
"Om," ujar Arka mencium punggung tangan pria di hadapannya. Kini, ia sedang berada di teras rumah pria itu.
"Apa kabar, Om?" tanyanya berbasa-basi.
"Kamu yang apa kabar, Ka. Kemana aja? Kok anak Om ke sini sendirian."
Arka tertawa kecil, Rana juga.
"Barusan Arka abis dari sana, Om. Gak tau kalau Rana mau ke sini. Tau gitu harusnya bareng aja," jelasnya dengan senyum mengembang.
"Hmm ... iya deh, iya. Ya udah, sekarang anterin Rana pulang. Sayang kan, kalau cantik-cantik begini harus naik taksi sendiri. Kayak jomblo aja." Darren merangkul pundak anaknya.
"Papi ...," sungut Rana. Papi pasti sedang menyindirnya, sebab ia habis curhat dengan pria itu mengenai Arka yang tak kunjung menembaknya.
Usai berpamitan dengan ayah Rana, Arka dan Rana berjalan beriringan menuju motor Arka yang terparkir di pelataran rumah Dio. Ya iyalah di rumah Dio. Kan, tadinya cowok itu sedang main ke rumah Dio.
Rana mendongak pada Arka saat merasakan telapak tangannya digenggam oleh cowok itu.
"Kenapa gak bilang kalau mau ke rumah Papi?" tanya cowok itu sedikit menundukkan pandangan pada cewek di sampingnya. "... Kan bisa aku anterin. Sekalian ke rumah Dio."
"Kasian kamunya. Kan, abis jadi guru privat-nya aku."
Arka menghela nafasnya, kemudian merangkul bahu Rana lebih dekat ke arahnya. "Mana ada cowok yang ngerasa direpotin sama ceweknya sendiri."
"Kan Arka belum jadi pacar Rana beneran," ucap Rana mengingatkan Arka lagi, tapi senyumnya tetap mengembang sebab ia tahu pasti besok adalah hari H-nya. Besok malam Arka akan menembaknya!
"Belum, tapi besok pasti. Dan selamanya bakal jadi punya Rana beneran." Arka menyunggingkan senyumnya pada Rana.
"Janji?" Rana menyodok jari kelingking mungil miliknya.
"Janji." Arka mengaitkan jemari mungil itu dengan kelingkingnya, sembari meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak mungkin mengingkari janji ini.
...💕...
"Pak Budi ke mana, Ra?" tanya Arka usai turun dari motornya dan beranjak membuka gerbang rumah Rana.
__ADS_1
"Lagi nganterin Dhira les, katanya." Rana melepas helmnya, kemudian menyempatkan diri merapikan rambutnya.
"Mami sama Papa kamu ada?" tanya Arka lagi.
"Emm ...." Rana merogoh saku dan menemukan ponselnya di sana. ".... Lagi gak ada. Mami bilang lagi belanja ditemenin sama Bibi," jelas Rana kemudian menghela nafas.
"Mau ditemenin?" tawar Arka hendak melepas helmnya.
"Boleh!" jawab Rana antusias. "Tapi jangan belajar lagi, ya?" pintanya kemudian.
"Kenapa? Bosen?" Arka menyipitkan matanya tapi tetap tersenyum.
Rana menggandeng lengan Arka dan membawanya masuk ke rumahnya. "Kita nonton drakor yuk, Ka! Rana pusing tau, mikirin ujian mulu."
"Ya udah, tapi entar malem jangan lupa belajar, ya." Arka menurut saja dengan langkah Rana yang membawanya ke ruang keluarga. Ia kemudian duduk di salah satu sofa panjang, sedang Rana justru pergi menaiki tangga entah mau ke mana.
......................
"Iiiih ... Arka kok malah nonton Tv, sih!" sungut Rana menuruni tangga dengan sebuah benda bernama laptop yang dibawanya. Cewek itu kemudian duduk di sebelah Arka.
"Iiih ... bukan gitu konsepnya, Arkaa ....." Rana merebut remot dari tangan Arka, dan tanpa basa-basi lagi segera menekan tombol power benda itu. Mematikan televisi tanpa persetujuan dari Arka.
"Raa ...." Arka memasang wajah memelasnya.
"No no no!" Rana menggeleng-geleng. Tak luluh sedikit pun. "Kamu harus dikasih asupan, biar bisa belajar lebih sosweet lagi," ucap gadis itu kemudian menyalakan laptop dan memutar sebuah drama yang baru saja dirilis dalam waktu dekat ini, dan ia sangat suka.
