
Dari lantai dua bangunan sekolah, gadis dengan penampilan berantakan itu memandang segala hal yang disajikan di bawah sana. Kantin yang tak pernah memiliki kata sepi. Lapangan yang seru dengan teriakan eksaited para gadis demi para cowok yang sedang bermain basket. Kerumpunan cewek dengan topiknya masing-masing. Ya, waktu istirahat memang waktu yang menyenangkan bagi semua orang, selain dirinya.
Pandangannya kemudian tertuju pada seorang cewek cantik yang duduk sendirian di bawah sana. Sibuk dengan buku di tangannya, seolah tak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang dengan canda tawa mereka. Ya, ia tahu, bukan hanya dirinya yang kesepian, Rana juga. Tapi gadis itu sepertinya lebih memilih untuk fokus pada ujian semester yang hanya tinggal hitungan hari.
Senyum miris tanpa sadar hinggap di bibirnya. Saat ini ia sedang jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi saat ia melihat gadis itu, rasa pengecut membuatnya semakin tercekik. Rana bisa bangkit di tengah-tengah titik terendah hidupnya. Bukan cuma kehilangan sahabat, tapi juga kehilangan sosok yang dicintainya.
Marsha menghela napas berat. Ingga memang sejahat itu.
Pandangannya beralih lagi pada seorang cowok yang selalu berhasil membuat gadis-gadis nyaris tak berpindah dari kursi penonton di lapangan terbuka itu. Marsha tahu, cowok itu tak pernah berniat untuk menyakiti Rana. Ada berjuta-juta cinta di dalam mata elang terdalamnya untuk Rana. Tapi dunia seolah tak menyetujui mereka, Ingga datang dan merusak segalanya.
Marsha tertunduk lesu. Sebenarnya, ia bukan pihak yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk kelangsungan mereka. Tapi ... bagaimana dengan dirinya?
__ADS_1
Di saat ia sedang geming menimbang keadaannya, tiba-tiba seseorang mendorong dirinya pada bagian tengkuknya.
"Aa!"
"Kenapa? Kaget, ya?" Ingga menelengkan kepalanya, membiarkan Marsha masih dalam posisinya yang mengkhawatirkan.
Tanpa kata, Marsha mencoba lepas dari cekalan cewek itu. Sejenak melirik pada orang-orang yang di bawa Ingga. Ya, dulu mereka adalah orang-nya.
Ingga terkekeh pelan. "Lemah amat jagoan sekolah," ucapnya dengan senyum miring.
"Lin, Sha, kalian gak bener-bener ninggalin gue, kan?" Marsha mengalihkan pandangannya pada teman-temannya. Harusnya mereka tak seketika langsung jadi begini.
__ADS_1
Shalisha dan Linda saling pandang.
"Marsha, buat apa kita bohongin lo?" Shalisha akhirnya angkat bicara. "Ngeprank buat perayaan ulang tahun? Jangan mimpi lah," lanjutnya.
Marsha terdiam di tempatnya. Benar, semuanya bulsh*t! Pertemanan dan keluarga, mana yang bisa ia percaya?
"Ya udah lah, gaes, kita cabut aja. Gak ada gunanya juga ngomong sama nih orang," ucap Ingga kemudian mulai melangkah pergi, diikuti oleh mereka yang sekarang sudah menjadi alat kekuasaannya di sekolah ini.
Marsha tertunduk, menarik napas dalam. Pandangannya kemudian tertuju lagi pada Rana di bawah sana. Seorang cowok sudah duduk di sebelahnya. Sedikit bersandar dan hanya menatapi Rana yang masih fokus dengan urusannya sendiri.
Kedua tangannya mengepal erat. Ia memang sudah tidak mempercayai sahabat, keluarga, juga pasangan. Tapi ia masih memiliki hutang pada seseorang yang harus di bayar. Setidaknya, ia harus menyelamatkan orang itu.
__ADS_1
Lo lupa, Ing, gak ada orang yang lebih tau lo kecuali gue. Gue tau semuanya.