana lagi coba? Pasti Arka lagi ke rumah .... Ahh!
Rana segera mengetikkan dua buah pesan pada cowok yang saat ini benar-benar membuatnya gila.
Arkanya Rana 😘
^^^Anda^^^
^^^Ka, di rumah temen mana?^^^
^^^Ngapain?^^^
Secepat kilat. Kedua pesan itu langsung terkirim ke orang tujuan.
Semenit....
Dua menit....
Namun, sama sekali tak ada tanda-tanda respon dari Arka. Pesan belum dibaca padahal sudah masuk dari tadi.
Iya sih, gak online. Tapi kan, biasanya Arka cepet balesnya.
__ADS_1
Online! Akhirnya ..., seru Rana dalam hati tatkala mendapati sebuah kata tersemat di bawah nama kontak cowok itu. Sekarang, ia tinggal menunggu jawaban dari Arka.
Semenit....
Dua menit....
Rana memejamkan matanya. Merasakan sebuah perih yang mencabik-cabik ulu hatinya. Hanya menjawab pertanyaan sesimpel itu, ternyata Arka sampai tidak sempat, ya?
Gudul-gundul pacul-cul gemblengan....
Setelah sekian lama akhirnya benda pintar itu mengeluarkan suaranya juga. Sebuah panggilan dari seorang cowok yang sedari tadi ia tunggu-tunggu responnya.
...💕...
Di depan rumah Rana, seorang cowok sudah menunggu dengan posisi bersandar pada motornya KLX-nya. Pagi sudah datang, tapi ia masih terganggu dengan sesuatu yang baru ia ketahui tadi malam. Ditambah lagi, dengan kesensitivan Rana saat sedang PMS begini. Tak bisa dipungkiri, ia sendiri bingung untuk mengatasi.
Kreek....
Pada akhirnya pintu rumah itu terbuka juga. Memunculkan seorang cewek berseragam SMA di sana. Arka merubah posisinya, berdiri menyambut kedatangan Rana. Pupilnya semakin membesar mendapati Rana yang berpenampilan tak seperti biasanya.
Rana berdiri di ambang pintu. Cewek itu menatap Arka tanpa senyuman di bibirnya. Rambutnya yang biasanya di urai sempurna, kini diikat tak tersisa.
Biarin Arka nggak suka. Siapa suruh dia boong? batinnya terlalu polos. Kemudian berjalan menghampiri Arka dengan wajah tertekuknya.
__ADS_1
Arka yang disangka Rana akan tak suka dengan penampilannya, kini justru terkesima tanpa bisa berkata-kata. Dalam hati ia berjanji, tak akan melepaskan gadis ini sampai mati.
Berhenti tepat di hadapan Arka, Rana memandang lurus tanpa mau menatap mata cowok itu lagi. Dalam hati ia berdecak, ingin sekali memarahi Arka sekarang juga. Kenapa bohong? Kenapa dichat lama balesnya? Katanya ke rumah temen, tapi kok ... ah, sudahlah! Ia jadi ingin menangis kalau mengingat hal itu lagi.