
"Sendiri, seringnya sih gitu."
"Sendiri? Gak punya temen lo, ya?"
"Ada lah, emangnya gue keliatan kayak anak culun, ya?" Bibir Rena sedikit mengerucut.
"Hhh, enggak sih. Terus, kenapa gak sama temen-temen lo?"
"Hmm ... yang satunya pecinta drakor, kalau hari Minggu biasanya dia mode kebut seharian, yang satunya anak berbakti, kalau hari Minggu lebih milih bantu-bantuin orang tua, dan yang satunya lagi hari Minggu udah ada jadwal ke salon kecantikan."
Raja terkekeh, "Temen-temen lo kayaknya seru deh. Lengkap banget, kayak emang udah sepaket."
"Emang sepaket, kok. Temenannya udah dari kecil soalnya."
Raja terdiam, ia tiba-tiba teringat dengan seseorang, teman dari kecil, sepaket, dan saling melengkapi juga.
"Kalau pacar?" cowok itu kemudian mengubah topik, tak mau terus-terusan membahas perihal pertemanan dan persahabatan.
Rena tersenyum tipis, "Gak ada."
"Masa? Gak percaya gue." Dahi Raja mengernyit.
"Jangankan pacar, temen deket cowok aja gak ada," kekeh Rena.
"Wiih ... berarti gue beruntung dong, Ren."
"Beruntung kenapa?" tanya Rena langsung menoleh pada si lawan bicara.
"Bisa deket, sampai joging gini bareng lo." cowok itu menampilkan senyum terlebarnya.
"Eh, emang kita deket?" sangkal Rena dengan bertanya, padahal hatinya sudah senang bukan main saat ini. Ternyata, cowok ini mengakui kedekatan mereka.
"Yah ... Rena gak asik ah! Gue ngambek aja deh," kata Raja berpura-pura merajuk dengan menghentikan langkahnya.
Mencoba terlihat tak peduli, Rena terus berlari sembari menahan tawa. Ahh ... nyaman sekali berdekatan dengan cowok ini.
Tapi tentunya ia tak benar-benar meninggalkan Raja, setelah agak jauh ia berbalik juga menghampiri cowok itu.
"Iya deh, kita deket," ucap Rena kemudian menarik tangan cowok itu, mengajaknya berlari lagi.
"Naah ... gitu dong, hehehe," kekeh Raja kemudian mulai berlari lagi.
"Oh ya, kapan lo mulai ke sekolah, Ja?"
"Masih males gue, Ren."
__ADS_1
"Kok gitu sih, sayang tau."
"Sayang kenapa?" tanya Raja memincingkan mata melirik cewek di sebelahnya.
"Ya ... sayang aja," jawab Rena asal.
"Cieee! Yang udah sayang sama gue," Raja tersenyum jahil.
"Ih, apaan sih!" Rena langsung meninju lengan cowok itu, kemudian agak mempercepat larinya. Sial! pipinya mulai memanas, semoga saja Raja tak menyadari bahwa ia sudah salah tingkah tak terkira.
"Emm ... entar deh, gue pikir-pikir lagi," ungkap Raja setelah mengimbangi lari Rena.
"Nah, gitu dong. Kabarin gue, ya."
"Siip, gampang itu mah."
💕
Dapur rumah Nada
Tek tek tek tek ....
Dengan lincah Nada memotong-motong buah-buahan hingga berukuran dadu kecil. Maklum saja, ia tentu sudah terbiasa.
Hari minggu yang cerah ini, akan ia manfaatkan untuk menjadi anak yang berbakti. Buah-buahan yang ia potong ini nantinya akan dibuat campuran minuman es campur dan dijual di teras rumahnya.
Saat hari-hari sekolah ia biasanya tak terlalu banyak membantu, ibunya selalu menyuruh agar ia fokus belajar dulu. Jadi, di hari minggu inilah kesempatannya membantu supaya ibunya bisa beristirahat sejenak dari rutinitas kerja yang tak ada habisnya ini.
"Dor!!" Raden datang, mengagetkan Nada dari belakang.
Nada agak terkesiap, untung saja ia tak terjungkal gara-gara ulah nakal adiknya ini.
"Ndak ada kerjaan apa kamu, Den? Pagi-pagi sudah usil saja."
"Jangan marah-marah lah, Mbak, nanti ayunya hilang loh." Raden duduk di depan Nada, suka sekali mengganggu kakaknya yang selalu sibuk belajar ini.
"Biarin!"
"Sekarang biarin-biarin, nanti kalau sudah ndak laku-laku baru bingung mau nikah sama siapa. Dijodohkan sama Pak Tua Joko baru tahu rasa!" Pak Tua Joko adalah duda kaya raya yang masih sibuk mencari istri padahal umurnya sudah tak muda lagi.