"Aku juga harus nonton?" tanya Arka menunjuk dirinya sendiri, sembari menatap ngeri pada layar laptop Rana yang diletakkan di atas meja. Masa cowok nonton drakor, sih!
"Of course, Arka." Rana nyengir pada Arka, kemudian mulai memfokuskan diri menonton layar di hadapannya.
Arka terdiam.
"Ya udah kalau gitu," ucapnya kemudian, seraya menaikkan kedua kakinya ke sofa dan tanpa aba-aba langsung menaruh kepalanya pada pangkuan Rana.
Rana dibuat berhenti bernafas seketika. Lambungnya rasanya naik-turun, gonjang-ganjing, mulas sekali. Sedekat ini, mana mungkin ia bisa menonton dengan leluasa. Ia kemudian memberanikan diri menatap ke bawah. Matanya langsung terpaku dengan mata Arka yang ternyata sejak tadi memandangi wajahnya. Pipinya merona.
__ADS_1
"Aku nonton kamu aja, Ra. Rasanya lebih adem ke ati," ucap cowok itu tersenyum jahil. Suka sekali melihat wajah Rana yang sudah memerah tak keruan.
Rana buru-buru memalingkan wajahnya.
"Ra, aku pengen kamu janji satu hal sama aku," ujar Arka mengambil tangan Rana dan menaruhnya di pipinya. Mengelus jemari mungil itu. Ia tiba-tiba teringat dengan perbincangannya dengan Dio tadi.
Rana memalingkan wajah lagi pada Arka. Matanya seolah sedang mengisyaratkan tanda tanya.
"Apapun yang terjadi dengan kita nantinya, jangan pernah ya, kamu pacaran sama Raja," ucapnya menatap dalam manik mata Rana. Ada kesungguhan dalam setiap kata yang diucapkannya.
Rana mengernyit tak mengerti. "Arka ngomong apa, sih?" Gadis itu kemudian tertawa kecil. "Kan ada Arka. Ngapain juga Rana sama Raja? Arka tau sendiri kan, Rana udah bener-bener jauhin dia?"
"Tetep aja, Rana harus janji. Gak ada yang tau kedepannya kita bakal gimana. Sama yang lain boleh, tapi sama Raja ...."
"Arka," Rana memotong ucapan cowok itu. ".... Arka mau ninggalin Rana?" tanya cewek itu, tentu dibuat cemas dengan Arka yang tiba-tiba berucap seperti ini.
"Bukan gitu, Ra." Arka mengalihkan tangan Rana pada dada bidangnya. Pada dentuman jantung yang berdetak begitu cepatnya. Selalu seperti itu ketika berada di dekat Rana. Tapi baru saja ia mau berkata, Rana sudah menyelanya duluan.
"Arka gak lagi sakit jantung, kan? Atau kanker?" tanyanya benar-benar ngawur.
Mau tak mau, Arka tertawa juga dibuatnya. "Kayak film aja, Ra," ucapnya kemudian tertawa kecil lagi.
"Abisnya Arka ngomongnya nglantur. Kayak surat wasiat tau gak? Rana kan masih pengen jadi istri Arka. Punya anak tiga; yang pertama cowok, yang ke-dua cewek, terus yang ke-tiga cowok lagi."
Arka tertawa lepas. Membuat senyum Rana terbit kembali.
"Iya, Arka juga mau," ucapnya selepas tertawa. "Tapi pengennya sekalian lima. Hahaha,,, Oh ya, kenapa yang cewek cuma satu? Entar yang mirip kamu cuma satu, dong."
"Emm ...." Rana sedikit berfikir. "Soalnya biar bisa dilindungi sama kakak dan adiknya," jelasnya. "Eh, tapi kok yang mirip aku cuma satu. Gak bisa ya, anak cowok mirip mamanya?"
"Bisa sih ... tapi jangan. Entar kasian dia nya." Arka memasang tampang berfikir kerasnya.
"Kenapa? Emang aku jelek banget ya, Ka?" tanya Rana mengerucutkan bibir sebal sekali. Perasaan, semua orang bilang dirinya cantik, deh ....
"Kamu terlalu pendek. Mana ada cewek yang doyan sama cowok cebol."
__ADS_1
"Arkaa!!" pekik Rana sembari memukuli dada Arka bertubi-tubi. Sebal sekali.