"Ngawur, kamu!" kata Nada sebal sembari menjejalkan buah papaya ke mulut Raden.
"Wah! Makasih loh, Mbak Yuuu ... enak sekali, aku diam-diam dikasih papaya, ini namanya rejeki nomplok," seloroh Raden kemudian melahap habis papaya yang dijejalkan kakaknya itu.
"Udah, lah! Mbak mau ke depan dulu. Mandi sana! Baumu sudah menyengat dimana-mana nih."
__ADS_1
Raden seketika menciumi keteknya kiri-kanan bergantian. "Harum tuh, Mbak, orang kemarin pagi Raden udah mandi kok," prenges Raden menyangkal saja, padahal dalam hati ia menyetujui perkataan Mbaknya.
"Dasar jorok!" Nada kemudian berlalu meninggalkan adiknya. Habis ini, masih banyak yang harus ia kerjakan, biasanya para tetangga akan langsung berdatangan setelah ia memajang dagangannya. Tak hanya es campur, ada cendol dan kue-kue buatan sendiri yang siap ia jual hari ini.
...💕...
"Makasih ya, Za, udah mau nemenin gue hari ini," ujar Vira tersenyum manis pada cowok di sampingnya, cowok itu tengah duduk di kursi kemudi.
"Gue yang makasih karena lo mau ditemenin sama gue." Reza menatap Vira hangat. Ahh ... lihatlah cewek ini, menyenangkan sekali bisa berada di sampingnya begini.
"Bisa aja, Za," Vira terkekeh, "Oh ya, lo sekolah dimana? Gue sampai lupa mau nanya," tanya Vira, dalam hati puas sekali, baru pertama kenal saat hendak ke salon tadi tiba-tiba sudah ditemani dan diajak jalan begini. Tajir pula, buktinya sudah berani membayarkan semua kebutuhannya hari ini, sampai mampir shoping segala lagi. Tapi ya gitu, buaya ketemu buaya. So, nikmatin ajalah.
"SMK Karya Nusantara. Lo di SMA Tunas Bangsa kan?" Reza balik bertanya.
"Ooo ... SMK Karya Nusantara. Eh kok lo tau, gue sekolah dimana."
"Ya iyalah, gue mah udah folow lo dari lama, lo nya aja yang gak follback, padahal udah gue DM."
"Loh, masa sih? Entar gue follback deh."
"Beneran loh, ya? Entar lo lupa lagi."
"Enggaaak ... ingatan gue tajem kok. Eh, gue balik nih, ya. Mau mampir?" Vira beramah-tamah. Hanya beramah-tamah sih, bisa-bisa ia kena ceramah kalau saja cowok ini benar-benar menyanggupi tawarannya.
"Emm ... enggak dulu deh, kapan-kapan aja kalau kita jalan lagi." Reza kemudian terkekeh, mana berani ia mampir, sejauh penelusurannya ayah Vira ini galak dan tidak suka kalau ada cowok yang main kerumahnya apalagi kalau cowok itu baru kenal dan sudah berani mengajak jalan anaknya. Bisa barabe.
"Yah ... oke deh. Kalau gitu gue turun dulu, ya. Makasih banget untuk hari ini, Za," ucap Vira pura-pura terlihat kecewa. Padahal, hatinya sudah lega bukan kepalang.
"Are you welcome."
"Bye, Zaaa" ujar Vira setelah turun dari mobil.
"See you, Vir. Entar bales chat gue loh, ya."
Vira tersenyum sembari manggut-manggut saja, kemudian melambaikan tangan.
"Tuh kan, rezeki emang gak kemana," kata Vira setelah Reza melesat meninggalkan rumahnya.
"Siapa itu, Non? Pacar baru?" Mang Ono langsung saja memulai aksinya, kepo unfaedah, "Rezeki apa, Non? Baru dapet arisan, ya?" tanyanya lagi.
"Temen, Maang ... baru aja kenal," Vira terkekeh, "Iya nih, Mang, Vira baru dapet arisan. Oh ya, Mang, ini buat istrinya Mamang," ujar Vira sembari menyodorkan sebuah paper bag, sedang di tangan kanannya masih ada beberapa paper bag dengan lebel harga yang tak main-main.
Mang Ono girang, langsung saja menerima apa yang diberikan oleh anak majikannya itu.
"Makasih banget loh, Non. Pasti seneng banget ini istri mamang. Aduuuh, Non Vira teh emang gelis pisan," puji Mang Ono senang sekali.
__ADS_1
Vira tersenyum ikut senang, tapi tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan gerbang rumah di sebelah rumahnya. Vira spontan menoleh, dadanya tiba-tiba berdebar tak keruan, sudah lama penghuni rumah itu tak pulang. Ah! Sial! Kenapa ia jadi begini? Orang seperti itu tak layak untuk dinantikan.